Layani Ritual Politik, Caleg Berebut Dimandikan

HARIYOTO, penjaga Candi Songgoriti Batu bisa jadi orang paling dicari dalam tahun politik seperti sekarang.  Menjelang pemilu legislatif saat ini, banyak calon legislatif (caleg) yang melakukan ritual hingga memanjatkan keinginan di tempat itu agar cita-cita tercapai saat pemilihan.

Usianya tidak mua lagi karena sudah kepala lima. Kepalanya mengenakan blangkon, serta tangan kananya memegang erat sebuah sapu korek, pada suatu pagi. Sesekali dia mengayunkan sapunya pada tubuh candi untuk membersihkan kotoran. Sedangkan kembang dalan bungkusan masih terlihat di samping candi. Hal itu menandakan jika lokasi itu baru digunakan untuk sebuah ritual.
"Ya, tadi malam ada yang melakukan ritual di sini," ungkap Hariyoto pelan.
Pria yang tinggal di kawasan Songgoriti ini menyebutkan, ritual adalah hal yang biasa di areal candi Songgoriti. Namun seiring waktu mendekati pemilu legislatif seperti sekarang, intensitas ritual menjadi makin sering. Mereka yang melakukan ritual dalam suasana seperti sekarang adalah para caleg. Mereka bukan hanya para caleg daerah tingkat dua, tetapi juga caleg untuk DPR RI dan datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Meski ritual dilakukan pada tempat itu, pria yang juga pegawai di bawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan Mojokerto ini menepis jika semua itu perbuatan klenik atau syirik. Mereka yang datang untuk melakukan ritual dilarang meminta atau memanjatkan doa kepada candi atau barang lainya. Mereka harus yakin dan meminta tujuan dikabulkan kepada Yang Maha Kuasa.
Sebelum memanjatkan doa, mereka yang ritual biasanya mandi terlebih dahulu dengan air tiga sumber yang ada di Candi Songgoriti. Candi Songgoriti memiliki keistimewaan tiga sumber dengan kondisi air yang berbeda. Satu sumber menyemburkan air panas alami karena mengandung belerang, satu sumber memiliki air dingin. Sedangkan satu sumber, tepat di bawah candi memiliki air dingin dan panas. Konon, sumber air dingin dan panas di bawah candi ini digunakan untuk merendam keris pusaka Mpu Supo dan Mpu Gandring yang sudah sangat terkenal. Keris Mpu Gandring adalah pusaka yang digunakan oleh Ken Arok dari Kerajaan Singosari.
"Mandi dengan air dari tiga sumber itu digunakan untuk membersihkan dan mensucikan diri. Air itu biasanya juga ditambah dengan kembang tujuh rupa. Jika badan sudah bersih dan suci, maka dia akan lebih khusyuk saat memanjatkan doa," kata Hariyoto.
Selain memohon kepada Yang Maha Kuasa, ritual juga bertujuan mengenang para leluhur. Begitu sudah mengenang, mereka meminta para leluhur untuk ikut memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa atas cita-cita orang yang melakukan ritual. Para leluhur adalah sosok yang suka tirakat, berpuasa dan hanya menyembah kepada Yang Maha Kuasa sehingga mereka lebih dekat dengan Yang Maha Kuasa. Jika mereka ikut memanjatkan doa, maka keinginan mereka yang melakukan ritual akan lebih mudah diberi oleh Yang Maha Kuasa.
"Setiap calon, misalnya caleg, mereka punya guru spiritual. Bisa saja guru spiritual yang menyarankan mereka untuk datang ke sini, melakukan ritual mandi, tirakat hingga memanjatkan keinginan," kata dia sembari membersihkan candi.
Candi Songgoriti menjadi tempat yang sakral untuk sebuah ritual karena candi tertua di Jatim. Candi tersebut didirikan oleh Mpu Supo, masa sekitar tahun 888 Masehi. Menurut Hariyoto, saat itu Mpu Supo yang sedang perjalanan dari Mataram ke arah timur menemukan sebuah sumber air panas itu di Songgoriti. Kawasan itu semua tidak akan bisa dihuni oleh manusia karena keberadaan air panas. Mpu Supo kemudian semedi meminta kawasan itu bisa dihuni manusia sehingga lahirlah tiga sumber, air panas, dingin serta air panas dan dingin. Sumber air panas dan dingin kemudian dibangun candi di atasnya, yakni candi Songgoriti.
Candi Songgoriti juga merupakan cikal bakal raja-raja di tanah air karena diyakini sebagai titik awal pertemuan antara Ken Arok dan Ken Dedes dari Kerajaan Singosari. Ken Arok jatuh cinta kepada Ken Dedes saat mandi di sumber air Songgoriti. Mereka kemudian menikah bisa melahirkan raja-raja di tanah air.
Para raja dan sultan dari tanah air juga mengakui jika cikal bakal mereka dan kerajaannya berasal dari Songgoriti itu. Makanya saat mereka menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) III di Kota Malang tahun 2013 lalu, semua raja dan sultan juga datang ke candi Songgoriti dan memanjatkan doa para leluhurnya kepada Yang Maha Kuasa. "Mereka mengakui jika cikal bakal kerajaan berasal dari Singosari, keturunan Ken Arok dan Ken Dedes. Mereka datang ke sini karena meyakini titik awal pertemuan Ken Arok dan Ken Dedes berada di Candi Songgoriti ini," tegasnya.
Dia menyebutkan, air dari tiga mata air di kawasan Candi Songgoriti itu memiliki khasiat serta kekhasan masing-masing. Sumber air panas memiliki tingkat panas 47 derajat celsius. Air itu mengandung belerang, zat besi, baja dan beryodium.
Sedangkan air dingin disebut sebagai air kehidupan. Air itu memiliki rasa seperti air kelapa dan mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sedangkan mata air satunya, digunakan merendam keris Mpu Supo, Mpu Gandring dan Mpu Sendok.
Karena keberadaan tiga sumber mata air dan khasiatnya itu, Candi Songgoriti berencana diusulkan sebagai keajaiban dunia. Hariyoto bersama peneliti dari Universitas Brawijaya sudah dipanggil Menteri Koordiantor Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono, 23 September 2013 lalu. Pemanggilan itu terkait pembahasan usulan Songgoriti sebagai salah satu kejaiban dunia.
Sumber air panas yang mengandung belerang itu diyakini tersambung dengan magma Gunung Kelud. Saat Gunung Kelud meletus beberapa waktu lalu, sumber air panas juga ikut bergerak kencang. (Febri Setyawan/ary)