Pemilu Indonesia di Mata Singapura

Saat semua masyarakat Indonesia masih mendengarkan janji-janji kampanye calon legislatif dalam beberapa hari terakhir, WNI yang berada di luar negeri sudah menentukan wakil pilihan mereka yang dianggap layak menjadi anggota dewan terhormat, sejak 30 Maret lalu. Wartawan Malang Post, Dewi Yuhana merekam suasana menjelang Pemilu di Singapura yang tidak hanya menarik bagi warga Indonesia, tapi juga pemerintah negeri singa sendiri.

Pemilu Indonesia khususnya Pemilu Presiden mendapat perhatian spesial dari Pemerintah Singapura, bukan hanya karena kondisi geografis yang mendekatkan kedua negara ini, namun juga hubungan kerjasama yang terjalin.
Singapura sejak beberapa tahun lalu menjadi negara investor terbesar di Indonesia sebelum posisinya digeser oleh Jepang. Indonesia juga merupakan pasar empuk sebagai negara tujuan ekspor terbesar keempat bagi Singapura dengan pangsa  10,42 persen.
Wajar, jika mereka pun –meminjam istilah remaja saat ini- kepo (sangat ingin tahu) dengan segala hal yang terjadi di Indonesia apalagi terkait Pemilu yang akan menentukan pemimpin tanah air lima tahun ke depan.
Hampir dalam setiap kesempatan, public talk dengan audiens puluhan orang sampai seminar yang dihadiri oleh ratusan undangan, pembicara sering menyinggung tentang pelaksanaan Pemilu Indonesia serta calon-calon presiden yang sedang ‘bertarung’ saat ini.
Institute Of Southeast Asian Studies (ISEAS) bahkan menggelar secara khusus seminar tentang The Indonesian Legislative Election 2014:  How Parties Stand Against Each Other, akhir Maret lalu yang menghadirkan Burhanuddin Muhtadi, Direktur Indikator Politik Indonesia sebagai pemateri.
Acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh WNI yang ada di Singapura, termasuk Malang Post, tapi juga warga asing yang tertarik dengan Asia Tenggara khususnya Indonesia.  Bahkan keberadaan mereka mendominasi diskusi, menanyakan tentang prospek masing-masing partai dalam memenangi Pemilu, keterlibatan masyakarat dalam memilih, sampai efektivitas tradisi politik uang.
‘’Dari survei kami, masih ada calon dan partai yang melakukan money politics, tapi tanggapan masyarakat berbeda. Ada yang tidak setuju dan tidak mau menerima uang yang ditawarkan, tapi lebih banyak yang memutuskan ‘ambil uangnya, keputusan memilih terserah dia’, yang berarti pemilih tetap akan memilih calonnya sendiri. Jadi sebenarnya politik uang tidak efektif lagi,’’ urai kandidat PhD di Australian National University ini.
 Terbaru, dalam even InvestASEAN 2014 yang digelar di The Fullerton Hotel (1/4/14) lalu, Dean of Lee Kuan Yew School of Public Policy National University of Singapore, Prof Kishore Mahbubani juga memberikan porsi cukup besar tentang Pemilu Indonesia saat menjadi pembicara dalam sesi yang sebagian besar bahasan terkait ekonomi dan investasi tersebut. Kishore sempat mengungkapkan Jokowi Effect dan kekagumannya pada Gubernur Jakarta yang menjadi calon presiden dari PDI-P itu.
Media Singapura, baik media umum dan bisnis, juga memberikan porsi lebih untuk pemberitaan Pemilu, hampir satu halaman setiap hari, dan tak jarang diposisikan di halaman depan.
Jumat (4/4/14) kemarin, The Straits Time Singapore bahkan menyajikan dua halaman yang membahas tren kampanye blusukan, janji Presiden SBY tentang Partai Demokrat yang memperjuangkan bantuan terhadap masyarakat miskin serta kenaikan gaji bagi guru, dokter, polisi serta prajurit, sampai ulasan khusus pemilik media yang juga berpolitik.  
Lalu bagaimana dengan WNI, apakah mereka tertarik dengan Pemilu kali ini? Setiap Malang Post bertemu dengan WNI yang bekerja atau belajar di Singapura, mereka selalu mengatakan akan menggunakan hak pilihnya, bahkan ada yang sudah mengirimkan via pos dan baru menyadari jika pelaksanaan Pemilu legislatif dihelat hari minggu.
‘’Kalau tahu pelaksanaannya minggu, saya nggak milih lewat pos, pengin ke KBRI sekaligus bisa bertemu dengan teman-teman dari Indonesia,’’ kata dosen muda di kampus ternama Singapura ini.
Mirza Nurhidayat, Minister Counselllor of Embassy of the Republic of Indonesia mengatakan optimismenya terhadap partisipasi WNI dalam Pemilu 2014 ini akan meningkat dari Pemilu 2009 yang hanya diikuti sekitar 25 persen dari total WNI.
‘’Dalam Pemilu sebelumnya, pelaksanaan digelar hari kerja jadi mungkin banyak yang tidak bisa hadir, nah kali ini kan hari Minggu besok (6/5/14) saat semuanya sedang libur. Kami juga sudah memintakan izin kepada majikan untuk memperbolehkan WNI pelaku rumah tangga (PLRT) untuk menggunakan hak pilihnya. Jika sampai ada 50 persen saja WNI yang menggunakan haknya, itu sudah sangat bagus,’’ urai pria asal Semarang ini.
Ia menambahkan, ada 112.123 WNI yang terdaftar sebagai pemilih, 12.608 di antaranya sudah memberikan suara melalui surat.  Untuk mewadahi sekitar 100 ribu pemilih yang lain, Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) menyediakan 36 TPS di dalam aula KBRI dan di halaman luar.
Mereka dibantu Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) yang berjumlah 200an orang. ‘’Waktu memilih dimulai pukul 8 pagi sampai 5 sore, penghitungan pada 9 April nanti,’’ ujar Mirza. (dewiyuhana)