Mereka yang Bekerja untuk Sukses Pemilihan Legislatif

PEKERJAAN mereka terkesan sepele. Tapi sebenarnya sangat vital. Di tangan cekatan merekalah, surat suara dilipat rapi dan aman untuk digunakan saat coblosan, 9 April mendatang. Itulah buah tangan ratusan relawan pelipat surat suara di kantor KPU Kota Malang. Kendati mengintimi surat suara, tapi mereka tak tahu sepenuhnya, tulisan dan wajah yang terpampang dalam surat suara.

Tangan ratusan orang relawan pelipat surat suara, tak henti bergerak. Seperti menari tanpa irama. Mereka melipat surat suara, dalam hening, di lobi kantor KPU Kota Malang di Jalan Bantaran. Hanya suara lembaran kertas bergesek, yang terdengar di ruangan kantor penyelenggara pemilu itu.
‘’DPD….? Ohh… Dewan Perwakilan Daerah, ya. Saya tidak tahu, he he he,’’ ucap Hadi Winarto, salah seorang pelipat surat suara calon anggota DPD RI, sembari membaca tulisan DPD di bagian depan surat suara yang dilipatnya.
Saat membaca surat suara itulah, baru Hadi sedikit paham. Secara jujur, dia tidak tahu tentang DPD. ‘’Saya tidak tahu, tugas DPD itu apa. Tidak ada (calon DPD) yang saya kenal. Saya tidak tahu karena tidak baca lembaran surat suara,’’ sambung pria kelahiran 1975 ini.
Sudah dua hari ini, Hadi yang sehari-hari  berjualan makanan di sekolah-sekolah itu, banting setir. Ia memilih menjadi relawan pelipat suara. Kendati mendapat insentif melipat surat suara, menurut Hadi, nomimal bukanlah hal yang utama. Ia ingin berpartisipasi menyukseskan pemilu.
Melipat surat suara, bukan pekerjaan mudah. Walau tampak sederhana. Butuh kecakapan khusus. Terdapat aturan tertentu untuk melipat surat suara.
Seperti, setiap lembaran surat suara, harus dilipat dalam empat lipatan.
Bentuk lipatan surat suara, sekaligus memudahkan pencoblos saat mengambil, lalu membuka surat suara saat berada dalam bilik suara di TPS.
Melipat surat suara, juga tak asal-asalan. Harus rapi, teliti dan jangan sampai surat suara rusak, di tangan para pelipat. Mereka diawasi komisioner dan petugas KPU dalam menjalankan tugasnya itu.
‘’Harus teliti. Jangan sampai surat suara rusak dan tetap rapi. Kemudian harus dihitung ulang,’’ kata  Hadi. Waktu yang dibutuhkan pun sudah ditentukan. Yakni antara 10 sampai 15 detik untuk melipat selembar surat suara.
Saat ini, terdapat sekitar 150 orang relawan. Kadang jumlahnya berkurang menjadi 112 orang. Satu dos surat suara (berisi sekitar lebih dari 700 surat suara), yang dilipat, dihargai Rp 50 ribu/orang.
Kendati tahun ini merupakan pengalaman pertama melipat surat suara, namun menyenangkan bagi Hadi. Ia juga mengajak seorang temannya yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan.
Hadi tidak sendirian. Ada sejumlah warga sekitar kantor KPU, ikut berpartisipasi melipat surat suara. Suwati, misalnya. Dia sudah cukup berpengalaman. Warga Kedawung ini, ikut membantu sebagai pelipat surat suara pada pemilu lima tahun lalu.
‘’Saya biasa ikut lipat surat suara, menjelang pemilu. Lumayan buat isi waktu,’’ kata penjual sayur ini. Kendati wanita berusia 48 tahun ini melipat surat suara di KPU sejak tiga hari lalu, Suwati tak mengenal satu pun calon anggota DPD RI, asal Jatim, yang terdapat dalam surat suara.
‘’Oh iya, itu ada satu yang  artis, ya. Saya tidak begitu tahu siapa saja calon DPD. Soalnya saya tidak lihat, tidak baca. Pokoknya langsung lipat aja,’’ katanya.  
Sulaeman, juga punya pengalaman serupa. Pria 32 tahun ini hanya niat berpartisipasi melipat surat suara, disaat tempat kerjanya sedang tak beroperasi. ‘’Dari pada nganggur, mendingan lipat surat suara,’’ kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai petugas pencuci motor ini.
Karena pengalaman pertama, Sulaeman merasa harus berlatih dulu sebelum ikut melipat surat suara. Tapi ia tak membutuhkan waktu lama untuk melipat lembaran penentu nasib para calon anggota DPD itu.
‘’Saya belajar dari teman disini. Saya lihat, terus mulai lipat,’’ kata Sulaeman yang cekatan melipat surat suara.  Ia tak menghitung berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk melipat satu lembar surat suara. ‘’Pokoknya 100 lembar surat suara butuh waktu 45 menit,’’ terangnya.
Sulaeman, Ulifah, Popy Okta dan pelipat surat suara lainnya yang ditemui Malang Post, juga mengaku tak hafal siapa saja calon anggota DPD RI asal Jatim. Walau setiap hari, melipat surat suara calon anggota DPD RI. ‘’Tidak ada yang saya kenal,’’ ucap Popy Okta.
Komisioner KPU Kota Malang, Rusmifahrizal Rustam SH mengatakan,  proses pelipatan semua surat suara, melibatkan warga sekitar kantor KPU. Mulai dari surat suara calon DPD RI asal Jatim, DPR RI, DPRD Jatim dan DPRD Kota Malang.  
Para relawan itu, diawasi oleh 20 petugas sekretariat KPU dan para komisioner KPU. Petugas Panwaslu pun memantau. Sedangkan sejumlah anggota polisi, bersiaga di kantor KPU yang menjadi lokasi melipat surat suara.
‘’Sebelum melipat surat suara, kami melakukan simulasi pelipatan. Tujuannya untuk mengukur berapa banyak waktu yang dibutuhkan dalam melipat surat suara,’’ terang Rusmi.
Tak hanya sekadar melipat, tapi mereka juga ikut mensortir. Yakni memeriksa kondisi surat suara. Jika menemukan surat suara rusak langsung dilaporkan.
Saat ini para relawan itu telah menyelesaikan proses melipat surat suara calon anggota DPD RI asal Jatim. Jumlah lembaran surat suara yang dilipat, sebanyak 620.033 lembar. Jumlah daftar pemilih tetap (DPT) Kota Malang yang akan menggunakan surat suara saat coblosan sebanyak 604.910.
Kini mereka harus bergelut lagi dengan surat suara calon DPR RI dan DPRD Jatim. 618.503 lembaran surat suara calon anggota DPR RI yang tersimpan dalam 619 kemasan. Setiap kemasan yang  berisi 1.000 lembar surat suara itu, dilipat dengan sistem atau standar baku. Yakni memeriksa atau sortir surat suara, melipat, menghitung ulang dan mengemas dalam kemasan. (vandri battu)