Ketika Seniman di Kota Malang Sedang Galau

Senandung gamelan keluar dari bibir Sutak Wardhiono di pendopo Gedung Dewan Kesenian Kota Malang (DKM). Irama gamelan dari Sutak sang penari ini, diikuti gerakan tarian dari Yongki Irawan dan Dyah Mayang Sari. Ketiga penari ini kemudian bergerak menari secara pantomim, seiring tenggelamnya senandung dari Sutak.

Hari itu, Minggu (16/3), tiga penari, tengah galau berjamaah. Bersama seniman lainnya. Mereka menunggu detik-detik fit and proper test, calon Ketua Dewan Kesenian Kota Malang periode 2014 – 2018. Disela proses fit and proper test itu, cerita mengenai kegagahan dan eksistensi DKM era lama, meluncur dengan bebas.
Dari sudut pandang seni tari, beberapa dekade ini, telah terjadi penurunan pembinaan di Kota Malang. Dalam hal ini, yang menjadi acuan adalah eksistensi seniman dari DKM dari masa ke masa. Saat ini, tak bisa dilihat lagi aktifitas berlatih tari di gedung DKM, secara rutin.
Yongki Irawan, Sutak Wardhiono dan Dyah Mayang Sari, mewakili seniman tari dari tahun yang berbeda. Paling senior adalah Yongki Irawan, yang telah menggeluti bidang seni ini sejak DKM lahir.
Era 1970 – 1976, Yongki eksis dalam sanggar Setowulan. Sanggar ini bahkan turut mewarnai Kota Malang dengan menciptakan tari petik apel. Tarian yang kemudian dikirim ke Jambore Nasional Pramuka pada tahun 1972.
Sedangkan Sutak Wardhiono dari era 1981, mengawali giat seni tari dari kursus di Senaputra. Dia kemudian menjadi asisten pelatih tari, dan pada tahun 1984 mulai berkiprah di DKM.
Lain lagi dengan Dyah Mayang Sari. Paling muda. Namun memiliki darah seni yang kuat. Sari sapaan akrabnya, tak lain adalah putri dari budayawan Malang, Ki Jathi Kusumo. Dia sejak kecil telah menggeluti seni tari, bahkan masih merasakan tumbuh berkembangnya DKM pada era 1990-an.
‘’Saya ingat pada masa Ebes Sugiyono. Ada kesimbungan antara seniman dan pemerintah. Hubungan itu putus pada masa wali kota Soesamto,’’ ujar Sutak.
Menurut Sutak, konsep rasa dan budaya telah bergeser ke sisi ekonomi dan politik. Bahkan seni budaya, kalah dengan pedagang kaki lima (PKL) dan tukang parkir. Karena memiliki dimensi ekonomi, akhirnya hanya PKL dan parkir yang diatur pemerintah.
‘’Dewan kesenian malah tidak. Sehingga kondisinya seperti ini. Padahal dulu dirangkul dengan sangat baik oleh pemerintah. Kami dihargai,’’ jelasnya.
Contoh nyata, selama ini DKM tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah. Hal itu tampak dari minimnya media apresiasi kepada seniman lokal. Padahal mereka juga telah menunjukkan wujud karya seni, sebagai tanggung jawab sebagai seniman.
‘’Yang ada dukungan, ya pada era 1990 dan sebelumnya. Pada waktu itu, HUT Kota ada tradisi tari massal, bahkan hingga turun hingga RW. Fakta sekarang berbeda. Kita diminta menjaga seni tradisional. Disuruh membina pelestarian budaya. Tapi mereka (pemerintah) hanya minta yang sudah jadi. Tanpa mau turun,’’ urainya.
Sutak setiap tahun selalu menciptakan karya tari. Diantaranya Geol Barong, tari Jagal atau jaranan galau. Galau karena pengembangan seni jaranan saat ini, melantur dari filosofi simbol-simbolnya. Misal, jaranan dibuat dari gedek, saat itu memiliki dimensi filosofi tertentu.
Yongki Irawan yang telah berkarya sejak tahun 1970, juga galau dengan sikap pemerintah. Pentas musik cadas di Rampal misalnya, digelar dengan balutan spektakular. Namun hal sama tidak akan berlaku ketika yang dipentaskan adalah seni tradisional. ‘’Padahal, seni tradisional itu adalah bahasa rasa yang mempertebal insting,’’ tegasnya.
Dalam bidang seni tari rakyat, Kota Malang memiliki banyak seniman andal. Ada beberapa yang kini sudah menjadi calon professor, dalam bidang seni tari. Sama seperti Sutak, Yongki merasakan tumbuhnya seni budaya di Kota Malang benar-benar terjaga pada 1990.
‘’Sampai hari ini, karya-karya seni tari tidak meletup booming menjadi milik masyarakat,’’ ujarnya.
Pihaknya hanya berharap, pemerintah memanusiakan seniman sebagai manusia. Dia melihat adanya banyak anggaran besar di berbagai pos. Misalnya  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Infokom dan Dinas Pendidikan. Selama ini pemerintah kurang memberikan media apresiasi.
‘’Kami para seniman akan mengembalikan budaya lama. Dulu ada arisan karya. Caranya dengan patungan sesama seniman. Dibethok dalam bentuk pagelaran. Dikopyok sesama seniman,’’ terangnya.
Yongki sendiri bergerilya mempertahankan seni tari bersama teman-temannya. Contohnya membuat video tari beskalan putri dan buku panduannya. Buku belum tercetak, sedangkan video telah diproduksi bersama tari grebeg jowo dan topeng bapang. Yang ada di pangsa pasar baru beskalan putri, itu diproduksi dari kantong sendiri.
‘’Ternyata ada guru yang membutuhkan video seperti ini. Sayang ongkosnya mahal. Satu kali produksi minim 1000 keping, untuk master dan izin sensor mencapai diatas Rp 10 juta, total bisa 15 juta untuk awal,’’ terangnya.
Adapun Dyah Mayang Sari, mengakui dirinya rindu dengan masa lalu. Ketika itu, setiap hari, di DKM ada pelatihan seni tari dan berbagai cabang seni lainnya. Semuanya diberikan secara gratis oleh seniman kepada masyarakat. Sebab pemerintah memberikan support anggaran untuk media karya.
Para seniman yang mengajar di DKM, ketika itu tak dibayar. Namun mereka memiliki kepuasan karena bisa unjuk karya dalam even tertentu. Biasanya, akan ada adu karya dari masing-masing seniman sebelum ada pentas besar dengan dana dari pemerintah.
‘’Saya ingat, dulu menari beskalan putri juga belajar di DKM. Tari klasik ini yang kemudian menjadi karakter saya, meski sekarang sudah ke ranah salsa,’’ ujar Ketua Lembaga Kesenian Indrokilo ini.
Kegalauan para seniman itu belum berhenti hingga dimanusiakan penguasa. Sebab, pengembangan seni dan budaya, harus sejalan dengan dukungan pemerintah.
Para seniman juga galau, apakah Ketua DKM mereka era 2014-2018, bisa membawa revitalisasi Dewan Kesenian Kota Malang, seperti era 1990-an. (Bagus Ary Wicaksono)