Eyang – Cucu, Sang Penerus Wayang Orang Bara Pra Tama

DUA GENERASI : Shita Dewi Kusumawati bersama cucunya, Nadia Yuliana Widjaja, penerus Wayang Orang Bara Pra Tama.

Kwee Kiat Siang (72 tahun), adalah Dewi Shinta dalam jagad perwayangan di Kota Malang. Sekaligus juga Srikandi yang secara ksatria terus menantang jaman, mempertahankan pewayangan. Namun pemilik wayang orang Bara Pra Tama ini, lebih dikenal sebagai Shita Dewi Kusumawati.

Di lingkungan Taman Dieng V Kota Malang, Shita kerap disapa sebagai Bu Rudi, tak lain nama almarhum suaminya. Seperti halnya Dewi Shinta yang tetap setia kepada Rama, Shita juga setiap terhadap wayang orang. Seperti halnya Srikandi, Shita tetap mempertahankan wayang orang, yang sedang mati suri.
Ya, seni tradisional wayang orang, tengah mengalami mati suri. Amat panjang. Termasuk di Kota Malang, yang pernah memiliki wayang orang legenda, bernama Ang Hien Hoo. Di kota ini, satu-satunya yang masih eksis barangkali adalah wayang orang Bara Pra Tama.
Bara Pra Tama adalah kepanjangan dari : budaya remaja peraga tari Malang. Perempuan ini, adalah satu-satunya etnis Tionghoa di Malang, yang memiliki sanggar wayang orang. Sejak Ang Hien Hoo vakum, Shita seorang yang kemudian membangun sanggar wayang orang hingga sekarang.
Sebagai bukti eksistensinya, Bara Pra Tama masih memiliki sekitar 40 pemain. Termasuk pengrawit yang jumlahnya 25 orang. Hanya saja, saat ini wayang orang sepi orderan. Seni kolosal ini membutuhkan biaya pentas yang mahal.
‘’Untuk pentas, kita butuh dana Rp 40 juta. Itu untuk semuanya. Property, sewa kostum, transportasi, fee kru, official, konsumsi dan lighting,’’ aku Shita ditemui di kediamannnya.
Rumah Shita, lebih mirip showroom busana perwayangan. Di setiap sudut, selalu ada lemari berisi jarik, ira-ira, kain sari dan seabreg perlengkapan wayang orang. Jumlahnya ratusan. Penyimpanannya memakan ruang.
‘’Di setiap kamar, ada lemari untuk perlengkapan wayang. Semua terawat dengan baik,’’ imbuhnya.
Karena wayang orang tak lagi diminati, Shita saat ini kerap menyewakan ‘harta karun’ Bara Pra Tama itu. Satu set busana Ken Dedes dan Ken Arok misalnya, disewakan Rp 100 ribu per set. Sedangkan busana lainnya, seperti prajurit, disewakan rentang Rp 60 ribu - Rp 75 ribu.
‘’Selain menyewakan perlengkapan, untuk menyambung hidup, saya juga bikin kue pesanan, untuk pernikahan dan acara lainnya,’’ jelas dia.
Saat ini, pendapatan dari wayang orang, tak bisa lagi diharapkan. Meski demikian, Shita tak putus asa. Dia berjanji akan terus mempertahankan sanggarnya.
Para pemainnya sudah prigel  semua, tak perlu latihan rutin. ‘’Ketika ada job, mereka butuh waktu minimal 10 hari untuk latihan, mematangkan lakon,’’ katanya.
Kecintaannya terhadap wayang, tak lepas dari peran kakeknya Kwee Kim Ting. Ketika tinggal di Jalan Gentengan (arah Selecta) Kota Batu, Kwee yang memperkenalkan wayang. Saat kecil, Shita kerap digendong Kwee untuk nonton wayang orang.
‘’Sejak umur dua tahun, ayah saya meninggal. Kakek yang membesarkan saya. Untuk terjun ke wayang, ibu melarang saya ikut wayang orang. Waktu itu, saya akhirnya ikut balet dan teater Rukun Amatir Teater Nasional (Ratna),’’ urainya.
