Obsesi Hasan Ambon Jadikan Kota Batu Gudangnya Petinju

Berbagai prestasi pun, berhasil dikumpulkan. Beberapa prestasi itu, mempertahankan gelar juara tiga tahun berturut-turut, di kejuaraan ATI (Asosiasi Tinju Indonesia). Kemudian, juara Nasional kelas Yunior tahun 1995-2005.
Dia juga pernah mengikuti kejuaran lima kali di Thailand dan Philipina. Selain itu, tahun 2000 dia juga berhasil perbaikan peringkat kelas IBF. Dia peringkat 6 Kelas IBF dunia.
SKecintaannya terhadap tinju, tidak pernah pudar. Hingga kini, pria kelahiran Ambon itu, tetap bergelut di olahraga yang pernah melambungkan namanya. Meskipun tak lagi sebagai petinju, tetapi perannya sebagai pelatih sangat diperhitungkan. Khususnya mengorbitkan petinju-petinju handal.
 
Saat ditemui di sasana latihan, sekitar pukul 16.00 WIB,  tampak sosok pria berbadan besar dan kekar, sedang bercengkrama dengan atletnya.
Seragam kerjanya yang masih menempel,  menandakan jika pria yang memiliki nama lengkap Ruslan Abdul Gani Hasan Ngabalin itu, baru datang dari tempat kerjanya. Dia belum sempat ganti baju latihan.
Ya, orang akan lebih mudah kenal namanya sebagai Hasan Ambon. Pria 47 tahun itu, tampak berbinar ketika berbicara soal tinju. Termasuk bertutur ketika awal dia berkarier di dunia yang mengorbitkan Muhammad Ali, petinju legendaris.
Kala itu, saat masih SMA, keinginan Hasan Ambon menjadi  TNI, sangat kuat. Apalagi sang ayah, juga tentara. Namun, tekad tersebut ditentang oleh ibunya.
‘’Saya dilarang daftar angkatan (TNI, Red.). Alasannya, saat bapak jadi tentara, jarang pulang. Mau tidak mau, saya harus mengikuti apa kata ibu,’’ kata Hasan mengenang.
Padahal menjadi tentara, adalah salah satu pelampiasannya, yang gemar berkelahi dengan teman sebaya. Dia pun akhirnya berubah haluan. Yang dipilih, menjadi petinju. Bahkan dia yakin, bisa menjadi petinju nasional.
Benar juga. Dunia tinju, melambungkan namanya. ‘’Karena saya tidak pernah takut ketika bertinju. Mungkin karena senang berkelahi sejak kecil,’’ katanya.
ebenarnya, pasca memilih berhenti menjadi petinju tahun 2006, dia sudah tidak mau lagi kembali kedua adu jotos itu. Alasannya, semasa menjadi petinju, dia sangat dihargai dan disanjung oleh masyarakat maupun pemerintah.
Namun, setelah tak bertanding lagi, dirinya hanya dipandang sebelah mata. Sehingga dia memilih mencari pekerjaan tetap untuk menghidupi anak istrinya.
Tetapi, panggilan batinnya, tidak bisa dihilangkan dari bertinju. Dia pun memilih menyempatkan waktu untuk melatih petinju amatir dan profesional di Dori Gym, Kota Malang, yang tak lain adalah camp milik pelatih yang mengantarkannya ke pentas tinju dunia, (Alm) H. Abu Dhori.
‘’Kalau ada waktu, saya ikut melatih. Semata-mata ingin balas budi kepada beliau. Supaya sasananya tetap eksis dan itu hanya dua tahun, selebihnya saya sibuk kerja,’’ akunya kepada Malang Post.
Baru pada tahun  2010, pria dengan dua anak ini, benar-benar mengikrarkan diri untuk kembali ke dunia tinju. Sebab, keponakannya, Randi Ngabalin, meminta dirinya menjadi pelatih. Diapun menyanggupi permintaan keponakannya tersebut, dengan ,alasan kalau sampai Randy dilatih oleh orang lain, dikhawatirkan tidak bakal jadi petinju handal.
‘’Lebih baik saya latih sendiri. Berbekal dengan pengalaman saat masih menjadi atlet,’’ terang pria yang memulai karir profesionalnya sejak tahun 1980 ini.
Ternyata keinginannya sepenuhnya menjadi pelatih, juga ditangkap oleh KONI Kota Batu. Dia pun diminta menjadi pelatih Pertina Kota Batu sejak tahun 2013.
Tanpa menunggu waktu, diapun menyanggupinya, sekalipun dirinya tidak digaji, serta mencuri waktu di tengah kesibukan bekerja sebagai kordinator security pusat perbelanjaan, Batu Paradise.
Apalagi, Hasan Ambon juga salah satu pelopor berdirinya Pertina Kota Batu, bersama Ketua umum Pertina Batu, Daniel Wijaya dan Ismail Ngabalin, yang kini menjabat sebagai Ketua Harian Pertina.
KONI menunjuk Hasan menjadi pelatih Pertina tidak salah. Belum genap satu tahun memangku jabatan, Pertina kota wisata keluar sebagai Juara umum Kejurda yang diselenggarakan di GOR Ganesha, beberapa waktu lalu. 10 atlet yang dibina selama ini, 8 diantaranya berhasil meraih medali emas.
‘’Saya mau melatih karena  bersama Pengurus Pertina bertekad ingin melahirkan atlet-atlet profesional dan disegani ditingkat provinsi maupun nasional. Khususnya dari Kota Batu tercinta, walaupun Cabor Pertina ini, masih seumuran jagung,’’ yakin pria 10 bersaudara putra dari Jamaluddin Abang Ngabalin, Siti Khotijah Ngabalin ini.
Suami Suparni ini menjanjikan, pada Porprov 2015 mendatang, Pertina Kota Batu, bisa menjadi juara umum atau menempatkan tiga sampai empat atletnya sebagai juara.
Dengan potensi alam di Batu, serta atlet yang dimiliki saat ini, bisa diandalkan dalam setiap turnamen. Salah satu buktinya adalah berhasil juara umum di Kejurda Jatim.
‘’Dengan keterbatasan Pertina Batu saat ini, yakni tempat latihan di halaman rumah salah satu pengurus. Kami akan membuktikan, atlet Tinju Batu akan mengungguli daerah lain. Kami akan membuktikan terhadap Pemerintah jika kami bisa,’’ papar pelatih yang ikut mengorbitkan petinju Iwan Key, Randy Ngabalin dan Rizky Ngabalin. (miski)