Dibimbing dengan Metode Seperti Momong Bayi

Ketika Seniman Berjuang Menjadi Guru Bagi Anak Autis

Mengajari anak-anak normal, belajar melukis, adalah hal wajar. Tapi bagaimana jika yang diajari adalah anak autis? Butuh perjuangan dan metode khusus. Itulah yang kini dilakukan pasangan suami istri pelukis, Hery Purwanto-Mazroatul Wachidiyah. Lantas bagaimana metodenya?


Kediaman Hery dan Mazroatul, tidaklah sulit dicari. Hanya berjarak 200 meter dari perempatan lampu merah Pendem (dari arah Batu). Ancer-ancernya, dua pohon kelapa gading menjulur tinggi, berada tepat di depan rumahnya. Termasuk ada papan nama bertuliskan, ‘Sanggar Kreatif’.
Di sanggar itulah, Hery dan Mazroatul, menjadi guru untuk anak-anak, agar bisa menjadi pelukis. Seperti saat Malang Post tiba, keduanya juga tengah asyik mengamati murid-muridnya melukis.
Yang menarik, dari puluhan muridnya itu, ada dua orang berkebutuhan khusus. Keduanya adalah Panji (6 tahun) dan Wildan (18). Panji masih terus mendapatkan perhatian khusus dalam melukis. Karena Panji, masih harus belajar konsentrasi.
Sedangkan, Wildan sudah mulai bisa membuat bentuk. Itu pun dibutuhkan waktu sekitar 6 tahun. Sanggar Kreatif sendiri, menerima anak autis, sejak tahun 2007 lalu. Itu pun, terkadang Wildan masih sering mengamuk, tanpa sebab.
Namun, hal tersebut sudah dianggap biasa. Mengajar anak autis, kata Hery, seperti layaknya momong bayi. Dari fisik, tampak sudah dewasa. Tapi dari perilakunya, masih seperti anak-anak.

‘’Wildan sudah lama disini dan sudah sering saya ajak pameran. Makanya perlahan kami lepas supaya bisa belajar sendiri. Kalau Panji, lebih suka warna, meskipun seharusnya masih dalam tahap belajar konsentrasi,’’ kata Hery saat ditemui di sanggarnya jalan Caru Nomor 2 Desa Pendem Kecamatan Junrejo, Kota batu.
Tidak mudah mengajari anak autis, untuk berkonsentrasi. Meski
terlihat seperti mendengarkan dan memperhatikan materi yang diajarkan, tetapi pandangannya kosong. Dibutuhkan ketelatenan, kesabaran dan ikhlas.
‘’Tahu semangat belajarnya tidak ada,  biasanya dirangsang dengan permainan kesenangan mereka. Kadang main karet, kadang pula diajak jalan-jalan,’’ ungkap pria yang pernah pameran di Museum Bank Indonesia, Jakarta, tahun 2005 bersama CP Biennale kolaborasi Pondok Seni Batu ini.
Jadi wajar, jika anak normal belajar seni rupa,  6 bulan sudah fasih dan lancer. Untuk anak autis, butuh waktu 3 sampai 5 tahun agar mendapatkan hasil bagus.
Tekadnya untuk mengajar anak berkebutuhan khusus ini, karena imajinasi anak autis, ternyata lebih liar. ‘’Motorik mereka lebih cepat bergerak melebihi pikiran batasan anak normal. Hanya perlu dilakukan rangsangan dan bimbingan yang pas dan tepat,’’ sebut alumnus FISIP UMM ini.
Dengan belajar seni rupa, nantinya anak-anak autis, bias menyeimbangkan otak kanan-kirinya. Sehingga nantinya, mereka tampak seperti anak normal.
Belum lagi, anak-anak autis, sebenarnya diberi kelebihan. Kepekaan dan memori mereka sangat kuat. Misalnya, mereka diminta untuk melukiskan perjalanan dari rumah ke sekolah, jika anak tersebut memorinya kuat, pasti hasilnya sangat bagus.
‘’Kami hanya berusaha merangsang agar otak kanan-kirinya dapat seimbang. Selebihnya adalah tanggung jawab orang tua,’’ terang ayah dari Labiqoh Az-Zahra dan Bahril Gibran Alqois itu.
Hery sendiri, berkecimpung di dunia seni rupa, ketika usianya sudah memasuki 30 tahun. Itu pun setelah dia membantu istrinya, yang pelukis, untuk mencari tantangan. Yakni mengajari anak-anak autis melukis.
Karena itulah, keduanya berbagi tugas. Hery lebih fokus pada teknis atau artistiknya. Sementara istrinya, condong pada metode pembelajaran. Sementara itu, Mazroatul menyebut, memberikan pelajaran untuk anak-anak autis, justru bisa menjadi pembelajaran bagi dirinya. Yakni menyusun sebuah standar pembelajaran, untuk anak-anak autis.
‘’Kami juga sedang mencari metode yang pas dalam pembelajaran bagi anak autis. Apalagi, dua anak ini memiliki karakter yang berbeda. Satu lebih suka warna dan satunya lebih suka pada bentuk,’’ kata perempuan yang mengajar di River Kids, Kota Malang ini. (Miskin Al Madurain)