Oyisam! Clothing Buatan Kendalpayak Tembus Pasar Asia

Siapa sangka, dari modal hanya Rp 50 ribu, bisnis clothing lokal yang dijalankan dengan ulet, bisa meraup omset hingga puluhan juta. Itulah yang dibuktikan Rofi Nur Aziz Saputra. Mengusung bendera Oyisam! Clothing, lajang asal Kendalpayak, Kabupaten Malang itu sukses menjadi entrepreneur sukses di usia masih cukup muda. 20 tahun.

SEKILAS, toko di tepi Jalan Raya Kendalpayak, samping Gang Dahlia itu, tak ubahnya toko-toko lain di sekitarnya. Jika tak melihat spanduk papan nama, yang terpajang di atap pintu, orang awam akan melihatnya seperti toko kelontong. Jauh dari kesan kebanyakan gerai clothing alias distro.
Tapi, di gerai seluas tak lebih dari 24 m3 itu, bisnis dengan penghasilan berkisar Rp 24-30 juta, bisa dikeruk setiap bulan. Semua itu tak lain berkat kerja keras Rofi, yang telaten menjalankan usaha clothing sejak tahun 2012 silam. Mengadopsi boso walikan dengan arti ‘Iya Mas’, brand kreasinya sudah menjelajah tanah air. Bahkan tembus pasar Hongkong dan Taiwan.
‘’Yang pesan Aremanita yang bekerja di sana. Jumlahnya masih lusinan, belum sampai ratusan. Tapi, semoga menjadi awal yang baik. Karena artinya produk saya sudah dikenal sampai ke luar negeri,’’ terang Rofi kepada Malang Post.
Arema dan Aremania, memang menjadi pangsa pasar clothing yang awalnya bernama Inspouf (inspiration outdo fact) tersebut. Tak terkecuali Arek Malang di perantauan. Mulai dari ranah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara sampai Papua.
Desain yang ditawarkan Rofi, tak muluk-muluk. Dia banyak menggunakan bahasa walikan khas Malang, sebagai magnet produknya. Memadukan konsep elegan, dibumbui nuansa Arema yang cukup kental, jadilah satu brand dengan image kuat di mata konsumen. ‘’Untuk setiap desain, saya hanya produksi 24 pieces saja,’’ ujarnya menegaskan kesan eksklusif untuk setiap produknya.
Apalagi, alumni SMKN 4 Malang ini membanderol produknya dengan harga yang cukup masuk akal. Tidak murahan. Namun terjangkau bagi seluruh kalangan masyarakat. Mulai dari kaos anak-anak yang dilego Rp 40 ribu, jaket Rp 120 ribu hingga sepatu bertarif Rp 120-190 ribu.
Selain membuka gerai di Kendalpayak, yang tak jauh dari rumahnya di Gang Cempaka, Rofi juga menjalankan bisnisnya lewat sistem online. Dia memanfaatkan website resmi Oyisam! Clothing dan jejaring sosial Facebook (FB). Bahkan dari FB lah, pemuda kelahiran 18 November 1993 ini mengawali kisah suksesnya.
Untuk pertama kalinya, putra semata wayang pasangan Rofiul Sutono dan Siti Asiya ini, menjual produk kreasinya via FB ke salah seorang teman. Modalnya pun hanya Rp 50 ribu. ‘’Rp 25 ribu saya buat beli kaos polos di Pasar Besar, yang Rp 25 ribu sisanya untuk biaya sablon. Saya untung Rp 5 ribu saja waktu saya jual ke salah satu kenalan di Facebook,’’ kenangnya sambil bercerita.
Semua itu berawal dari rasa penasarannya menjadi seorang ‘saudagar’. Dia ingin merasakan bagaimana menjadi seorang wirausahawan, yang tak harus bekerja bergantung kepada orang lain. ‘’Saya pernah magang di salah satu usaha offset di kawasan Janti. Kerjanya berat. Sehari cuma dapat Rp 10 ribu. Saya pikir mending buka usaha sendiri dan penghasilannya lebih besar,’’ paparnya.
Tanpa bekal kemampuan di bidang bisnis maupun desain grafis, pemuda ramah yang semasa sekolah mengambil jurusan produksi ini, nekat mencoba peruntungan secara otodidak. Dia mengkreasi sendiri desain di kaos polos yang kemudian disablon dan dijualnya via online tersebut. Siapa sangka, Rofi malah jadi keterusan.
Lulusan SMPN 1 Bululawang ini, lantas belajar sistem online shop kepada penjaga rental internet di kampungnya. Di tempat yang sama, dia juga belajar bagaimana mendesain pakaian dengan aplikasi di komputer. Rupanya, dia tak kesulitan belajar. Cara kerja menjual kaos berdasarkan order terus dijalaninya, saat itu dia masih duduk di bangku kelas XI SMK.
