Kekompakan Dua Anggota Girl Band Bermusik Hingga Bisnis

Astin dan Justine di antara clothing buatan mereka yang sudah berusia empat tahun

Buat Clothing, Terus Main Sambil Merawat Anak
Kekompakan dua sahabat, Astilina Pranawaningtyas (Astin) dan Justine Viddy, patut mendapat acungan jempol. Pertama kenal ketika masih berusia sekitar 19 tahun, hingga akhirnya membuat grup band dan terus berlanjut hingga dunia bisnis. Kedua perempuan tersebut, kompak pula menghadapi karier bermusik yang jatuh bangun.
’’Awal perkenalan kami di tahun 2002. Masih manggung dengan grup band masing-masing. Hingga akhirnya coba main bareng beberapa tahun. Ternyata kami membuat grup band yang personilnya semua perempuan,’’ ujar Justine Viddy mengawali cerita.
Menurut dia, grup tersebut sempat menjadi band lokal Malang paling diburu di Kota Malang. Betapa tidak, semua anggotanya adalah perempuan muda yang memiliki paras elok. Band tersebut bernama Girl Fight. Dari grup band ini, kedua perempuan tersebut semakin kompak.
Girl Fight sendiri bertahan enam tahun. Dari 2006 hingga 2012, sebelum akhirnya bubar. ‘’Bukan bubar, sih. Gak enak banget bila dibilang bubar. Karena sudah tidak sejalan visinya, Girl Fight vakum dulu,’’ terang perempuan 30 tahun ini.
Namun dari kevakuman tersebut, akhirnya satu persatu personil memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang sudah menikah, memiliki studio musik dan ada yang sudah berpindah keluar kota. Tersisa Justine dan Astin.
Di tengah kegalauan Girl Fight sebelum vakum, dia dan Astin juga tergabung dalam grup bernama Silver-Quint. Begitu grup bandnya yang pertama sudah benar-benar off, dari peredaran musik, keduanya masih bisa menyalurkan hasrat di dunia musik. ‘’Tetapi akhirnya bubar juga. Jadi kami berdua harus menenangkan diri sejenak,’’ bebernya kepada Malang Post.
Hingga akhirnya, perempuan yang pernah bermain dalam film layar lebar berjudul Punk In Love, sebagai Nina ini, merasa gatal bila jarinya tidak memetik bass atau gitar.
Grup band baru pun terbentuk tahun 2013, dengan personil yang ramping. Kali ini bernama Kaiya Band. Hanya beranggotakan Justine pada bass, Astin pada vokal dan Rizki bermain gitar.
’’Untuk mengisi drum, hanya menggunakan additional player saja. Aliran musiknya lebih pada cute alternatif rock geser. Bisa geser ke dangdut, reggae atau musik lain,’’ jelas dia lantas tertawa.
Kini, Kaiya Band lebih mengarah seperti band indie, yang berusaha mengenalkan singlenya melalui radio lokal. Single andalannya, ketika manggung dan terdengar di udara melalui radio, seperti Mabuk Cinta dan Kita.
Sementara itu, Astin, meski sudah menjadi ibu rumah tangga, juga mengaku gatal untuk tetap bermusik. ‘’Selain keluarga dan pekerjaan utama, masih berjalan pula pastinya,’’ tuturnya.
Dia berujar, bila memang sudah cinta dengan musik, pasti rintangan apapun terpecahkan. Inilah yang dibuktikan oleh kedua sahabat tersebut. Meski banyak yang meremehkan. Untuk menjadi anggota band, jangka waktu perempuan itu tidaklah lama. Apalagi bila sudah menjadi ibu.
’’Buktinya saya bisa. Selain jadi ibu untuk anak saya yang berusia 7 tahun, saya juga bekerja di Pemkot Batu. Kesibukan di musik, bisa menyesuaikan. Untungnya saya dan Justine kompak,’’ papar staf humas Pemkot Batu tersebut.
Kekompakan Astin dan Justine ini, selain di grup band, juga sampai pada bisnis. Mereka memiliki usaha berupa clothing bernama Triple Songo (999). Distro tersebut berada di Ria Djenaka Resto. Usia bisnis tersebut memasuki tahun keempat di 2014 ini.
Bisnisnya, menurut Astin, juga dikerjakan bersama. Mulai dari nol, ketika kedua sahabat ini masih sibuk dengan Girl Fight. Hingga akhirnya ada beberapa musisi yang bekerjasama dengan distro tersebut sebagai official merchandise. ‘’Ada dari ibukota sana. Kebetulan kenal juga. Kami tawarin mau menggunakan produk clothing kami,’’ tegasnya.
Memang masih kecil untuk omzet bisnis clothing tersebut, baru di kisaran Rp 20 juta sampai Rp 30 juta dalam sebulan. Tetapi dua sahabat ini optimis tahun ini jauh lebih baik, begitu pula kedepannya.
’’Selain sukses di karier musik dengan Kaiya, yang kami harapkan bertahan lama, di bisnis kami juga harap demikian. Akhirnya pertemanan kami tidak sia-sia, dan kompak hingga ke jalur lain. Kecuali untuk pasangan hidup. Selera kami berbeda,’’ seloroh perempuan asal Kediri ini, sembari tertawa. (Stenly Rehardson)