Suprapto, 12 Tahun Menjadi Panitera Muda di PN Kepanjen

Di kalangan penegak hukum, siapa yang tidak kenal dengan sosok H Suprapto SH Mhum. Dia adalah Panitera Muda Pidana Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen. Usianya memang tidak muda, sudah 52 tahun. Tetapi semangatnya untuk bekerja sangat luar biasa. Paling tidak, 12 tahun dia menjadi panitera muda, dengan enam kali ganti ketua.

Kamis (27/3) kemarin, Pengadilan Negeri Kepanjen, di Jalan Panji Kepanjen, terlihat ramai. Mulai pukul 08.00, terlihat aktivitas orang keluar masuk halaman.
Di depan ruang sidang Cakra, tampak beberapa orang sedang menunggu sidang. Termasuk beberapa wartawan, yang terlihat mondar-mandir, menunggu sidang perdana calon legislatif (caleg) yang menjadi terdakwa pelanggaran pidana pemilu.
Di samping ruang Cakra, adalah ruangan Panitera Muda Pidana. Ruangannya berada di ujung sebelah selatan. Dari luar kaca jendela, terlihat sosok pria dengan rambut beruban, sibuk membolak-balik tumpukan kertas. Sesekali dia juga menulis dan membubuhkan tanda tangan. Dia adalah H Suprapto SH Mhum, Panitera Muda Pidana PN Kepanjen.
Suprapto berada di deretan paling depan. Samping kiri deretan mejanya, adalah meja staf panitera pidana PN Kepanjen. Kursi dan meja yang menjadi tempat kerja Suprapto itu, sudah diduduki sekitar 12 tahun lalu. Tepatnya mulai 5 Juni 2002 lalu, sejak diangkat menjadi Panitera Muda Pidana.
‘’Saya sudah cukup lama menjadi panitera. Hampir dua belas tahun lamanya,’’ ujar Suprapto kepada Malang Post mengawali pembicaraan. Selama menjabat Panitera Muda Pidana, lebih dari 12 ribu kasus yang ditangani. Dengan asumsi data setiap bulan 70 – 85 kasus.
‘’Mulai dari kasus perjudian, pencurian, narkoba, penipuan serta asusila, semuanya sudah pernah saya tangani. Termasuk kasus pelanggaran kampanye yang mulai di sidang hari ini (kemarin, Red.),’’ tutur Soeprapto.
Dari 12 ribuan kasus yang masuk ke PN Kepanjen, kasus yang ditangani Mabes Polri dan Polda Jatim, diakui memerlukan kerja ekstra keras. Seperti kasus korupsi dan narkoba. Karena begitu masuk dan didaftarkan di PN Kepanjen, harus segera mendapat rekom.
‘’Dulu saat ada kasus teroris di Bali, kemudian terduga teroris berada di wilayah Singosari, tengah malam saya dihubungi untuk membuatkan surat izin penggeledahan dan penyitaan barang. Terpaksa nglembur, karena pagi-pagi surat izin harus segera ditandatangani Ketua PN dan diberikan kepada petugas yang memina,’’ terang bapak dua anak ini.
Tidak hanya kasus teroris, Suprapto yang lahir pada 27 Maret 1962 juga sering dibuat mondar-mandir ke Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya atau MA. Dia datang sendiri ke Surabaya, untuk mengejar perpanjangan penahanan terdakwa.
‘’Biasanya yang sering membuat saya mondar-mandir ke PT dan MA kasus asusila dan narkoba, karena menyatakan banding atau kasasi setelah ada vonis,’’ terang Suprapto yang juga terpaksa merangkap sebagai panitera pengganti, karena minimnya staf di Panitera Muda Pidana.
Bahkan tak jarang, Suprapto juga didemo oleh keluarga terdakwa atau korban, yang menuntut terdakwa dibebaskan atau divonis berat. ‘’Kalau didemo saya sudah terbiasa. Namun keputusan penahanan terdakwa, semuanya ada pada hakim bukan Panitera,’’ katanya.
Lantas berapa banyak pimpinan yang sudah dia layani? Sambil tersenyum Suprapto menghitung dalam hati. Tidak lama kemudian, masih tetap dengan tersenyum, dia menyebut, ‘’sekitar enam Ketua lah,’’ sebutnya. (agung priyo)