Petani Jeruk yang Miliader Asal Poncokusumo

MENJADI petani sukses, tak harus didukung pendidikan yang tinggi. H Maskur, warga Desa Karanganyar, Kecamatan Poncokusumo, salah satu contohnya. Tak lulus MTs, tapi mampu menguasai pasar buah, khususnya jeruk, mulai Malang hingga Banten. Penghasilannya, juga fantastis. Bisa mencapai Rp 5 milliar, dalam sekali panen.

Berkunjung ke rumah Maskur, tidaklah sulit. Maklum, dibandingkan dengan rumah warga lainnya, kesuksesan dari bertani Jeruk Siyem Pontianak, tampak terlihat dari letak dan kontruksi bangunan dari keluarga tersebut.
Dari luas tanah sekitar sehektare, berdiri megah sekitar empat bangunan utama. Minimal berlantai dua, plus disokong halaman yang luas. Dihiasi bonsai dan peliharaan burung, serta tiang pancang dari bambu untuk tanaman jeruk.
Malang Post yang sebelumnya sudah janjian pun, langsung disambut dengan ramah di halaman rumah, sambil menikmati udara segar dari kawasan pegunungan Poncokusumo.
‘’Ini acaranya dalam rangka apa? Kalau liputan, seharusnya pas pada bulan delapan (September) atau bulan 10 (Oktober). Karena saat itu, pas musim panen (jeruk) rayanya,’’ sapa Maskur ramah seraya membuka pembicaraan.
Setelah mendengar penjelasan ringan, Maskur pun mulai membuka pengalaman bertani jeruknya. Dijelaskan bapak dua anak itu, kalau usaha yang kini dipegangnya, tidak lain dari rintisan orang tuanya, H Bambang.
Kala itu, Bambang mulai merintis sebagai petani jeruk pada Tahun 1986. Sementara lahan yang saat itu digunakan, masih sekitar 1 hektare atau memanfaatkan tanah keluarga.
‘’Dari lahan milik sendiri itu, untuk sekali panennya (per 10 bulan) mampu menghasilkan sampai 20 ton. Dengan kisaran rata-rata per pohonnya, mampu menghasilkan sekitar 20 kilogram,’’ tambahnya.
Baru pada tahun ke sepuluh, keluarga itu, mulai melebarkan lahannya. Caranya, dengan sistem bagi hasil. Hingga dari satu hektare, berkembang menjadi tiga hectare.
Sayang, di masa mulai menjamurnya petani jeruk di kawasan Poncokusumo, CPVD (Citrus Vein Phloem Degeneration) atau lebih dikenal petani jeruk sebagai virus embun beracun, yang menyerang akar tanaman, menyerang total tanaman jeruk petani. Akibatnya, hingga Tahun 2000, tidak satu pun lahan petani yang ditanami jeruk.
‘’Akibat virus CPVD itu, kami merugi sampai Rp 30 juta. Bahkan, selama empat tahun itu, atau sejak Tahun 1996 sampai Tahun 2000, tidak satu pun petani yang berani lagi menanam jeruk,’’ terang pria murah senyum itu.
Memasuki Tahun 2001, ungkap Maskur, ganti dirinya yang memberanikan diri, mencoba mengawali menanam kembali jeruk dengan jenis sama. Siyem Pontianak. Dengan bermodalkan ilmu otodidak, dua hektare lahan dicobanya sebagai penerus usaha orang tuanya.
‘’Risiko nekad menanam kembali ini saya ambil, karena sesepuh sini (Poncokusumo) mengatakan, kawasan ini cocok untuk tanaman jeruk. Letak geografisnya yang dataran tinggi dan dingin, membuat saya yakin, tanaman ini memang bisa tumbuh dan berkembang bagus,’’ bebernya.
Maskur juga memiliki pengalaman, semakin tanah dicangkul, tanah itu akan mudah terserang virus. Sementara sistem pembersihan hama melalui pengecatan dengan pestisida pun, turut andil membawa virus tersebut.
‘’Makanya, kemudian disiasati dengan tanaman tumpang sari di bawah pohon sampai berusia 2 tahun,’’ terangnya.
Nyatanya, tambah Maskur, usaha dan keyakinannya itu membuahkan hasil. Panen pertama dari tanah seluas 2 hektare, mampu menghasilkan sedikitnya sekitar Rp 40 juta. Kondisi itu, tentu menjadi peruntungan awal yang bagus, mengingat kerugian kala itu sekitar Rp 30 juta.
‘’Dari situlah, kemudian terus berkiprah di tanaman jeruk dengan memakai sistem tumpang sari. Sampai akhirnya, kini mampu memiliki sekitar 50 hektare lahan sendiri dan bagi hasil milik petani. Hasil panen yang rata-rata perhektarnya, tetap sama yakni sekitar 20 ton. Kalau hitung-hitungan sekali panen, memang bisa mencapai Rp 5 milliar,’’ imbuhnya bangga.
Maskur menambahkan, jenis jeruk yang dikembangkannya memiliki keunggulan tersendiri, dibandingkan wilayah lain selain Poncokusumo. Selain kadar manis, juga kandungan air serta kesegarannya. Itulah mengapa, jeruknya mampu diterima di seluruh pasar tradisional. Mulai Malang sampai Banten.
‘’Besar-kecil jeruk itu, tergantung dari masa panen tanaman. Jika panen pertama sampai sekitar delapan tahun, hasil buahnya akan besar-besar. Kondisi itu, akan berbeda ketika tanaman memasuki usia sembilan tahun ke atas. Lebih-lebih, pada usia maksimal tanaman yakni 13 tahun,’’ terangnya.
Disinggung sepintas mengenai pengiriman buah jeruk, Maskur mengatakan, permintaan tertinggi dari pasar tradisional di Jawa dan Pasar Kramat Jati Jakarta. Sehari, bisa mencapai hingga satu truk atau sekitar 5 ton.
‘’Dulu mungkin kita harus bertatap muka dengan pembelinya. Tapi sekarang, tinggal kirim gambar jeruknya, mereka akan langsung memesan,’’ lanjutnya seraya mempersilahkan melihat tanaman jeruknya yang dikembangkan di sisi rumah dan masih berusia sekitar 2 bulan. (sigit rokhmad)