Mantan Karateka Andalan Indonesia Mengejar Gelar Profesor

Menjadi atlet, memiliki risiko kehilangan banyak waktu, untuk fokus belajar atau prestasi. Tak banyak atlet yang mampu membagi waktu antara padatnya jadwal latihan, sekolah, dan istirahat. Akan tetapi, Sri Rahaju Djatimurti Rita Hanafie mampu melakukan itu hingga sukses meraih prestasi. Baik di bidang olahraga maupun pendidikan formal.

Rita, sapaan akrabnya, tak pernah mengesampingkan pendidikan formalnya meski ia telah memiliki prestasi di bidang olahraga. Khususnya karate. Prestasi demi prestasi pernah ditorehkan untuk mengharumkan nama bangsa.
Wanita yang saat ini masih aktif sebagai Wakil Sekretaris 2 KONI Kota Malang ini, mulai mengikuti berbagai kejuaraan daerah pada tahun 1977 silam. Dan selama lebih dari satu dekade, Rita selalu menjadi juara nasional di berbagai kejuaraan.
Dari prestasinya itu, Rita mulai dikirim menuju kejuaraan dunia. Pada tahun 1980, Rita turun dalam Kejuaraan Dunia Karate (WUKO) di Madrid, Spanyol. Setahun kemudian, wanita yang masih aktif di kepengurusan PBVSI Kota Malang sejak tahun 2004 ini, sukses menyabet medali perak di nomor Kata Perorangan Putri dalam Kejuaraan Karate Asia Pasific (APUKO) V Sidney, Australia 1981.
Ia mencapai puncak prestasi di bidang cabor karate pada tahun 1986. Turun dalam Kejuaraan Dunia Karate (WUKO) di Sidney, Australia, Rita finish sebagai karateka peringkat enam dunia di nomor Kata Perorangan Putri.
Setahun berselang, konsistensi grafik prestasi Rita, masih berlanjut. Dalam Kejuaraan Karate Asia Pasific (APUKO) VII di Jakarta tahun 1987, Rita memborong dua medali emas, masing-masing di nomor Kata Perorangan Putri dan Kata Beregu Putri. Dua medali emas juga didapat saat ia membela Indonesia di ajang Sea Games XIV 1987 Jakarta.
Setelah menikah di tahun 1988, Rita tetap menjaga prestasi nasional dan internasional. Pada tahun 1989 Rita memboyong satu medali perunggu dari negara tetangga, Malaysia pada gelaran Sea Games XV. Bahkan, Rita pernah mendapat medali emas di PON XII Jakarta, ketika ia hamil dua bulan.
‘’Awalnya saya tidak tahu kalau hamil. Saya mengalami beberapa kali mual, lalu saya konsultasi dengan dokter kontingen saat itu,’’ urainya. Setelah berkonsultasi itulah, Rita sadar jika dia mengandung janin anak pertamanya, Rizky Aditya Putra Perdana Pudjiharto.
Seluruh kontingen pun gempar. Termasuk atlet lawan, yang tahu berita kehamilan tersebut. ‘’Lawan saya justru meremehkan. Akan tetapi saya membuktikan bahwa saya bisa meraih hasil terbaik,’’ tandasnya.
Rita mengungkapkan, hasil medali emas itu ia dapat lantaran suaminya, Sulih Pudjiharto, datang langsung ke Jakarta untuk menyaksikan Rita berlaga.
‘’Waktu itu suami saya belum tahu kalau saya hamil. Dia dihubungi KONI diminta untuk berangkat ke Jakarta mendukung saya tanpa tahu kalau saya hamil. Sebelum pertandingan, saya juga sempat ngidam bakso. Tapi begitu makanannya di hadapan saya, tak tersentuh sama sekali,’’ tuturnya.
Prestasi yang ia dapat itu, tak lahir dari waktu singkat. Ia tekun dan konsisten fokus di cabor karate yang ia cintai, meski banyak teman seangkatannya yang pindah bidang saat pertengahan tahun 1975.