Pada satu kesempatan, Rofi berpikir mengembangkan usahanya lebih maju dan lebih kuat lagi. Dia pun tak sungkan meminta nasehat dari wirausahan senior yang jauh lebih berpenglaman bernama Pak Ndaru. ‘’Beliau mengistilahkan, kalau mau dapat ikan besar, maka harus pakai perahu besar. Saya pun berpikir untuk punya gerai sendiri dan menjual produk lebih variatif,’’ bebernya.
Memotret satu demi satu contoh produk pakaian di Pasar Besar Malang pun dilakoninya. Tak jarang, dia sharing dengan pedagang di sana. Ilmu bisnisnya pun mulai terasah, sehingga akhirnya berani menyewa rumah tetangga dengan bantuan biaya dari sang bapak. Di rumah kontrakan itulah, Oyisam! Clothing berdiri mulai tahun 2013 sampai sekarang.
Inisiatif nama Oyisam sendiri, berangkat dari fenomena banyaknya dia menerima jawaban tersebut saat berkomunikasi dengan calon konsumen. ‘’Biasanya saya SMS untuk memastikan apa mereka jadi pesan. Lalu jawabannya rata-rata oyi sam. Ya akhirnya jadi sugesti buat saya untuk mengadaptasi istilah tersebut,’’ jelasnya.
Rofi mengungkapkan, selama ini produknya laris manis juga terbantu lokasi gerainya yang strategis. Seperti diketahui, Jalan Raya Kendalpayak menjadi salah satu akses jalur menuju Stadion Kanjuruhan di Kepanjen.
Menyiasati animo pembeli dan banyaknya order dari pelanggan, Rofi biasanya sudah menyiapkan stok melimpah jauh hari jelang hari-H laga home klub berlogo kepala singa. Selama ini, dia hanya dibantu tenaga penjahit yang tak lain adalah bibinya sendiri dan urusan sablon dia percayakan kepada rekannya.
Sebagai pelaku bisnis, jatuh bangun jelas menjadi hal yang wajar dan rupanya juga sudah dirasakan getirnya oleh pemuda jangkung ini. Dia mengaku pernah ditipu pelanggan asal Lombok. Jumlahnya memang tidak seberapa, hanya Rp 800 ribu. Tapi itu nominal yang lumayan besar bagi seorang pemuda yang baru merintis usaha kala itu. ‘’Tapi saya tidak mau jadi pecundang. Justru pengalaman itu saya jadikan cambuk supaya lebih kerja keras,’’ serunya.
Cibiran dan cemoohan juga sempat dilayangkan kepadanya. Banyak teman memandang usaha Rofi dengan sebelah mata. Mereka menganggap Oyisam! Clothing yang dikelola Rofi tidak seistimewa seperti digaungkan publik di dunia maya. Namun, Rofi menanggapinya santai dan tak ambil pusing.
Kendala pengiriman juga menjadi salah satu hambatan. Dia bingung cara efektif untuk mengirimkan paket ke luar negeri. Sejauh ini, dia hanya mengandalkan pengiriman melalui PT POS Indonesia. Sayangnya, kiriman agak lama sampai ke tangan penerima di luar negeri.
Namun, pengalaman berkesan juga tak luput mewarnai perjalanannya. Salah satu yang paling diingatnya adalah momen dimana barang dagangannya bisa laku sampai 300 pieces dalam even Arema Fest Carnival medio Agustus 2013.
Pada even yang dihelat di Jalan Sriwijaya, Klojen tersebut, Rofi kaget produknya laris manis. Kaos-kaos yang dibawanya dalam dua karung semuanya sold out.
Menilik keberhasilan sejauh ini, pemuda 20 tahun ini bertekad bisa segera membuka cabang di Kota Malang. ‘’Kalau duit tabungan sudah cukup, mau beli tempat ini yang sementara masih kontrak. Selain itu juga buka cabang di kawasan kota, karena kata teman-teman di Kendalpayak terlalu jauh dari pusat kota,’’ katanya optimis.
Rofi juga bermimpi Oyisam! Clothing bisa menyamai pamor Joger Bali. ‘’Saya ingin mengenalkan Arema ke seluruh penjuru negeri, bahkan luar negeri. Arema tidak hanya berkutat soal sepakbola, tapi juga gaya hidup. Kita coba kenalkan Malang lewat media clothing. Jadi, seperti Joger di Bali. Clothing bisa menjadi barang oleh-oleh khas dan jujugan pariwisata di Malang,’’ pungkasnya. (tommy yuda pamungkas)