Pantang Terima Bayaran, Selalu Sisipkan Lagu Nasional

Arbanat String Ansamble, Grup Musik Klasik dengan Misi Sosial

Tidak banyak penggemar musik klasik di Kota Malang. Termasuk musisi yang memainkan alunan musik tersebut. Dari yang tak banyak itu, Arbanat String Ansamble, salah satunya. Uniknya, grup musik ini tak berorientasi bisnis. Mereka justru manggung untuk acara sosial. Tak heran, mereka jadi laris manis, ketika Gunung Kelud meletus.

Arbanat String Ansamble, berdiri 14 tahun silam. Awalnya, hanya empat orang. Salah satunya, sang dedengkot yang hingga sekarang bertahan. Ugik Sugiarto. Tapi sejak berdiri, misi sosial, menjadi tujuan utama. Bukan materi.
‘’Arbanat ini anggotanya sudah beberapa generasi. Saat ini tersisa 12 anggota saja yang aktif. Sebagian masih di bawah 30 tahun. Mereka banyak anggota baru,’’ ujar Ugik mengawali cerita.
Tapi jangan salah. Banyak jebolan Arbanat, yang kini sudah jadi orang sukses. Mulai dari profesi dokter, frater dan juga komposer untuk musik klasik. Rata-rata ketika mereka tergabung dengan Arbanat, masih tetap konsen pula dengan pekerjaan atau aktivitas lainnya.
Tidak ada larangan atau peraturan khusus bagi grup musik dengan tujuan sosial ini. Kecuali satu. Menerima upah ketika manggung dengan menggunakan nama Arbanat. Tapi kalau atas nama pribadi masing-masing personel, boleh-boleh saja menerima bayaran.
 ‘’Saya juga mempunyai istri dan anak, yang tetap butuh biaya keseharian serta sekolahnya. Begitu pula anak Arbanat lain. Sehingga selain dengan grup, saya membuka les privat untuk alat musik gesek seperti biola, violin dan cello,’’ paparnya kepada Malang Post.
Salah satu bukti dari keseriusan grup musik tersebut untuk misi kemanusiaan, ketika terjadi erupsi Gunung Kelud, dua pekan lalu. Arbanat, kebanjiran permintaan dari komunitas yang sudah mengenal eksistensinya, untuk menjadi pengisi acara dalam penggalangan dana. Alunan musik klasik tanpa suara nyanyian ini, menggema di beberapa komunitas, khususnya di Kota Malang.
Bapak tiga anak ini mengakui, semua anggota dikabari begitu ada beberapa permintaan untuk ‘ngamen’ tersebut. Tidak semua langsung bisa bergabung. Hasilnya, dari tempat ngamen satu ketempat lain terkadang formasinya berbeda.
‘’Terkadang tiga orang. Bisa juga empat orang. Akhir-akhir ini bisa bermain dengan tujuh orang pun sudah bagus,’’ tanda pria gondrong ini.
Untungnya, musisi Arbanat ini sudah pandai memahami repertoire atau tangga nada dalam bermain musik klasik. Sehingga, cukup dengan memberi kertas copy dari lagu apa yang hendak dibawakan, dan berlatih satu atau dua kali, langsung jadi dalam sebuah irama.
‘’Seperti halnya ketika manggung di Warung Kelir beberapa waktu lalu. Kamis (13/2) ada bencana, Senin (17/2) sudah manggung. Latihannya jam 5 sore, jam 7 malam sudah bertemu dengan audience untuk ngamen di depan mereka,’’ urai alumnus Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Ada satu catatan yang dia tegaskan ketika Arbanat menggelar show, ngamen atau recital untuk penggalangan dana semacam itu, selalu menyisipkan satu lagu nasional. Yang paling sering yakni Indonesia Pusaka, dengan irama biola nan klasik, alunan musik ini terasa menyayat hati. Menurutnya, tujuan dari sisipan lagu ini agar audience mengingat selalu Indonesia dan merasa memiliki apa yang ada di dalamnya.
Terlebih, pemilihan lagu yang tepat juga membuat audience tertarik dan berujung memberikan uang lebihnya untuk sesama. ‘’Yang bisa dilakukan Arbanat untuk membantu, ya seperti ini. Sementara mereka yang punya pekerjaan dan uang lebih, bagiannya memberikan bantuan dana,’’ harapnya.
Bukti lain, Arbanat menghibur salah satu pengungsian di Kota Batu. Kala itu, berkolaborasi dengan komunitas musik untuk mengunjungi camp pengungsi, dan bermain musik di sana. Ugik menyebutkan, hal ini sesuai dengan jiwa semua anak Arbanat. Meskipun tidak selalu bersama tiap ada kesempatan show.
‘’Bila ingin lengkap, harus jauh-jauh hari mengontak anggota. Misalnya saja Vania, dia baru pulang dari Hungaria untuk misi kebudayaan. Sedangkan Albert sibuk dengan pendidikan kedokteran gigi yang dia tempuh. Tetapi yang saya salut, mereka bisa menyempatkan satu atau dua kali bergabung,’’ sebut Ugik.
Di luar aktivitas untuk penggalangan dana ini, Arbanat juga memiliki proyek tahunan yang sudah berjalan sama seperti usianya, yakni 14 tahun. Arbanat memiliki kegiatan yang selalu terjadi di bulan Agustus dengan nama Road Show 17an, yang berlangsung di Sekolah Dasar di Malang Raya. Selalu bergiliran dan show itu diberikan gratis bagi sekolah yang merelakan tempatnya untuk Arbanat berekspresi.
Tujuan dari kegiatan ini, untuk mengajari dan menanamkan kebanggaan akan musik tradisional dan lagu kebangsaan. Sekitar satu jam, road show ini berlangsung di suatu sekolah, dan anak SD sebagai objek yang mendengarkan alunan musik. Bahkan acara ini sempat tercium oleh salah satu stasiun televisi nasional untuk ditayang di seluruh Indonesia.
Ugik mengakui, Arbanat tidak memiliki cita-cita yang muluk. Yang jelas, dengan sifat dan kekompakan anggota dalam menjalankan misi sosial ini, grup musik klasik ini sudah bertahan lama meskipun anggota silih berganti dan sibuk dengan pekerjaan lainnya.
Untuk tahun ini, selain acara tahunan, Arbanat juga memiliki proyek album untuk menyuport komunitas  Capung. Jumlahnya ada 12 lagu, dan dijadwalkan Mei mendatang sudah kelar. (Stenly Rehardson)