‘’Pertama saya main karate, hanya 10 orang. Akhir tahun pertama hilang 3 orang. Ketika saya memakai sabuk cokelat tinggal 3 orang. Sampai di sini saya sebenarnya mulai jenuh. Tapi jadi terus bertahan karena Bapak,’’ terang istri dari Sulih Pudjiharto ini.
Prestasi di karate yang ia capai, berbanding positif dengan prestasi akademiknya. Wanita kelahiran Blitar, 5 Februari 1962 ini tetap fokus mengenyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi.
Rita mendapat gelar Sarjana pada tahun 1986 setelah lulus dari Program Studi Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian UPN Veteran Surabaya. Ia memulai karier sebagai dosen selagi masih aktif sebagai atlet, tepatnya di tahun 1989. Kala itu, wanita yang kini tinggal di Jalan Puncak Buring Indah Barat, Malang ini mengajar di Universitas Putra Bangsa Surabaya.
Pada tahun 1996, Rita berhasil meraih gelar Master setelah lulus S-2 jurusan Ekonomi Pertanian Program Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB), Malang.
Setelah mendapat gelar tersebut, Rita mulai bertugas sebagai dosen di Universitas Widyagama (UWG), Malang. Aktivitasnya sebagai dosen di UWG masih dijalaninya sampai sekarang.
Tak puas dengan gelar Master, Rita melanjutkan studinya dan berhasil meraih gelar Doktor pada tahun 2004. Gelar itu diperolehnya selelah lulus S-3 Ilmu Pertanian Program Pascasarjana UB. Kini, ia masih bergelut dengan kesibukannya sembari mengejar gelar profesor.
‘’Tentu saja saya ingin dapat gelar tersebut. Saya rasa semua orang menginginkannya. Dan saya masih ingin berguna untuk Bangsa Indonesia,’’ kata alumnus SMAK St Louis Surabaya ini kepada Malang Post.
Karirnya di bidang akademik semakin lengkap dengan terbitnya 10 buku dan 18 jurnal ilmiah yang telah ia tulis. Selain itu, sederet penghargaan dari berbagai pihak juga telah ia terima atas kiprahnya selama ini.
Tahun 2005, ia dinobatkan sebagai Dosen Berprestasi UWG Malang. Empat tahun berselang, ketua Program Studi Pertanian UWG Malang ini mendapat penghargaan sebagai Ketua Program Studi Berprestasi I UWG Malang dan Ketua Program Studi Berprestasi II Kopertis Wilayah VII Jawa Timur.
Sebelumnya, pada tahun 1999 wanita yang aktif di kepengurusan Pengprov FORKI Jatim sejak tahun 2000 ini mendapat Piagam Penghargaan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita RI dalam Temu Tokoh 1000 Wajah Wanita Indonesia. Di tahun 2004, Walikota Surabaya kala itu, Bambang Dwi Hartono memberinya Piagam Penghargaan Khusus dalam rangka Surabaya Bangkit Menuju Kota Atlet.
Lebih lanjut, Ibu dua anak ini menganggap bahwa memang prestasi akademik mutlak diperlukan diluar prestasi non akademik. Menurutnya, setinggi-tingginya prestasi yang dicapai seorang atlet, pendidikan formal tetap harus diutamakan. ‘’Karena banyak pengalaman atlet, cuma mengandalkan olahraga jadi masa tuanya sengsara,’’ jelasnya.
 Mengenai sekolah yang banyak dikeluhkan sebagai penghambat latihan dan lomba, Rita menyebut bahwa ketika atlet tetap berprestasi di sekolah, maka atlet itu akan mudah untuk mengurus perizinan lomba dan latihan. Hal tersebut telah dilalui Rita dalam pengalaman hidupnya.
’’Saya dulu SMA kelas 3 mau berangkat kejuaraan dunia sebenarnya juga tidak boleh sama kepala sekolah. Tapi wali kelas dan guru olahraga menekankan bahwa kesempatan pergi ke luar negeri tidak akan bisa diulang. Selain itu KONI dan orang tua juga mendukung. Akhirnya saya diuruskan KONI dan berangkat,’’ kenangnya. (Muhammad Choirul)