Satu Malam, Cetak Pelakon Ludruk Rp 150 Juta

Penikmat layar kaca di era awal milenium lalu tentu masih ingat dengan acara 'Ketoprak Humor'. Mengadopsi seni budaya Jawa dengan dibalut nuansa komedi, pertunjukan kolosal yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta tertua di tanah air tersebut melejit jadi primadona di zamannya. Sukses tersebut tentu tak bisa dipisahkan dari Aries Mukadi, salah seorang kreatornya.
SIAPA bilang kesenian ludruk sudah punah? Pertanyaan itu langsung mengemuka begitu  cahaya warna-warni menyorot panggung UMM Dome, Sabtu (29/3) malam. Didesain spektakuler, kemegahan panggung di tengah hall berkapasitas 6.000 orang tersebut langsung jadi pusat perhatian penonton.
Obor api yang sengaja dipasang berderet di pelataran stage makin menambah semarak pementasan yang berlangsung malam Minggu itu. Gambaran itu langsung merontokkan persepsi bahwa ludruk yang sempat jadi hiburan populer masyarakat Jawa Timur, tinggalah sejarah.
Tak lama begitu para sinden melantunkan kidung-kidung pembuka, sejumlah pria berpakaian beskap berajut sutera warna keemasan keluar dari balik layar. Dengan logat penuh wibawa, mereka memperkenalkan diri sebagai pembesar kadipaten timur yang berafiliasi dengan pasukan Demak Bintara. Mulai dari Dipati Joyobedalem-Ngrowo, Dipati Sosrowisongko hingga Dipati Wirayuda.
Namun, diantara awak rombongan, Rewang Ngampel yang pembawaannya paling luwes. Sesekali dia menuntun para 'adipati' di sampingnya untuk memperkenalkan diri, meski dengan tutur terbata-bata. "Jangan malu-malu kanjeng adipati, pembesar harus bersuara lantang dan jangan membelakangi rakyat," seru Rewang Ngampel membesarkan hati rekan-rekannya, termasuk Ketua Ilunima, Bambang Asaf yang didapuk sebagai Dipati Joyobedalem.
Yang disampaikan pria itu tentu bukan sekadar isi dialog yang memang harus dilafalkannya. Lebih dari itu, dia berusaha memberi isyarat kepada pemain lain untuk menaikkan volume suaranya supaya bisa terdengar jelas dan tidak membelakangi panggung. Sosok Rewang Ngampel sendiri diperankan oleh Aries Mukadi, yang tak lain adalah penulis naskah sekaligus sutradara pagelaran bertajuk 'Warok Suromenggolo' tersebut.
Sudah menjadi kewajibannya untuk mengarahkan sejumlah pemain dalam pertunjukkan itu. Pasalnya, 26 dari sekitar 70 artis yang dilibatkan dalam pementasan tersebut belum pernah tampil di atas panggung betulan. Wajar saja, mereka hanyalah anggota Ikatan Alumni SMAN 5 Malang (Ilunima) yang sengaja menggagas pagelaran malam itu demi melestarikan seni ludruk di Kota Malang.
Berangkat dari tekad itulah, Yayasan Adhi Budaya Jakarta yang dikomandani Aries Mukadi bersedia tampil dalam pagelaran yang menghabiskan dana sekitar Rp 150 juta tersebut. Tanpa banyak persiapan, hampir separo pelakon yang tampil di pementasan malam Minggu kemarin hanya berlatih satu hari sebelum perform. "Cuma dibriefing hari Jumat (28/3) saja. Diajari bagaimana menempatkan diri di atas panggung dan garis besar ceritanya. Selebihnya ya dituntun teman-teman dari Adhi Budaya," ungkap Sekjen Ilunima, M Fikri Syukur yang kebagian peran sebagai Dipati Mertojoyo.
Kepiawaian Aries Mukadi dalam pementasan drama kolosal mulai dari ludruk, ketoprak hingga wayang orang memang tak perlu diragukan. Pria kelahiran Surabaya itu sudah aktif menggeluti seni peran, khususnya ludruk saat usianya baru 10 tahun, tahun 1957 silam. "Bahkan saat usia kandungan ibu saya sudah delapan bulan, beliau masih manggung bareng bapak saya. Jadi waktu masih di perut saja, saya sudah ikut manggung," beber Aries menyiratkan bagaimana darah seni mengalir deras dalam tubuhnya.
