Jujugan Wisatawan Mancanegara, Ada Pendidikan Regular Seni

25 tahun bukanlah waktu yang singkat. Begitu pula, yang dilakoni Padepokan Mangun Dharma di Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang. Padepokan ini didirikan pada 26 Agustus 1989, nyatanya sampai hari ini tetap eksis dalam kiprahnya menjaga dan melestarikan kesenian. Fahulu hanya sebatas mengumpulkan pekerja seni, kini mulai turut bertanggung-jawab dalam menjaga tetap eksisnya kesenian daerah.
Selalu berinovasi. Gambaran itulah yang dimunculkan padepokan yang terletak persis di sisi Jalan Raya Desa Tulus Besar. Padepokan yang di bawah kendali langsung Ki Soleh Adi Pramono itu, sangat berbeda dengan layaknya padepokan-padepokan lain. Jika biasanya suatu padepokan hanya mengembangkan satu kesenian atau hanya untuk lokasi pementasan, tidak demikian dengan di lokasi Tumpang.
Padepokan itu terdaftar dan diakui oleh Direktorat Kebudayaan Internasional sebagai padepokan ‘Mangun Dharma Art Center’. Dan sedikitnya ada enam item kesenian yang bisa didalami dan dikembangkan oleh setiap penyuka seni. Bahkan, secara khusus itu pula dari masing-masing item dibuatkan pendidikan regular untuk mereka yang ingin mendalami.
Mulai wayang topeng, dari total sekitar 200 sampai 220 grup (aliran) pembuat topeng di kabupaten, pada padepokan ini justru membuat pementasan dari wayang topeng-topeng itu. Untuk pendidikan regulernya, peserta diajak menjadi dalang agar bisa menjalankan peran dari sejumlah lakon yang ada. Termasuk didalamnya, menyertakan panji dari tren yang selama ini diminati masyarakat.
“Banyak lakon yang bisa ditampilkan dari wayang topeng ini. Mulai dari cerita sejarah seperti Brawijaya sampai pada Minak Jinggo. Sementara untuk cerita-cerita lain, ada Ramayana atau mahabarata. Bahkan, kisah islami seperti Menak Agung itu pun ada di dalam cerita wayang topeng,” terang Ki Soleh, sapaan akrab pemilik Padepokan Mangun Dharma tersebut.
Kesenian lain yang bisa digali, yakni seni tari daerah Malangan. Di sebut Malangan, karena kesenian ini hanya bisa didapati di Malang Raya. Kesenian tersebut, biasanya ditampilkan pada acara yang sifatnya sacral dan memiliki gerak korografi, tata busana dan iringan yang sedikit melemah.
“Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian-kesenian yang ada itu kemudian dipadatkan tanpa mengurangi inti dari yang ditampilkan. Sehingga, dari tontonan yang awalnya butuh waktu lama dan terkesan akan membuat jenuh, kini dibuat menjadi lebih enak ditonton. Dari yang awalnya lebih untuk acara ritual kini menjadi pertunjukan,” terangnya.
Beberapa tari kesenian itu, kata mantan Ketua Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) Kabupaten Malang itu, seperti tari beskalan putri, beskalan putra, tari ruwatan Srimpi limo, tari jaran monelan sampai tari jaran dor. Sejumlah tarian itu, kini bisa mudah dijumpai di tengah masyarakat meski bukan pada prosesi sakral.
“Karena setiap kesenian biasanya ada yang menonton, seiring itu pula dibuatkan tarian tandaan dan tarub. Tarian ini, dimaksudkan untuk mengajak penonton ikut menari di penghujung acara. Tujuannya, tidak lain untuk turut melestarian kesenian. Itulah mengapa, pada sebelum Tahun 2009, di Kabupaten Malang banyak camat-camat yang meminta diajarkan tarian tayub,” terang Ki Soleh seraya menceritakan latar-belakang rinci tarian ini dibuatkan.
Bagaimana dengan dalang ? Pria yang juga mantan pengurus Litbang Pepadi Jatim itu menjelaskan, mereka yang tertarik untuk mendalami dalang, pun akan diajarkan secara gamblang di padepokan tersebut. Bahkan, tidak hanya sebatas memainkan wayang, tetapi turut memadukan langsung langsung karawitan. Sementara untuk karawitan, pun tidak ketinggalan menjadi salah satu item yang diajarkan
“Semua item kesenian terdaftar kapan pelaksanaannya. Karenanya, seperti siswa yang akan belajar, guru kesenian, wisatawan mancanegara yang datang, sudah memiliki jadwalnya. Termasuk, seperti belajar mocopat dan kerajinan wayang kulit hingga topeng,” terangnya.
Yang menarik dari sejumlah kesenian yang dikembangkan itu, mereka yang terlibat akan langsung diajak hingga pada inti kesenian yang digeluti. Seperti dalang atau pelaku wayang topeng, biasanya akan dijelaskan mengenai wajah tokoh atau lakon dan perwatakannya. Termasuk, diajarkan cara membuat dari topeng tokoh itu.
“Istilahnya di sini (padepokan), tidak hanya belajar gerak atau irama. Namun, mengajarkan gerak, irama dan rasa. Sehingga, apa yang didapat benar-benar tahu dan mengetahui,” ungkap pria yang juga menjadi anggota Sekretariat Wayang Nasional Indonesia itu.
Cukup menarik dan uniknya dari pedepokan ini, tidak hanya menyedot perhatian camat-camat di masa sebelum Tahun 2009. Namun, seperti Ketua DPRD Kabupaten Malang, Hari Sasongko, pun turut menggali ilmu di padepokan yang memiliki kelengkapan sarana dan prasana dari kesenian-kesenian daerah tersebut.
“Kebetulan Pak Hari memiliki sanggar sendiri, makanya saya yang datang ke sana untuk memperdalam ‘ilmu’ pedalangannya. Bahkan, sesekali juga diberikan waktu atau kesempatan untuk bisa tampil di sini,” urainya. (Sigit Rokhmad)