Ketika Mantan Atlet Angkat Besi Ingin Balas Budi

Merasa namanya dibesarkan angkat besi, Muslimin ingin berkontribusi terhadap cabang olahraga (cabor) ini. Balas budi kepada cabor yang telah berjasa padanya, direalisasikan melalui pengabdian dan totalitas membina atlet-atlet muda. Termasuk membangun asrama dengan dana ratusan juta.

Muslimin yang bukan siapa-siapa, sebelum mengenal cabor angkat besi, kini namanya selalu disebut, setiap atlet asal Malang, meraih prestasi. Bagaimana tidak, pria kelahiran Malang, 29 Februari 1980 adalah orang berada di balik layar atas suksesnya atlet-atlet angkat besi Kota Malang saat meraih prestasi.
Berawal dari sukses menyabet medali emas dalam PON Kalimantan Timur (Kaltim) 2008, bonus yang ia dapat mulai ditabung untuk melaksanakan keinginannya. Ia telah lama menyimpan hasrat untuk membangun asrama atlet. Asrama itu, selain digunakan untuk tempat bermukim, juga untuk latihan sehari-hari.
‘’Dari PON Kaltim 2008 itu, saya mendapat bonus sekitar Rp 100 juta. Akhirnya saya bilang bilang ke istri saya, agar uang tersebut digunakan untuk membangun asrama,’’ kata Muslimin kepada Malang Post.
Gayung bersambut, istri Muslimin, Rahmawati, mendukung langkahnya. Alhasil uang tersebut ditabung untuk menunggu terkumpul. Sebelumnya, Muslimin sudah rutin menggelar latihan bersama di rumahnya, Jl. Teluk Cendrawasih, Malang. Dalam latihan tersebut, Muslimim mengkoordinir anak-anak yang tingal di sekitar rumahnya.
‘’Ada sekitar tujuh anak yang ingin ikut latihan. Akhirnya saya bina. Sekarang tiga orang sudah berhasil jadi atlet bagus,’’ jelas Muslimin.
Anak keempat dari pasangan Mat Kuri (alm) dan Nabsiah ini kemudian mampu merealisasikan niatnya membangun asrama pada akhir tahun 2011.
Kala itu, sebagai pelatih, muslimin berhasil membawa pulang medali terbanyak bagi Kota Malang di ajang Porprov 2011. Setidaknya 11 emas, 1 perak, dan 6 perunggu dipersembahkan bagi Kota Malang.
Dari keberhasilan itu, Muslimin mendapat bonus sebagai pelatih sebesar Rp 100 juta. Dana tersebut digabungkan dengan hasil tabungannya, ia gunakan untuk membangun asrama yang terletak di sekitar rumahnya.
Sukses serupa terulang pada Porprov 2013. Atlet-atlet yang ia bina mampu menggondol 10 emas, 1 perak, dan 2 perunggu. Kali ini Muslimin mendapatkan bonus sebesar Rp 90 juta. Semua bonus yang ia dapat ini sepenuhnya digunakan untuk pembangunan asrama yang dibangun secara bertahap.
Kini, ada delapan atlet tinggal di asrama tersebut. ‘’Kalau digabungkan dengan atlet yang dulu sebenarnya lumayan banyak. Tapi ada atlet yang sudah bergabung dengan Puslatda sebagai cadangan tim Pra Pon Jatim,’’ kata Muslimin.
Pria yang masa kecilnya pernah hidup sebagai tukang becak dan ojek payung ini memperkirakan, total uang yang sudah ia habiskan untuk pembangunan asrama dan pembelian alat latihan sudah mencapai kisaran Rp 700 juta.
‘’Kalau untuk membangun asrama sepenuhnya dari uang saya sendiri. Sedangkan untuk membeli alat-alat latihan. Kita dibantu oleh KONI Kota Malang sebesar Rp 300 juta untuk membeli tiga set alat latihan,’’ tambahnya.
Dari semua atlet yang tinggal di asrama, Muslimin tak menarik biaya seperserpun. Termasuk biaya latihan dan kebutuhan makan sehari-hari para atlet ditanggung oleh Muslimin.
‘’Istri saya yang memasak untuk makan sehari-hari. Kalau untuk sekolah, sementara ini masih dibiayai orang tua atlet. Kecuali yang sudah berprestasi dan mendapat beasiswa pendidikan,’’ tandasnya.
Latar belakang dari pembangunan asrama ini, menurutnya ialah demi keberlangsungan olahraga angkat besi Kota Malang. ‘’Tujuan pembangunan asrama ini sebenarnya saya ingin ada pembinaan atlet angkat besi Kota Malang secara intens. Jadi atlet tidak perlu pulang-pergi ketika latihan,’’ tutur pria yang hanya mengenyam bangku sekolah sampai kelas 3 SD ini.
Ke depan, ia berharap para atlet yang ia bina terus berlatih secara serius agar mampu berprestasi lebih. Muslimin juga mempersilahkan bagi siapa saja yang ingin tinggal dan berlatih di asramanya.
‘’Asrama ini terbuka bagi siapapun. Kalau ada atlet muda yang ingin tinggal dan berlatih di sini, saya persilahkan dengan senang hati,’’ pungkasnya. (muhammad choirul)