Oktaviani Wulansari, Mahasiswa Difabel yang Miss Deaf 2012

MEMILIKI keterbatasan pendengaran dan berbicara, tak lantas membuat Oktaviani Wulansari, patah arah. Mahasiswi Psikologi 2013 Universitas Brawijaya (UB) ini, bahkan pernah mencatatkan prestasi luar biasa. Sebagai wakil Indonesia dalam ajang Miss Deaf 2012 (Putri Tuna Rungu). Penyandang tuna rungu ini tercatat sebagai salah satu mahasiswa Program Beasiswa Bidimisi yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) diatas 3, yang mendapat kehormatan diundang khusus bertemu Presiden SBY dan  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh.

Kalau ingin bertemu dengan mahasiswa difabel di kampus UB, maka datanglah ke Gedung Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD). Tepatnya berada di belakang Gedung Rektorat. Di tempat ini, para mahasiswa penyandang ke tuna-an biasanya berkumpul bersama relawan mahasiswa yang mendampingi mahasiswa difabel.
Malang Post bertemu dengan Oktaviani Wulansari di salah satu ruangan di gedung PSLD. Siang itu, ia terlihat santai dengan baju casual bernuansa biru.
Selintas tak akan ada yang tahu bahwa Ovik, sapaan akrab Oktaviani Wulansari, adalah mahasiswa difabel. Tubuhnya tinggi semampai, hidungnya mancung, kulitnya bersih dan matanya selalu bersinar saat berbicara. Ia juga tak terlihat menutup diri atau menyendiri justru banyak yang ingin berbincang dengan mahasiswi cantik itu.
‘’Saya bersama teman baru namanya Rena dari Psikologi angkatan 2010. Rena mau belajar bahasa isyarat karena itu tadi kami janjian bertemu di fakultas,’’ ucap Siti Fauziah yang menerjemahkan bahasa isyarat yang diungkapkan Ovik.
Siti Fauziah adalah salah satu volunteer mahasiswa yang bertugas mendampingi mahasiswa difabel. Sebelumnya, ia sudah dilatih khusus oleh kampus bersama puluhan relawan lainnya. Biasanya relawan ini pula yang membantu mahasiswa difabel untuk memahami pembelajaran yang diberikan di kelas.
Berbincang dengan Ovik terasa amat menyenangkan, tatapan matanya begitu penuh semangat. Tak pernah terlihat kabut kesedihan atau rasa malu ketika ia bercerita tentang kondisinya. Alumnus SMA Luar Biasa di Solo ini, di keluarganya adalah satu-satunya yang memiliki keistimewaan. ‘’Dua adik saya normal, hanya saya yang punya ke tuna-an,’’ ungkapnya sembari tersenyum manis.
Sikap dewasa yang kini dimiliki Ovik, memang tak tumbuh begitu saja. Awalnya pernah minder dan tidak percaya diri dengan kondisinya. Kepercayaan diri itu, perlahan tumbuh sejak ia rajin mengikuti lomba modeling sampai akhirnya ia terpilih menjadi wakil Indonesia di ajang Miss Deaf 2012.
Kontes Miss Deaf ini mirip pemilihan Miss Universe namun pesertanya khusus penyandang tuna rungu. Miss Deaf World digelar Juli 2012 di Praha, Republik Cek. ‘’Waktu itu saya masuk 12 besar, dan ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya,’’ ucapnya.
Ovik memang sudah jatuh cinta dengan dunia modeling. Dia berharap bisa segera lulus dan menekuni dunia itu. Sosok idolanya adalah Angkie Yudistia, model dan pengusaha hebat yang juga seorang tuna rungu. Bahkan ia berharap suatu saat bisa mengikuti kompetisi model yang pesertanya umum.
Sayangnya Okvi belum menemukan agensi model yang pas dan bisa membimbingnya. ‘’Saya sudah kangen bisa tampil di panggung lagi,’’ ujarnya penuh semangat.
Kelahiran Solo 19 Oktober 1992 ini sekarang harus berjuang di UB untuk bisa menyandang gelar sarjana. Saat UB membuka program penerimaan disabilitas, ia bersemangat untuk mendaftar, walau awalnya orang tuanya tidak yakin melepasnya sendiri di Malang.
Namun Ovik berhasil membuktikan, dia bisa hidup mandiri, berada di tempat kos yang tak jauh dari kampus. Ia kini bahkan aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Psikologi dan akan mendaftar menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Tak hanya itu, ia juga berhasil meraih IPK 3,15 selama dua semester studi di UB. Berkat prestasinya itu pula, Ovik yang menjadi penerima beasiswa Bidikmisi diundang khusus ke Jakarta bertemu dengan Presiden SBY dan Mendikbud M Nuh pada Februari lalu. Ia dan 22 mahasiswa Bidikmisi UB yang berangkat ke Jakarta dalam acara silaturahmi nasional penerima Bidikmisi.
‘’Waktu semester satu saya sempat merasa putus asa karena sulit sekali mata kuliahnya, tapi teman-teman saya baik dan memberi semangat, dukungan pada saya,’’ ungkapnya sambil memeluk Siti Fauziah yang menerjemahkan bahasa isyaratnya. (lailatul Rosida)