Sang Penerus Maestro Topeng yang Duta Wisata Batu

SIAPA yang tidak kenal dengan Mbah Karimun, sang maestro topeng asal Pakisaji Kabupaten Malang. Mbah Karimun, ternyata memiliki penerus untuk mengembangkan dunia pertopengan. Yakni Suroso, cucunya. Dialah yang  kini  menjelma sebagai Duta Wisata Kota Batu dan Malang untuk berbagai even internasional.

Badannya sedikit tambun. Kulitnya agak hitam. Sekilas, dia juga sama seperti staf atau pejabat Dinas Pariwisata Kota Batu lainya. Namun dari sisi pengalaman, itu yang membuat beda dengan teman sejawatnya.
Suroso, cucu Mbah Karimun ini, sekarang menjabat sebagai Kepala Seksi Peran Serta Masyarakat Bidang Pengembangan SDM Dinas Pariwisata Kota Batu.
Kepiawaian dalam seni, membuatnya memiliki pengalaman berharga. Kiprahnya mempromosikan seni Indonesia di luar negeri, sudah tidak bisa dihitung jari. Mulai negara-negara di Asia Tenggara, hingga Eropa pernah disinggahi.
Dia memiliki kesempatan keliling dunia, karena bertalenta tinggi pada bidan seni. Dia adalah penari topeng khas Malangan, penata tari, penata musik, hingga seorang sutradara ludruk.
Semua ilmu itu, didapatkan dari kakeknya, Mbah Karimun. Banyak orang memanggil dia sebagai titisan sang maestro topeng Malangan itu.
‘’Kakek yang mengajari saya tentang seni. Baik menari topeng, atau seni lain. Selain itu, ada juga guru lain yang memperkaya ilmu seni itu,’’ ungkap Suroso kepada Malang Post.
Pria kelahiran Malang, 8 November 1971 ini, sudah malang melintang dalam pentas seni di luar negeri, sejak tahun 1990 lalu. Pada tahun 1993, Ketua Biro Tari Dewan Kesenian Kabupaten Malang ini, sudah tampil dalam sebuah pentas tari di Jepang. Tahun 2000, dia tampil di Museum Laden Belanda dalam sebuah pentas seni tari.
‘’Tujuan utama saat tampil di luar negeri, adalah mengenalkan keanekaragaman seni Indonesia di negara lain. Selama ini, seni yang banyak dikenal di negara lain, masih didominasi seni-seni dari Jogjakarta dan Solo. Padahal masih banyak seni lain dari Indonesia. Misalnya topeng Malangan,’’ tambah Ketua Padepokan Seni Topeng Asmoro Bangun Pakisaji Malang.
Dalam waktu dekat, pihaknya ikut memprakarsai berdirinya Yayasan Kesenian Indonesia di Belanda. Yayasan tersebut memiliki kegiatan, mempromosikan keanekaragaman seni Indonesia. Tidak hanya Solo dan Jogjakarta.
Tugas Yayasan, juga memberikan pelajaran tentang seni Indonesia kepada warga Belanda. Jadi jangan salah, jika warga Belanda nantinya malah pintar menari topeng ketik di Indonesia semakin punah.
’’Kita menawarkan dan memberi tahu kepada mereka (warga Belanda) bahwa kesenian di Indonesia tidak hanya berasal dari Solo dan Jogja. Masih ada seni topeng Malang dan lain-lainya,’’ tegas staf pengajar beberapa Perguruan Tinggi di Malang ini.
Sedangkan tahun 2013 lalu, dia menjadi penyaji kebudayaan Panji di Bangkok Thailand. Saat itu dia hadir bersama para profesor dari Asia Tenggara serta undangan negara-negara pengguna kebudayaan Panji.
Dia menerangkan, kebudayaan panji, menjadi dasar berbagai sumber kesenian negara di Asia Tenggara. Panji ini tidak ubahnya Mahabarata dan Ramayana yang menjadi dasar negara dengan seni pewayangan.
‘’Kebudayaan Panji menyebar ke seluruh Asia Tenggara sejak zaman majapahit. Seperti diketahui, wilayah nusantara zaman majapahit tidak hanya di Indonesia. Tapi sampai ke Malaysia, Singapura, Thailand hingga daratan Filipina. Jadi tidak salah jika ada kesenian-kesenian yang mengadopsi kebudayaan panji hingga ke negara-negara di Asia Tenggara. Kami datang ke Thailand itu untuk seminar membedah budaya panji itu sendiri dan sejarahnya,’’ tambah dia sembari menambahkan ikut menjadi penyaji kesenian Kota Batu di Korea tahun 2013 lalu.
Saat ini, dia juga sedang persiapan pentas tari topeng di Belgia dan Berlin Jerman. Rencananya, keberangkatan ke dua negara itu dilakukan sekitar Oktober.
Dari pengalaman ke luar negeri itu, dia bisa mengetahui banyak hal. Sebut saja, kesenian yang sempat ramai diklaim menjadi milik Malaysia, dia tahu apa alasan negeri Jiran itu mengklaimnya.
‘’Saya biasa bicara dengan pihak Malaysia melalui Kementerian yang menangani Pariwisata dan Kebudayaan di negeri itu. Mengapa mereka sampai mengklaim Indonesia. Misalnya reog,’’ tandas dia.
Alasan warga Malaysia mengklaim kesenian itu, kata dia, kesenian sudah ada di sana sejak zaman Majapahit. Warga Malaysia juga mengakui kejayaan Majapahit sampai ke negaranya, sehingga seni dan budaya masuk.
‘’Selain itu warga Malaysia sangat beragam. Ada sebuah wilayah yang mayoritas warga Padang. Ada juga daerah yang mayoritas warga Jawa. Semua potensi dikembangkan dan dihargai di Malaysia. Termasuk seni yang dikembangkan warga Padang dan Jawa dihargai untuk keanekaragaman promosi pariwisata,’’ pungkasnya. (febri setyawan)