Setelah menikah dan memiliki anak, keinginan Shita nguri-uri budaya jawa, kembali hidup. Dia mendatangkan guru les menari untuk ketiga anaknya Alm. Hadi Wijaya, Roy Wijaya dan Irene Kartika Wijaya (Oei Fee Ling). Hasilnya sungguh luar biasa. Roy dan Irene berhasil menunjukkan bakatnya. ‘’Oleh seorang pengurus Ang Hien Hoo, Om Hok Gian, disarankan bawa ke sanggar Ang Hien Hoo. Tahun 1977 anak saya masuk ke sanggar itu,’’ terangnya.
Lama-lama, bakat anaknya kian terasah, bahkan dalam lomba tari se-Jawa Timur, dapat juara 1 ketika menari Minak jinggo dayun.  
Tahun 1985, kemudian Shita mendirikan sanggar sendiri. ‘’Saat itu ada pelatih tari yang butuh sanggar untuk ikut lomba, meminta saya mendirikan sanggar sambil menangis,’’ urainya.
Walhasil, muncul Bara Pra Tama, yang kemudian sempat menjadi juara. Anak perempuan Irene juga kerap tampil. Kadangkala sebagai Arjuna. Sedangkan Roy, kerap didapuk sebagai Bima. Berkat menari, Irene bahkan dikirim ke berbagai belahan negara. Australia, Belanda, Jerman, Jepang hingga Turki.
‘’Kemudian menjadi model, dan menang salah satu lomba model nasional. Bahkan kala itu, sering diundang ke istana negara bertemu Ibu Tien Soeharto,’’ terang dia.
Irene bahkan sempat tampil dihadapan Gus Dur. Kala itu, wayang mengambil lakon Abimanyu jadi dalang. Adapun di Malang, juga tampil bersama dengan Wali Kota Malang kala itu, alm Soesamto. Termasuk main wayang di Indosiar dengan lakon Sampe Engtay.
‘’Kini Irene sudah bekerja di Jakarta. Kenangannya ya ini,’’ ujarnya seraya menunjukkan foto Irene bersama Ibu Tien serta mantan Presiden Habibie dan sejumlah menteri era orde baru.
Wayang orang saat ini, sangat susah untuk dipentaskan lagi. Kata Shita karena biaya yang mahal. Selain itu, warga hanya mau jika digratiskan. Padahal ketika gratis, maka butuh sponsor.
‘’Saya sudah tak selincah dulu nyari sponsor. Dulu wayang orang kita lakonkan 4 jam. Sekarang kita kemas sampai 2 jam,’’ ujarnya.
Shita berjanji untuk tetap meneruskan wayang. Salah satu tumpuannya adalah Nadia Yuliana Widjaja (14 tahun), cucu dari almarhum Hadi Wijaya, anak pertamanya.
Nadia kini sekolah di SMPK Santa Maria 2. Gadis ini pandai menari dan sudah beberapa kali pentas. ‘’Bara Pra Tama akan saya wariskan kepadanya, tidak ada yang lain,’’ tandasnya.
Nadia sendiri, kepada Malang Post mengaku, siap melanjutkan kiprah omanya. Menurut dia, perjuangan Oma Shita nguri-uri budaya, sudah ditularkan kepadanya sejak masih kecil. Nadia sudah diajari menari sejak kelas 5 SD.
‘’Saya akan teruskan Wayang Orang Bara Pra Tama. Ini sama saja dengan menjaga budaya bangsa, saya ingin seperti karakter Dewi Shinta,’’ tegas gadis Tionghoa ini.
Wayang orang merupakan seni budaya yang komplit, seperti teater, namun lebih glamour. Didalamnya ada seni tata busana, seni musik (gamelan), seni tari dan lain-lain.  Penikmat seni teater tradisional ini, semakin minim. Ketika situasi semakin sulit, kita bersama harus bisa menjaga eksistensinya. (Bagus Ary Wicaksono)