Produsen Dupa Kabupaten Malang Pemasok Kebutuhan Bali

Kalangan Tionghoa maupun penganut Hindu, kerapkali menggunakan dupa, sebagai pelengkap yang selalu ada dalam ibadahnya. Ibarat makan yang sampai tiga kali sehari, begitu pula kebutuhan dupa ini bagi mereka. Bali menjadi satu tempat yang paling besar konsumsi dupa tersebut. Namun ternyata, Malang menjadi produsen dupa untuk menyuplai kebutuhan Bali.

Malang Post mencoba menelusuri salah satu produsen dupa, di Kabupaten Malang. Tepatnya di Jalan Moncowarno Desa Bendo Kecamatan Pakisaji. Ada sebuah home industri yang memproduksi dupa. Namanya Terang Jaya Dupa. Sebuah produsen dupa, yang memasarkan hasil produksinya jauh ke Pulau Bali.
’’Lebih tepatnya sebagian besar memang distribusi dupa kami di Bali. Kami jadi distributor untuk suplier di sana. Bentuknya masih dupa mentahan,’’ ungkap owner Terang Jaya Dupa, Martha Yuliana Siswanto.
Dupa masih mentahan, sebab tidak ada packing dupa siap jual seperti di pasaran. Yang ada, dupa masih berwarna abu-abu untuk bagian badan yang biasa dibakar.
’’Masih alami. Berupa warna dasar yang didapatkan dari kopyokan atau olahan kalsium, batok kelapa, serbuk sisa pemotongan pohon dan soda api. Nanti ketika di suplier di Bali, mereka yang menambah warna dan packing dengan merek sendiri,’’ papar dia panjang lebar.
Menurut dia, usaha dupa ini sudah berlangsung sejak enam tahun lalu. Berawal dari rasa penasaran ketika berkunjung ke Bali dan ada seorang suplier yang menyebutkan, jika di Malang potensi memproduksi dupa sangat bagus.
Sejak itulah, orang tua Martha menekuni bisnis ini. Sebab, memang benar, ketersediaan bahan baku di Kabupaten Malang khususnya, sangat melimpah. Misalnya saja bambu sebagai bahan baku bitingan dupa. Selain itu serbuk dari kayu yang menjadi bahan campuran dupa itu sendiri.
Martha yang mulai berani mengelola usaha ini tiga tahun terakhir menyebutkan, ketersediaan bahan ini, membuat produksinya tergolong besar. Dengan 16 pekerja yang dibagi dalam empat bagian pekerjaan, kini Terang Jaya Dupa memproduksi 500 kg dupa per hari.
’’Pembagian pekerjanya mulai dari pembuat bitingan dupa dari bambu. Lalu pengolah dupa, bagian packing dan bagian umum. Tetapi kadang juga bisa mengerjakan semua,’’ beber dia.
Dia mengakui, proses membuat dupa mentahan ini, masih secara manual. Sehingga, kapasitas produksinya juga masih di kisaran 500 kg per hari.
Padahal, proses pembuatan dupa ini sangatlah mudah. Mulai dari pembuatan bitingan sebagai langkah awal. Ukurannya sesuai dengan permintaan, bisa 22 cm, 28 cm, 32 cm atau 36 cm.  Begitu selesai, bagian bawah bitingan diberi warna untuk batas isian dupa dengan gagangya.
’’Di tempat ini gagangan cuma terdiri dari dua warna. Antara merah atau hitam. Kecuali ada request. Setelah diwarnai dijemur selama 6-8 jam tergantung terik matahari,’’ urai perempuan yang hobi traveling ini.
Setelah pewarnaan gagang selesai, masuk ke proses pembuatan badan dupa. Melalui olahan kalsium, serbuk pohon hingga soda api yang terdiri dari tiga tahap. Perlu kecermatan di proses ini, bila tidak dupa akan susah dibakar atau justru tidak bisa dibakar. Setelah itu dianginkan sejenak agar kering, sebelum masuk ke proses terakhir, yakni packing.
Packingan berisi 40 kilogram dupa. Jadi dalam sehari, bisa menghasilkan 12-13 ball dupa. Menurut perempuan yang pernah mengambil pendidikan di Universitas Ciputra ini, setelah berjumlah empat ton, tiba waktu pengiriman.
Perempuan yang mengaku sebagai Hitaci (Hitam tapi Cina) ini mamaparkan, pengiriman berlangsung seminggu sekali. Dalam sebulan rata-rata antara 4-5 kali pengiriman, dengan omzet di kisaran Rp 30-40 juta per pengiriman. ‘’Yang pasti tiap minggu pasti kirim ke Bali,’’ tegas dia.
Apalagi, permintaan meningkat ketika menjelang hari raya di Bali. Misalnya Maret ini akan ada Nyepi. Permintaan meningkat hingga 50 persen. Hal ini membuat pegawai terkadang lembur untuk mengejar target. Menurutnya tidak masalah, sebab pegawainya juga berasal dari desa sekitar. Apalagi, bila mereka enggan pulang, juga tersedia mess di lokasi produksi.
Ketika disinggung tidak inginkah melebarkan sayap untuk distribusinya, dia mengakui bisa jadi. Sebab, sudah ada penawaran untuk pengiriman dupa ke wilayah Asia. ‘’Dari Thailand dan Myanmar sempat menawari. Tetapi belum siap produksi bila dalam waktu dekat,’’ pungkas dia. (Stenly Rehardson)