Sisi Lain dari Peringatan Satu Abad Kota Malang

Peringatan 100 tahun Kota Malang dirayakan semarak, Selasa (1/4) kemarin. Diawali apel pagi di halaman depan balaikota, selebrasi seabad Bhumi Arema, dilanjutkan pawai kendaraan hias yang diikuti tak kurang dari 150 tim peserta, sore harinya. Banyak momen menarik yang terangkum dalam potret Malang Post. Dua diantaranya bukan pemandangan umum di hari-hari biasa.

LANGIT mendadak gelap, ketika rombongan karnaval bersiap start di muka balaikota, sekitar pukul 14.30 WIB kemarin. Tak berselang lama setelah mendung pekat menyaput langit Kota Pendidikan, hujan deras disertai angin kencang, langsung membuyarkan ribuan orang yang sore itu memadati kawasan Bundaran Tugu.
Masing-masing berlarian ke berbagai penjuru. Alasannya sama. Menghindarkan tubuh dari kuyub yang sudah mengintai sejak rinai hujan turun perlahan. Sebagian langsung tancap gas pulang. Tak sedikit yang berteduh ke bangunan beratap terdekat. Tak terkecuali gedung Balai Kota Malang yang jadi sentral keramaian.
Siapa sangka, di dalam bangunan yang sempat dibumihanguskan pada tahun 1947 itu, warga kota yang sedang menggigil kedinginan, berkesempatan tatap muka langsung dengan walikotanya.
Tak sekadar memandang senyum yang biasa disunggingkan sang pemilik kursi N1 dalam setiap kesempatan, kali ini masyarakat malah bisa foto bareng orang nomor satu di jajaran Pemkot Malang.
‘’Abah, foto bareng dong. Mumpung seabad Kota Malang, biar punya kenang-kenangan,’’ celetuk salah satu warga begitu melihat HM Anton masuk halaman balaikota.
Ajakan itu rupanya ditanggapi serius oleh wali kota 48 tahun tersebut. Abah langsung mendekat ke arah kerumunan warga yang langsung berebut pose bareng dengannya.
Didampingi sang istri, Hj Dewi Farida Suryani, yang sebelumnya juga ikut iring-iringan pawai di atas mobil hias, Bendahara PCNU Kota Malang itu dengan ramah melayani permintaan foto dengan kamera ponsel.
Tentu saja ini menjadi momen berkesan bagi warga yang boleh dibilang beruntung tersebut. Sekadar berniat berteduh di balaikota, malah bisa berdekatan dan foto bersama pemimpin daerahnya. Bayangkan jika itu terjadi pada hari-hari biasa, tentu saja Abah Anton tidak bisa seleluasa kemarin melayani permintaan warga kota tercinta.
‘’Sudah lama saya ingin foto bareng Abah Anton, tapi baru kali ini kesampaian. Biasanya paling banter cuma salaman sama Pak Walikota,’’ tutur Wina, ibu satu anak asal Sukun dengan rona sumringah.
Abah Anton sendiri tak kalah bersemangat, sekalipun tubuhnya bermandi peluh bercampur air hujan, karena ikut dalam rombongan arak-arakan keliling kota.
Sekalipun sedang ditunggu banyak tamu di ruang kerjanya, Ketua DPC PKB Kota Malang itu lebih memilih menuntaskan rasa penasaran warga Kota Malang yang ingin berdekatan langsung dengannya. ‘’Kalau tidak begini, kapan lagi. Mumpung kumpul bareng,’’ jawabnya enteng.
Bukan sore itu saja, pria yang berulang tahun setiap 30 Desember itu melakoni ramah tamah serupa. Beberapa jam sebelumnya, Abah Anton juga dengan senang hati melayani request foto bareng.
Bedanya, dalam acara resepsi HUT Kota Malang yang digelar di halaman belakang Balaikota usai pelaksanaan apel pagi, yang berlomba pose bareng pengusaha tetes tebu itu adalah para pegawai di lingkungan Pemkot Malang.
Mulai dari pegawai golongan rendahan, hingga pejabat eselon II tak mau melewatkan momen istimewa tersebut. Tanpa memandang siapa yang sedang mendekat kepadanya, Abah langsung menyambut keinginan foto bareng di sampingnya.
‘’Aku yo pingin rek, ojo ditinggal! (aku juga mau, jangan ditinggal,’’ seru Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Malang, Kusnadi sambil berlari menghampiri wali kota.
Selain itu, ada pemandangan lain yang cukup menyita perhatian para pengunjung Balaikota, kemarin. Yakni para PNS yang mengenakan pakaian khas Malangan. Kaum adam memakai beskap lengkap dengan blangkon. Sebagian lainnya menggunakan surjan yang terkesan lebih santai. Sedangkan kaum hawa tampak anggun mengenakan kebaya.
Dandanan tersebut, nyatanya tak berubah sekalipun upacara HUT 100 Tahun Kota Malang sudah bubaran. Meski harus melanjutkan aktivitas kerja seperti biasa, para pegawai di lingkungan Pemkot tetap berpakaian ala ‘tempo doeloe’. Mulai dari staf di bagian umum, sampai mereka yang bertugas di bagian hukum, semuanya berbalut pakaian bertema senada.
Usut punya usut, demi merayakan seabad Kota Malang, seluruh pegawai SKPD di Kota Malang wajib mengenakan pakaian khas Malangan sepanjang pekan ini. Maka, jangan heran jika sampai Jumat (4/4) nanti, bakal melihat PNS di instansi-instansi pemerintahan tampil berbeda dari biasanya.
‘’Seruannya begitu, kita semua akan pakai pakaian khas Malangan selama minggu ini,’’ tandas Kabag Humas Pemkot Malang, Alie Mulyanto. (tommy yuda pamungkas)