Ketika TNI Turun di Operasi Militer Bukan Perang

Ketika relawan ‘biasa’ tidak bisa menembus lokasi-lokasi sulit, TNI yang turun tangan. Mereka tidak saja membantu korban, tetapi sekaligus turun untuk rehabilitasi pasca bencana. Termasuk erupsi Gunung Kelud. Anggota TNI itu, bahkan tetap berada di lokasi, hingga kondisinya betul-betul aman.

Jumat (21/2) sore lalu, cuaca mendung diiringi rintikan air hujan. Air yang jatuh itu, membuat abu vulkanik, yang disemburkan sang Kelud, membuat semakin sulit dihilangkan. Terutama dari atap rumah.
Sejumlah anggota TNI, berpakaian doreng, terlihat terus melakukan pembersihan di sejumlah rumah warga. Mereka mempercepat pemasangan terpal, untuk melapisi genting rumah warga, yang berlubang terkena batu dari letusan Gunung Kelud.
‘’Tarik. Sing iku durung pas,’’ teriak salah satu anggota TNI, menunjuk ke arah ujung terpal sebelah kanan. Sesaat kemudian, mereka pun turun, setelah terpal warna biru tersebut terpasang dan terikat dengan kencang.
‘’Sementara memang harus memakai terpal, untuk menahan agar tidak kemasukan air kalau hujan. Atau jika ada erupsi susulan,’’ kata Pratu Agus Yunanto, salah satu anggota TNI.
Agus yang merupakan anggota Divisi 2 Kostrad Singosari ini menceritakan, dia dan teman-temannya, ditugaskan sejak Kamis (13/2) malam lalu. Meskipun bukan kali pertama mendapatkan tugas Operasi Militer Bukan Perang (OMBP), namun melihat dampak erupsi Kelud, dia mengaku sangat miris.
‘’Ketika mendapat tugas, langsung saja kami berangkat. Saat itu kondisinya masih sangat mencekam. Cuaca gelap, karena PLN memilih memadamkan listrik. Sementara warga, kondisi mereka sangat kacau. Hampir seluruh tubuhnya dibalut abu. Tidak sedikit dari mereka yang batuk-batuk akibat menghirup abu vulkanik,’’ katanya.
Tangisan dan ketakutan anak-anak dan perempuan, membuat situasi makin mencekam. Melihat kondisi tersebut, anggota TNI inipun langsung jemput bola. Bersama tim SAR dan relawan lainnya, mereka mengevakuasi warga, untuk dibawa ke tempat yang aman atau area-area pengungsian.
Meski ketika itu, banyak juga warga yang dengan kesadarannya sendiri, mengungsi. Tapi tidak sedikit warga yang tetap memilih tinggal. Disinilah peran relawan, termasuk TNI, membujuk warga yang tidak mau dievakuasi ini, agar ikut ke pengungsian. Dia pun bersyukur, karena saat itu banyak warga yang memilih aman, dan meninggalkan rumahnya.
Evakuasi berlanjut hingga pagi hari. Terutama di kawasan-kawasan berbahaya. Anggota TNI menyusuri seluruh rumah dan pemukiman warga. Tidak sedikit dari mereka, yang menemukan warga tetap di zona bahaya. Ada yang karena fisiknya tidak memungkinkan untuk mengungsi. Ada pula yang dengan alasan lain.
Anggota TNI itu, tidak jarang harus menggendong dan menandu para korban. Umumnya, mereka yang digendong adalah orang tua, yang tidak mampu berjalan. Sedangkan warga yang mampu berjalan,  diminta naik kendaraan. Evakuasi korban ini, berlangsung hingga tiga hari.
Tetapi begitu, bukan berarti pekerjaan mereka selesai. Pekerjaan lebih berat, justru setelah proses evakuasi dilakukan. Itu karena mereka harus melakukan pembersihan di areal fasilitas umum. Terutama jalan.  
Menggunakan sekrop kecil, cangkul dan sapu, anggota TNI ini melakukan pembersihan jalan Bendungan Selorejo. Agar tidak berantakan, pasir-pasir muntahan sang Kelud ini, langsung dimasukkan karung.
Tak pelak, sepanjang jalan Bendungan Selorejo pun, di tepi kiri dan kanan, terlihat karung-karung pasir yang cukup banyak. Sementara para relawan lain, juga sibuk mengurus para pengungsi. Mulai dari makanan dan kebutuhan lainnya. Keterlibatan TNI di dapur umum, juga menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan pengungsi.
Tetapi layaknya pengungsi, selama 10 hari bertugas, mereka juga sempat bosan. Jika pengungi mendapat hiburan, mulai dari fasilitas karaoke, berkunjung ke tempat wisata, atau mendapatkan hiburan lain, anggota TNI dan para relawan di Desa Banturetno, Ngantang memilih yang berbeda. Mereka bermain bola.
‘’Sebelumnya, kami juga melakukan pembersihan di Desa Pandansari. Terutama fasilitas umum seperti masjid, sekolahan perkantoran, serta jalan-jalan. Karena fasilitas umum ini biasanya terlupakan. Warga sibuk membersihkan rumahnya masing-masing. Tapi karena cuacanya mendung, sekaligus mengantisipasi datangnya lahar dingin, kami memilih untuk kembali ke posko. Sambil nunggu, main bola dulu,’’ katanya.  
Aksi para relawan yang bermain bola di halaman SDN 1 Banturetno ini, tentu mengundang perhatian warga. Mereka pun berbondong-bondong melihat. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian ikut.
Pertandingan sepak bola ini pun seru, karena masing-masing  tim juga didukung para supporter. ‘’Beginilah kami jika tidak ada kegiatan. Mencari keringat,’’ tandas pria yang tinggal di Asrama Divisi 2 Kostrad ini. (ira ravika)