Kelola Sampah Model 3R, Pemkab Malang Go Internasional

Pengelolaan sampah berbasis masyarakat, yang dimiliki Pemkab Malang, tidak hanya diakui di tingkat Nasional. Tapi sudah tingkat dunia. Buktinya, Pemkab Malang ditunjuk Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Kementerian Pekerjaan umum (Kemen PU), mewakili Indonesia dalam konferensi 5 tahun teknologi 3R (Reuse-Reduce-Recycle) tingkat Asia – Pasifik.

Hotel Shangri-La Surabaya, menjadi ‘saksi mata’ bagi Pemerintah Kabupaten Malang. Di hotel itu, pada 24 – 27 Februari 2014 lalu, menjadi tempat diselenggarakannya pembahasan 3R (Reuse-Reduce-Recycle) pengelolaan limbah dan sampah, se Asia Pasific. Atau The Fifth Regional 3R Forum in Asia and The Pacific.
Multilayer Partnership and Coalition as the Basis for 3Rs Promotion in Asia and the Pacific, adalah tema yang diambil dalam pertemuan itu. Penyelenggaranya, KLH, Kementerian PU, KLH Jepang dan United Nations Centre for Regional Development (UNCRD). Pertemuan membahas kemajuan dari penerapan HaNoi 3R Declaration Sustainable 3R Goals for Asia and The Pacific (2013-2023).
Total ada sekitar 400 peserta, dari 38 negara, hadir sebagai perwakilan pemerintah dari berbagai sektor. Diantaranya KLH, Kemen PU, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perindustrian, Pemerintah Daerah dan narasumber internasional dari lembaga penelitian dan pengembangan lembaga 3R.
Kemudian ada Perwakilan PBB dan organisasi internasional, termasuk lembaga keuangan internasional, bank-bank pembangunan multilateral dan lembaga donor, perwakilan dari sektor swasta dan dunia usaha, LSM dan ormas.
Indonesia, diwakili tiga peserta. Yakni Kabupaten Malang, Kota Malang serta Kota Surabaya. Kota Surabaya ikut ditunjuk karena pengelolaan sampah menjadi pupuk kompos. Kota Malang ikut ditunjuk karena pengelolaan Bank Sampah.
‘’Sedangkan Kabupaten Malang, dipercaya untuk tampil mewakili Indonesia karena tiga teknologi dan inovasi pengelolaan sampah dengan model 3R. Yaitu pengelolaan sampah di TPA Talangagung Kepanjen, pengelolaan sampah di TPA Paras Kecamatan Poncokusumo serta TPST Mulyoagung Kecamatan Dau,’’ ungkap Kepala BLH Kabupaten Malang, Tridiyah Maistuti, yang ditunjuk mewakili Pemerintah Kabupaten Malang, menjadi peserta konferensi bersama Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR).
TPA Talangagung Kepanjen, diunggulkan karena teknologi pemilahan sampah kering, basah dan residul, yang kemudian difermentasikan dengan campuran kimia untuk menghasilkan gas metane.
Selanjutnya gas metane yang dihasilkan, dialirkan ke masyarakat sekitar untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti gas LPG. ‘’Total hingga saat ini sudah ada 130 keluarga yang memanfaatkan gas metane tersebut,’’ tutur Tridiyah.
Sedangkan TPA Paras Poncokusumo, pengelolaan teknologi sama dengan TPA Talangagung. ‘’Hanya yang membedakan adalah tangkapan gas metane. Jika di TPA Talangagung, tangkapannya dengan paralon, tetapi di TPA Paras menggunakan bambu petung. Alirannya ke rumah warga tetap menggunakan sambungan pipa paralon. Alasan dengan penangkapan dengan bambu petung, karena awet adem. Dan saat ini sudah 162 keluarga di sekitar TPA Paras yang memanfaatkannya,’’ jelasnya.
Sementara untuk TPST Mulyoagung Kecamatan Dau, tempat pembuangan atau pemilahan sementara. Yaitu tempat untuk memilah sampah sampai menghasilkan produk. Ada dua produk unggulanyang dihasilkan di TPST ini. Yaitu kompos yang sudah dimanfaatkan ke pabrik-pabrik. Kemudian biji plastik yang dihasilkan limbah plastik yang sudah terpilah.
‘’Di TPST Mulyoagung ini, betul-betul murni pengolahan sampah berbasis masyarakat. Dimana dikelola oleh masyarakat dan untuk masyarakat, dan secara ekonomi hasilnya pun juga untuk masyarakat. Sudah ada sekitar 60 orang pekerja yang ada di TPST Mulyoagung. Mereka paling rendah digaji dari hasil sampah tersebut Rp 800 ribu sampai Rp 1,3 juta/bulan,’’ paparnya.
Dari tiga hasil temuan teknologi pengolaan sampah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Malang itulah, mendapat apresiasi dari 38 negara. Diantaranya seperti Laos, Taiwan, Korea, Cina, Jepang, Myanmar, Philipina, Malaysia, Singapura serta Kenya.
‘’Bahkan usai pertemuan konferensi, Konsulat Jepang didampingi Prof Hendri dari ITB, langsung melakukan peninjauan ke TPA Talangagung dan TPST Mulyoagung Kecamatan Dau. Beliaunya mengaku sangat mengapresiasi dan akan kerjasama soal pengelolaan sampah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Malang,’’ jelasnya. (agung priyo)