Lilin Ukir Buatan Sawojajar, Primadona di Luar Negeri

Tidak begitu populer di Indonesia, siapa sangka lilin ukir produksi Diandra Candle, asal Kota Malang, justru menjadi primadona di luar negeri. Jeli melihat peluang pasar internasional, home industry dengan bengkel produksi di Jalan Danau Matana III Sawojajar itu, bisa mengeruk omset sampai puluhan juta rupiah setiap bulannya.

BAGI yang tidak cukup mengenal kawasan Sawojajar, tidak mudah menemukan rumah milik Dedy Wirabuana, di Jalan Danau Matana III F8. Dengan sedikit bantuan global positioning system (GPS) sebagai penunjuk jalan, akhirnya Malang Post bisa menemukan lokasi bengkel produksi Diandra Candle tersebut.
Bengkel itu tidak terlalu besar. Bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengan banyaknya lilin yang mampu diekspor ke mancanegara. Namun, dari bengkel yang menyatu dengan rumah itulah, ratusan ribu bongkah lilin cantik, buah anak negeri, berhasil menjajah pasar internasional.
‘’Dari sinilah kami memasarkan lilin-lilin ini sampai ke luar negeri. Semua pemesanan via online,’’ ujar Anton Wahyudi, salah satu pengelola Diandra Candle, membuka perbincangan dengan Malang Post.
Merintis usahanya bersama Dedy sejak tahun 2010, bisnis lilin, jelas bukan keahlian dua rekan yang sama-sama asli Sawojajar itu. Jika Dedy kuliah jurusan bahasa dan lulus dari STIBA, Anton justru tertarik dengan desain grafis dan mengenyam pendidikan di STIKI.
Tapi, itu semua tak menjadi halangan bagi mereka, untuk mencoba peruntungan dalam bisnis yang benar-benar awam bagi keduanya. Keahlian mengukir lilin dan menjadikannya sebagai komoditi ekspor, yang prospektif, dipelajari keduanya secara otodidak.
‘’Walaupun bergerak di bidang IT, tapi saya memang suka desain grafis. Dedy punya kemampuan membuat sesuatu jadi punya nilai seni. Kami kemudian mengkombinasikan kemampuan masing-masing untuk menggarap lilin potong dan memasarkannya di dunia maya,’’ kenang Anton, yang tiga bulan lalu, menanggalkan profesinya sebagai orang kantoran supaya bisa lebih konsentrasi menekuni bisnis ini.
Dibandingkan lilin berukir yang sudah jamak di luar negeri, lilin kreasi Diandra Candle, memang punya ciri tersendiri. Keunikan berupa ukiran berwarna dan memunculkan kesan menyala, ketika sumbu mulai terbakar itu, membuat produksi mereka laris manis. Bahkan sampai kebanjiran order.
Selama tiga tahun terakhir, Diandra Candle tercatat sudah tiga kali mengirim pesanan ke Australia. Untuk satu kali pesanan, biasanya berisi ratusan lilin yang terangkum dalam satu paket. Lilin ukir buatan mereka, juga sudah tembus benua Eropa.
‘’Kalau untuk dalam negeri, yang pesan banyak dari luar kota dan luar Jawa. Mulai dari Surabaya, Semarang, Jakarta, Kalimantan sampai Pulau Timor,’’ lanjut pria asal Jalan Danau Sentani itu.
Dalam dua hari, biasanya bengkel Diandra Candle bisa memproduksi sampai 200 batang lilin ukir. Harganya pun dipatok berdasarkan ukuran. Mulai dari yang paling kecil seharga Rp 9 ribu/batang, sampai paling besar setinggi 60 cm berbanderol Rp 65 ribu. Tak heran jika di luar negeri lilin mereka menjadi primadona, karena lilin ukir di Australia umumnya dijual seharga USD 30 atau senilai Rp 300 ribu/batang.
Gara-gara banyak permintaan dari luar negeri itulah, Anton dan Dedy yang sehari-hari juga dibantu pekerja bernama Khusaeri, umumnya menetapkan banderol mengikuti kurs dollar Amerika.
‘’Karena harga bahannya ikut dollar. Per karung bahannya bisa jutaan rupiah. Apalagi kurs dollar ke rupiah sangat fluktuatif. Karena itulah, selama ini kita produksi berdasarkan order. Tidak pernah siapkan stok,’’ beber pria bertubuh ceking ini.
Bahan yang digunakan untuk mengkreasi lilin ukir ini adalah parafin wax yang diimpor dari Cina. Didatangkan jauh-jauh dari Negeri Tirai Bambu karena bahan ini sulit didapatkan di tanah air.
Umumnya, wax lokal bersifat mengandung kadar minyak lebih banyak dan berbau. Sedangkan parafin wax dari Cina, lebih murni dengan kandungan minyak minim dan tidak berbau.
Tingkat elastisitasnya juga tidak sama. Untuk membuat lilin ukir, bahan parafin wax lebih dulu dipisah-pisah sehingga menjadi bentuk batangan dan disesuaikan desain pesanan. Tidak dipahat seperti umumnya ukiran kerajinan Indonesian, lilin panas diukir menggunakan pisau setelah lebih dulu diwarnai sesuai keinginan.
‘’Mengukirnya sebetulnya cepat. Yang bikin lama itu memotong bahan, mengukur lilin kemudian memasang sumbu. Belum lagi packingnya. Jadi, untuk pembuatan 200 lilin kira-kira butuh waktu dua hari sampai lembur,’’ cerita Anton panjang lebar.
Menyimpan lilin ini juga tidak boleh sembarangan. Harus disimpan di tempat yang sejuk dengan kelembaban normal. Sedikit saja terkena suhu panas berlebih, tekstur dan warna lilin potong ini bakal berubah.
Menurut Anton, kebanyakan konsumennya dari kalangan menengah ke atas. Mereka memanfaatkan lilin ukir ini untuk keperluan momen-momen istimewa sampai kebutuhan mempercantik hidangan di restoran kelas wahid.
‘’Selera orang juga beda-beda, jadi kami buat detail terperinci. Ongkos kirimnya saja bahkan bisa jadi lebih mahal daripada biaya produksinya,’’ imbuhnya.
Melihat pasar yang semakin bergeliat, Anton dan Dedy berencana kembali menghidupkan situs resmi Diandra Candle yang bisa diakses di www.diandracandle.com. Selama ini, mereka aktif berinteraksi dengan calon konsumen lewat blog gratis. (tommy yuda pamungkas)