Mengenang Kejayaan Kapal Cheng Ho Ala Museum Angkut

SIAPA yang tidak mengenal kapal Cheng Ho, sebuah kapal penjelajah dunia sekitar tahun 1403 hingga 1424. Malahan salah satu sejarah mencatat Laksamana Cheng Ho, pemimpin kapal legendaris itu adalah penemu benua Amerika, selain Christoper Columbus. Kapal legendaris itu sekarang berada di Kota Batu, sebagai salah satu Museum Angkut and Movie Star.
Sebuah kapal berada di dekat areal parkir Museum Angkut meski di Kota Batu jauh dari laut. Kapal tersebut bukan berukuran mini, tetapi berukuran lumayan besar karena panjang empat meter dan panjang sekitar 15 meter. Kapal berwarna dasar coklat itu juga mengapung di atas air. Jika dilihat dari titik nol dampat dak (lantai dua) memiliki tinggi sekitar tiga meter. Sdeangkan layar dan tiang jauh lebih tinggi dari dak kapal tersebut.
Kapal di atas air Museum Angkut itulah miniatur kapal Cheng Ho. Layar yang ada pada kapal tersebut adalah ciri khas kapal yang sudah mengunjungi Indonesia selama tujuh kali selama massa kejayaan. Di Museum Angkut, kapal tersebut diletakkan pada pasar terapung sehingga bisa membawa pengunjung benar-benar terasa dalam sebuah pelabuhan massa lalu.
"Kalau malam hari, view luar biasa dari kapal Cheng Ho ini. Pengunjung bisa naik, bisa berkuliner di atas kapal dengan bakar ikan. Suasana di sekitar adalah pasar terapung sehingga mereka seperti benar-benar berada di pelabuhan yang disinggahi kapal Cheng Ho," ungkap Titik S Ariyanto, Manajer Museum Angkut and Movie Star.
Kapal tersebuta dibuat oleh arsitektur asal Surabaya bernama Edwin Nafarin. Namun sang pelaksana adalah tukang las asli Batu. Arsitek dan tukang las tersebut membutuhkan waktu satu bulan untuk membuat Kapal Cheng Ho yang sekarang sudah jadi.
Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kapal tersebut berasal dari besi holo dan woodplank. Sedangkan sebagian lagi dari kayu. Meski ada besi, namun kapal yang sudah jadi tersebut nampak berasal dari kayu semua seperti kapal aslinya.
"Kami pasti memberdayakan warga Kota Batu untuk pembuatan koleksi di sini. Termasuk tukang las yang membuat kapal. Dengan pengarahan seorang arsitek, tukang las Kota Batu juga bisa membuat kapal,'" tegas mantan Manajer Marketing Jatim Park 1 ini.
Titik menjelaskan, pembuatan Kapal Cheng Ho di Museum Angkut untuk menghargai para pembuat pada eranya. Kapal tersebut merupakan kapal terbesar di zamanya dan bisa mengarungi dunia. Dia juga menyebut sebagian awak kapal adalah orang-orang Indonesia. Tanpa ada orang Indonesia yang gagah berani dalam pelayaran, kapal itu tidak bisa sukses dalam melayari dunia.
Dilihat dari ukuran, kapal Cheng Ho milik Museum Angkut masih jauh dari aslinya. Berdasarkan sejarah, kapal itu memiliki panjang 138 meter dan lebar 58 meter. Kapal Cheng Ho memiliki kapasitas sekitar 2500 ton.
Dalam sekali pelayaran, Kapal Cheng Ho bisa membawa awak sebanyak 27000 orang. Mereka biasa membawa sapi, kambing hingga perbekalan makanan dalam bentuk lain. Sapi dan kambing bisa di sembelih di atas kapal saat pelayaran. Kapal juga selalu membawa bambu China dan sutera dalam jumlah besar. Bambu dan sutera itu digunakan untuk kepentingan berlayar.
"Cheng Ho juga banyak berjasa bagi kehidupan di Indonesia. Terbukti saat ini Cheng Ho diabadikan sebagai nama masjid. Banyak jua peringatan dilakukan warga Indonesia untuk mengenang Kapal Cheng Ho. Ketika datang ke sini dan pengunjung masuk ke kapal Cheng Ho, mereka akan bisa mengenang kapal legendaris tersebut," tegasnya.
Dai catatan sejarah,  Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa "Cakra Donya" kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.
Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Pernah dalam perjalanannya melalui laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong. Warga Semarang juga biasa merayakan kejayaan Cheng Ho untuk penghargaan. Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana. (febri setyawan)