Tergolong Ekstrem, Peralatan Harus Ekspor

Bima Ramadhani, Galang Wijayanto, Joko Dwi Prastowo, dan seorang teman saat tampil di Urban Fest Jakarta.

Malang Jumping Stilts, Kenalkan ‘Egrang’ Modern
Bagi pecinta dolanan tradisional, egrang adalah permainan yang familiar. Sayangnya, perkembangan game online yang canggih, membuat permainan tersebut banyak ditinggalkan. Terutama anak muda. Bagaimana jadinya jika permainan tersebut kembali diangkat dengan kemasan yang berbeda? Itulah yang dilakukan anak-anak muda, membawa Jumping Stilts ke Bumi Arema.

Di antara serunya gemuruh sepak bola, futsal, basket dan sebagainya, jarang yang mengenal olahraga jumping stilts. Wajar saja. Sebab, jenis olahraga ini masih relatif baru.
Peralatannya pun, hanya dimiliki sekitar 20 orang, yang tergabung dalam komunitas Malang Jumping Stilts. Adalah Bima Ramadhani Pratama, Galang Wijayanto dan Joko Dwi Prastowo, tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang membawa jumping stilts ke Kota Malang.
‘’Awalnya, kami mempelajari dari paman Joko di Jakarta. Di sana, olahraga ini juga masih baru. Tapi alatnya sudah dijual di beberapa mall, meski semuanya masih impor,’’ ujar Bima.
Mahasiswa tingkat akhir ini menjelaskan, secara umum, jumping stilts adalah egrang modern. Meski ada beberapa perbedaan dasar. Egrang terbuat dari kayu, material alat olahraga ini, sebagian besar terbuat dari aluminium, dengan spring yang terbuat dari karbon dan rubber dari karet tebal.
Cara menggunakannya ialah dengan menapaki rubber yang terpasang di stilts-nya, yang tingginya sekitar satu meter.
Perbedaan lainnya dengan egrang, ialah cara bermainnya yang lebih menantang. Jika pengguna egrang hanya dapat berjalan atau berjalan cepat, jumper (sapaan pemain jumping stilts) dapat melenting-lenting seperti belalang di ketinggian lebih dari dua meter. Atau berlari dengan kecepatan yang fantastis. Rata-rata bisa 30 km/jam.
Bahkan, para jumper profesional di luar negeri, bisa melakukan gerakan salto di udara atau melompati beberapa mobil sekaligus, dengan sepasang stilts seberat delapan kilogram.
‘’Ini adalah olahraga yang menantang andrenalin, ekstrem dan anti mainstream. Untuk mengangkatnya di Kota Malang, saat ini kami bertiga gencar menempel poster di sekolah dan kampus-kampus,’’ ujar Galang yang diamini oleh kedua temannya.
Setiap Rabu dan Jumat sore, ketiga mahasiswa Hubungan Internasional (HI) UMM ini, rutin mengadakan atraksi di Jalan Simpang Balapan, dan di Idjen Boulevard setiap Minggu pagi.
Dari publikasi dan atraksi tersebut, jumping stilts mulai dikenal. Berkat keunikannya, Bima dan beberapa temannya diundang ke berbagai kota untuk tampil dan memperkenalkan olahraga ini di sana. Selain di Malang sendiri, beberapa kota yang dikunjungi sejak akhir 2013, antara lain adalah Urban Fest di Jakarta, Blitar dan Tuban.
Di akhir acara, biasanya mereka diminta untuk mengadakan coaching clinic. Mereka juga kerap ditantang untuk jumping dengan kostum-kostum aneh, seperti kostum Firaun yang penuh aksesoris sehingga menambah berat dan kesulitan permainan.
Meski mulai disukai, tapi tetap saja masih jarang ada yang punya nyali untuk mencoba. Selain karena dinilai sulit, juga karena langka dan mahalnya alat jumping stilts. Untuk merk terbaik sekitar Rp. 4-5 juta per pasangnya.
‘’Olahraga ini dibuat oleh Alexander Boeck, aerospace asal Jerman yang memiliki hak paten alat jumping stilts pada sekitar tahun 2000 sehingga alat itu juga harus impor dari sana. Ada juga sih, yang buatan China, tapi tidak kokoh,’’ tutur Joko.
Jumper pemula, jelas Joko, dapat memulai latihan dengan belajar berjalan, lari, dan melompat kecil. Jika sudah menguasai gerakan dasar tersebut, mereka dapat melanjutkan dengan berlatih meloncat dengan posisi tangan mendekap kaki ke kiri dan kanan atau disebut gaya tuck. Disusul dengan posisi kedua tangan terbuka dan dada membusung, lalu dilanjutkan dengan gaya side tuck dan side kick.
‘’Selanjutnya, gaya jumping-nya semakin kompleks dan rumit. Misalnya star straddle dan giant leap atau lompatan raksasa dengan posisi kaki melangkah lebar hingga posisi split ke depan dan ke belakang,’’ terang Bimo melanjutkan penjelasan Joko.
Selain gerakan yang dijelaskan Bimo dan Joko, ada pula free style jumping stilts yang menggabungkan beberapa gerakan ekstrem sekaligus.
Mengingat olahraga ini tidak semudah olahraga lain, tidak heran jika dalam latihan, jumper sesekali terjatuh. Namun, dengan berlatih teknik yang tepat dan menggunakan protector, jumper dapat meminimalisir jatuh dan terluka.
Bima sendiri, mengaku pernah terjatuh karena tidak konsentrasi saat landing sambil meredam pegas, sehingga ia harus mendapat tiga jahitan di pelipisnya.
‘’Tapi kami yang sudah hobi, tetap bandel dan lanjut terus. Sebab sakitnya hanya sebentar, terbayar saat bisa melompat tinggi dan berteriak di udara,’’ ujar Galang menutup penjelasan kedua sahabatnya tersebut. (laily salimah)