Besar di keluarga seniman, membuat dunia lakon tak bisa dipisahkan dari kakek 10 cucu ini. Bergabung dengan grup Darmo Carito sejak usianya masih belia, Aries muda menapaki segudang pengalaman pasca grupnya beberapa kali berganti pengelola. Mulai dari pengusaha Tionghoa, konglomerat blasteran Belanda-Jerman, hingga kembali dinakhodai tokoh asli Kota Pahlawan. "Waktu itu main ludruk seperti main sirkus. Kami show keliling ke berbagai daerah, walaupun basisnya di Surabaya," kisahnya kepada Malang Post.
Perjalanan suka duka bersama berbagai grup kesenian itulah yang akhirnya membawanya berkecimpung di layar kaca nasional, setelah program Ketoprak Humor yang diinisiasinya bersama sejumlah tokoh senior macam Timbul Srimulat booming di awal tahun 2000-an. Siapa sangka, acara bertema dagelan yang kerap mengundang pejabat dan artis ibukota sebagai bintang tamu itu selalu mendapat rating tinggi.
Kala itu, Aries dkk tak punya misi muluk-muluk. "Saya cinta dunia seni, karena seni adalah hidup saya. Ketoprak humor lahir karena niatan kami untuk terus menghidupkan seni budaya Jawa di tengah arus modernisasi, namun dibalut konsep yang belum pernah ada sebelumnya. Saya melihat konsep ini adalah peluang dan menemukan kesempatan, yang nyatanya disukai masyarakat," papar suami Dien Binastuti ini.
Sayang, perlahan pamor Ketoprak Humor meredup. Begitu pula pementasan wayang orang dan pagelaran ludruk semakin jarang dimainkan. Padahal, banyak diantara para seniman yang begitu menggantungkan hidupnya dari job manggung even-even tersebut. "Ibaratnya kalau wayang kulit kan tidak butuh banyak orang. Wayangnya tidak perlu dibayar satu-satu. Beda lagi sama wayang orang, ketoprak dan ludruk. Semua pemainnya butuh makan," tukasnya lirih.
Untuk sekali pementasan ludruk dengan jumlah personil minim saja, sekitar 25-30 orang, menurut Aries butuh anggaran sedikitnya Rp 40 juta. Karena jarang sekali ada even rutin, tak heran jika banyak grup hanya perform saat ada 'tanggapan' alias hajatan panggilan. Karena penikmat seni tradisional sudah semakin menyusut, bisa tampil tiga bulan sekali kini dianggap luar biasa.
Pria yang rambut gondrongnya sekarang sudah mulai memutih ini lantas menyembulkan sejumlah harapan agar seni budaya yang dicintainya itu tak semakin hilang arah dan lekang dimakan zaman. "Di Jepang, pertunjukan seni macam Kabuki dibuat menyatu antara pelaku seni dengan dukungan pemerintah. Di Indonesia masih kurang sekali," selorohnya.
Ayah dari Ardini Wahyu Reswari itu lantas mengilustrasikan sulitnya izin pementasan ditambah biaya sewa gedung yang mahal sebagai indikator kurangnya perhatian pemerintah dalam upaya pelestarian kesenian daerah. Hingga akhirnya muncul kesan bahwa kesenian tradisional mulai dikesampingkan karena dianggap tak lagi menguntungkan dari segi bisnis maupun popularitas. 
Maka dari pementasan ludruk pengembangan yang menghadirkan bintang tamu seperti Topan, Tessy, Agus Kuprit, Momon, Wa Whin Laura, didukung seniman-seniman Adhi Budaya Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur malam Minggu lalu, Aries berharap kecintaan masyarakat terhadap kesenian daerahnya kembali tumbuh. "Cerita ludruk itu memang mengacu legenda atau sejarah daerah. Tapi, alur dan konsep pementasannya bisa dikembangkan. Paling tidak, disesuaikan dengan kebutuhan hiburan masa kini. Tinggal pandai-pandainya mengangkat cerita saja, sehingga digandrungi anak muda," pesan Aries lantas memberi contoh parodi Opera Van Java. (Tommy Yuda Pamungkas)