Manjakan Pasien, Siapkan Kamar Setingkat Hotel Berbintang

Perawat RSJ Sumberporong-Lawang, di salah satu ruang VIP untuk pasien gangguan jiwa.

Melihat Persiapan RSJ Lawang Jelang Pemilihan Legislatif
Persiapan ekstra, dilakukan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sumberporong Lawang, menjelang pelaksanaan Pileg 9 April mendatang. Bisa jadi, setelah pileg, RSJ akan menjadi rumah singgah kedua, bagi caleg yang gagal melangkah ke kursi dewan. Persiapan layanan terbaik untuk pasien gangguan jiwa itulah, yang kini tengah disiapkan.

Paviliun Basuki Rahmad. Begitulah nama salah satu bangunan yang nantinya diperuntukkan untuk caleg yang mengalami gangguan kejiwaan. Bangunan yang bercat serba putih dan terjaga kebersihannya, dari halaman hingga lorong ruangan itu, merupakan satu-satunya lokasi untuk pasien kelas VIP, yang mengalami gangguan jiwa selama menjalani rawat inap.
Sesuai kelasnya, banyak kelebihan yang akan diperoleh sang pasien tatkala mengalami gangguan kejiwaan, setelah gagal menjadi anggota legislator. Diantaranya, di dalam satu ruang itu, terdapat dua tempat tidur dengan posisi terpisah. Tempat tersebut, untuk pasien rawat inap dan keluarga yang biasa menemani atau membezuk.
Tidak hanya itu, diantara ruangan berukuran sekitar 4,5 x 4,5 meter itu, pasien akan mendapatkan fasilitas tambahan. Salah satunya, AC, kulkas, TV sampai kamar mandi pasien yang ada di dalam ruangan.  
‘’Khusus kelas VIP, layanannya sengaja dibuat setingkat dengan hotel bintang dua. Di dalam ruangan itu, pasien rawat inap akan nyaman dan tidak terganggu dengan pasien atau keluarga pasien lain. Jadi, privasi pasien benar-benar dijaga. Kelas itu, hanya disiapkan sebanyak 10 ruangan,’’ kata Direktur RSJ Lawang, Dr Bambang Eko Sunaryanto Sp KJ MARS.
Untuk bisa menempati kelas VIP yang dilengkapi pula dengan ventilasi udara yang cukup bagus, pasien tidak perlu mengeluarkan bayar rawat inap yang besar. Hanya Rp 237 ribu perhari, untuk keperluan akomodasi, visitel dan terapi aktifitas.
‘’Obat-obatan, pemeriksaan darah dan tindakan lain yang diperlukan pasien, akan dihitung di luar itu,’’ tambahnya.
Jika harga kelas khusus dengan privasi yang terjaga itu dianggap masih mahal, keluarga caleg gagal, yang mengalami gangguan kejiwaan itu, bisa memilih kelas lain.
Diantaranya, ruang Kelas I yang selama usai pileg nanti, akan ditambah ruangannya menjadi 15 atau total berjumlah 25 ruangan.
Hanya saja, karena kelasnya sangat berbeda, maka layanan yang diberikan pun juga tidak kalah miringnya. Jika VIP satu ruangan diisi satu pasien dengan dua tempat tidur, maka di Kelas 1, hanya ada satu tempat tidur untuk pasien.
Sementara untuk layanan tambahan seperti AC, TV dan Kulkas, tidak bisa didapati di dalam ruang tersebut. Begitu juga dengan kamar mandi, ada di luar ruangan.
‘’Untuk Kelas 1, biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 179 ribu per sekali rawat inap. Jumlah itu, di luar untuk kebutuhan obat-obatan dan pemeriksaan darah,’’ paparnya.
Bila alternatif kedua yang ditawarkan RSJ masih terlalu tinggi karena keuangan keluarga pasien menipis akibat habis untuk biaya kampanye, maka alternatif lain bisa dilakukan dengan mengambil ruang Kelas 2.
Di kelas rawat inap yang telah disiapkan sebanyak 25 ruangan itu, pasien yang mengalami gangguan jiwa akan bersama rekan ‘satu jurusan’ yang jumlahnya dua sampai tiga pasien rawat inap. Untuk fasilitas, hanya tempat tidur dan jendela ruangan.
‘’Selain ruang Kelas VIP, Kelas 1 dan Kelas 2, RSJ juga masih menyediakan Kelas 3. Dengan biaya sekitar Rp 72,500, pasien bisa menjalani rawat inap untuk penyembuhan. Khusus kelas ini, sudah disiapkan sekitar 600 tempat tidur dengan konsekuensi satu ruang akan diisi antara delapan sampai 15 pasien yang mengalami gangguan jiwa,’’ ujar Bambang.
Jika dari sejumlah persiapan yang cukup besar itu masih dirasa kurang alias terlambat mendaftar, RSJ pun siap menyulap guest house atau asrama mahasiwa, untuk kelas VIP. Dengan daya tampung sekitar 100 pasien, ruang itu bakal dirubah dengan layanan fasilitas sama.
‘’Dua tempat itu kalau memang dibutuhkan, maka akan dirubah untuk rawat inap. Namun kalau dari sejumlah kelas yang disiapkan sudah mencukupi, maka tidak akan dilakukan perubahan,’’ imbuhnya.
Berkaca dari lima tahun lalu, Bambang mengurai, rata-rata kejiwaan caleg sudah matang. Sehingga, sudah siap dengan kagagalan atau pun maju menjadi anggota dewan.
Dampaknya, dari ruang kamar kelas yang disediakan, tidak sepenuhnya diisi oleh caleg yang gagal maju. Tetapi, dari masyarakat biasa yang bukan gagal pencalegan.
‘’Antara pria atau pun perempuan, sebenarnya sama saja untuk tingkat kejiwaannya. Meski pun, perempuan bisa dikatakan sedikit di atas. Yang menjadi pembeda, ketika kejiwaan itu muncul, biasa kalau menimpa pria akan mengganggu lingkungan. Sementara perempuan, lebih memilih untuk menyendiri,’’ ungkapnya. (sigit rokhmad)