Komunitas Rumah Singgah, Pelayan Anak Jalanan

PROBLEM anak jalanan, seperti jadi pekerjaan rumah yang tak pernah diselesaikan oleh pemerintah kota. Bukannya menyusut, jumlah anjal, semakin semerawut. Makin banyak anjal yang tak tersentuh pendidikan. Komunitas asli Malang, Rumah Singgah ingin mencegah anjal kehilangan masa depan. Tentunya, lewat aksi nyata. Seperti memberi pendidikan kehidupan secara cuma-cuma bagi ratusan anjal di Malang Raya.

Arus dunia terus menggiring Kota Malang untuk maju dan berlari. Sayang, kaum terpinggirkan, semisal anak jalanan, masih seperti jongkok. Jangankan diajak maju berlari. masyarakat tak mau capek-capek mengajaknya berdiri. Kota seperti mati. Tak punya rasa peduli.
Anjal seperti menunggu dikebiri, oleh monster bernama industrialisasi.
Tak ada yang mau dicap sampah. Tapi, komunitas masyarakat kita semena-mena, langsung menempelkan cap sampah masyarakat pada anak jalanan. Jangankan mengurus pendidikan buat anjal, baru melihat saja, masyarakat kita sudah mual.
Pemerintah sudah beri pengarahan, meski seadanya. Data Seksi Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Malang menyebut, total anjal di Kota Malang tahun 2014 berjumlah 548 anak. Tapi, rehabilitasi serta pendidikan untuk mereka sangat minim. Jika tidak mau disebut, belum menyentuh anjal secara khusus.
Seksi Rehabilitasi Sosial Dinsos melakukan pembinaan partisipasi masyarakat dan bimbingan lanjut pada tahun 2014 untuk 360 orang. Tapi, para anjal tak dapat perhatian khusus. Mereka digabung dengan para gepeng, pengemis dan Pekerja Seks Komersial. Tentu, sangat miris, karena anjal tetaplah anak-anak.
Melihat kenyataan minimnya pendidikan dan pengarahan dari pemerintah, sekelompok komunitas bernama Rumah Singgah, ingin memberi dampak nyata untuk anak-anak jalanan di Malang.
Mereka bukan kelompok besar. Hanya berisi tujuh orang relawan atau volunteer. Tapi, kelompok kecil ini, sejenak meninggalkan kesibukan dan profesi di arus modernisasi.
Mereka mengulurkan tangan bagi kaum anjal, yang meringkuk di kegelapan arus perubahan zaman. Salah satu relawan Rumah Singgah, Trifena Wanda Akay menyebut, komunitas Rumah Singgah terbentuk untuk mengusahakan pendidikan bagi anjal, agar bisa kembali ke masyarakat secara terhormat.
‘’Kita berdiri tahun 2011. Awalnya memang bentuk komunitas, yang semua anggotanya rindu melayani jiwa anak-anak jalanan. Kita beri mereka makan, beri mereka pendidikan, agar mau sekolah lagi dan tak menelantarkan diri di jalanan,’’ terang Trifena kepada Malang Post.
Komunitas ini berdiri di dua tempat. Di Jalan Ade Irma Suryani, kecamatan Kasin dan Pulosari, Bareng. Karena sifatnya sukarela, komunitas Rumah Singgah ini melayani anak-anak jalanan dari seluruh Malang Raya, di akhir pekan. Sebab, ketujuh relawan Rumah Singgah, adalah pekerja aktif yang punya profesi masing-masing.
Selain Trifena, ada Vike Levana, Novitasari, Eunike Mandasari, Yunita Hasibuan, David Christian dan Bernadette Benedicta Lupi Maitimo.
Tujuh orang ini adalah pekerja aktif saat weekday. Tapi berubah jadi sukarelawan kemanusiaan saat weekend. Hari Sabtu dan Minggu, yang harusnya dipakai untuk istirahat, dikorbankan bagi anak-anak jalanan.
‘’Kita korbankan waktu. Kita ingin anak-anak jalanan kembali ke sekolah. Sebagian besar orang sudah tak lagi melihat mereka. Mereka sudah dianggap tidak ada. Kami ingin memberi kasih, supaya hati anjal tergerak dan mau sekolah,’’ tegas wanita yang bekerja di salah satu perusahaan besar di Jawa Timur itu.
Para relawan Rumah Singgah ini, melayani puluhan anak tiap hari Sabtu dan Minggu. Kebanyakan, Rumah Singgah melayani anjal yang berkeliaran di perempatan lampu merah Rampal, Klojen dan pertigaan lampu merah Sabililah, Blimbing. Jika ditotal, setiap bulan mereka bisa melayani lebih dari 200 anjal.
Anjal diberi makan, lalu diberi waktu untuk menerima pendidikan. Relawan tidak memberikan materi yang diberikan sekolah. Tapi, lebih kepada pembinaan karakter, motivasi serta ajakan halus untuk kembali ke sekolah.
Lalu, adakah sekolah yang mau menerima anjal yang dididik di Rumah Singgah?
Trifena menyebut, ada satu sekolah di Jalan Opak, Malang, yang mendukung Rumah Singgah. Begitu ada anak jalanan yang mau mentas dari dunia jalanan, sekolah afiliasi Rumah Singgah itu, siap memberi pendidikan secara gratis. Mulai dari SD hingga SMA.
‘’Kita salurkan anak-anak jalanan yang mau mentas dari jalanan, ke sekolah di Jalan Opak. Disitu, mereka mau terima siswa dengan gratis. Tanpa biaya,’’ terang Trifena.
Sementara itu, Bernadette Benedicta menyebut, tidak mudah menjadi relawan di Rumah Singgah. Banyak pengorbanan yang dilakukan. Selain korban waktu, para relawan juga berkorban uang untuk membantu menjalankan Rumah Singgah.
‘’Tapi, kita tidak mengemis-ngemis ke orang, cari dana, cari donasi. Kalau kita bisa beri, tak perlu minta orang. Kita tulus buat anak-anak ini. Kita tidak dibayar, kita malah mbayar,’’ terang Bene, sapaan akrabnya.
Sebaliknya, ia malah meminta bantuan masyarakat untuk membawa anjal ke Rumah Singgah, tiap akhir pekan. ‘’Kita sangat terbantu kalau ada orang-orang yang mau beri informasi keberadaan mereka, yang mungkin belum terjangkau oleh kita. Kami siap jemput dan ambil mereka tiap akhir pekan, untuk dilayani,’’ tandas mahasiswi, yang juga penyiar radio itu.
Komunitas Rumah Singgah punya visi untuk menjangkau seluruh anjal di Malang Raya. Para relawan sepakat untuk memberi pendidikan serta ajakan halus agar meninggalkan dunia kelam jalanan Kota Malang.
‘’Kami ingin menjangkau sebanyak mungkin, ingin merebut mereka dari kegelapan jalanan, dan memberi mereka harapan serta masa depan yang lebih baik,’’ tutupnya. (fino yudistira)