Belajar Jadi Kaya ala Masngut Imam Santoso

Sosoknya sederhana. Tapi siapa menyangka, otak Masngut Imam Santoso sangat moncer. Bahkan karena kejeliannya memanfaatkan peluang dan potensi, konon dia sekarang menjadi satu dari tiga orang terkaya di Blitar. Lewat Santoso Farm,  dia kini mengelola peternakan dan pertanian yang terpadu dengan istilahnya integrated farming. Bagaimana sosoknya.

Lahan di belakang rumah di Krejen Srengat Biltar itu, sangat luas. Sampai-sampai susah menghitung berapa luasnya. Dari jalan raya, hingga masuk ke beberapa ruas jalan, seperti tak pernah terputus.
Mulai kandang sapi yang berisi ribuan sapi perah, kandang kambing, sampai kandang ayam. Di sela-selanya, ada juga pohon sawit yang berbuah.  
Si sela-sela kandang ayam yang jumlahnya sudah mencapai ratusan ribu ekor itu, selalu terdapat kolam berisi ikan. Lele dan patin. Semua gemuk-gemuk dan mengundang selera untuk menjadikan santapan.
‘’Pokoknya jangan sampai ada lahan yang terbuang. Sekecil apapun, harus dimanfaatkan. Seperti lahan diantara kandang ayam, terdapat kolam lele. Istilahnya tumpang sari peternakan dan perikanan,’’ kata Masngut Imam Santoso, suatu siang.
Lebih menarik lagi, ternyata untuk memberi makan ikan lele, hanya 30 persen yang harus dibeli. Sisanya, diambil dari kotoran ayam dan ceremende. Bahkan ceremende menjadi makanan pokok lele.
‘’Orang menganggap ceremende itu sebagai hama. Karena memang ceremende itu sukanya di kotoran ayam. Tapi sebenarnya, justru ceremende itu sangat disukai lele dan membuat bobot ikan bertambah,’’ kata Mbah Sengut, panggilan akrab kakek lima cucu dari dua putra itu.
Ceremende itu sendiri adalah binatang sejenis kecoa. Ceremende ini mampu mengeringkan kotoran ayam, sehingga tidak mengakibatkan bau menyengat. Karena itulah, Mbah Sengut justru membudidayakan ceremende, sebagai ‘vitamin’ bagi ikan-ikan yang dia ternak.
Dalam benak pria 76 tahun ini, setiap hari harus ada penghasilan. Sebuah konsep yang harus diikuti oleh petani. ‘’Jadi jangan hanya menunggu panen, atau pohon sawit berbuah. Tapi bagaimana menjadikan lahan itu, bisa dipanen setiap hari,’’ sebut dia.
Masngut memang tidak sekadar berteori. Apalagi dia tidak terlalu suka teori. Karena dalam benaknya, pendidikan di negeri ini, hampir 100 persen konsumtif. Karenanya menjadi mahal. Masngut, sudah membuktikan diri.
Awalnya, dia hanya punya beberapa ekor kerbau dan 125 ekor ayam, peninggalan orang tuanya, untuk diternak.
Kini, di kandangnya, sudah ada 150 ribu ekor lebih, ayam petelor. Itu belum termasuk ternak lainnya, seperti sapi perah, kambing dan beberapa jenis ternak lainnya.
‘’Setiap minggu ada 10 truk yang bisa dikirim ke luar. Satu truk, bisa 4,5 ton telor. Jadi, hitung sendiri berapa uang yang beredar. Telor yang pecah, bisa dipakai untuk lauk sehari-hari,’’ katanya sambil tertawa.
Untuk urusan ternak, Mbah Sengut memang jagonya. Dia juga sudah membuktikan mampu bertahan dari berbagai ‘gempa’ yang menguncang perekonomian.
Seperti saat harga dolar naik dan berimbas pada mahalnya harga pakan ternak, Mbah Sengut justru punya kecerdikan untuk menghindar. Misal, dia menggantikan bahan makan ayam import, dengan bahan baku lokal. Seperti tepung ikan, jagung dan bekatul, yang semuanya tidak terpengaruh pada harga dolar.
‘’Justru sejak krisis ekonomi itulah, saya harus memaksimalkan integrated farming. Termasuk mengganti sapi potong, dengan sapi perah. Karena kalau sapi potong, sempat kesulitan mengambil uang di pedagang yang sering macet,’’ tuturnya.
Tetapi beralih ke sapi perah, bukannya tidak ada masalah. Pada 2001 lalu, Mbah Sengut benar-benar prihatin dengan rendahnya harga jual susu. Belum lagi, tata niaga yang cenderung kearah monopoli. Ketika itulah, laki-laki yang mendapat ‘gelar’ profesor dari berbagai perguruan tinggi itu mulai sadar, peternak susu, telah menjadi korban.
‘’Saya dan beberapa teman, mulai mendirikan koperasi susu. Namanya KSU Rukun Santoso. Karena dengan punya koperasi, saya bisa ikut memperjuangkan nasib peternak sapi perah,’’ sebutnya.
Kini, Mbah Sengut yang sudah mulai menerbitkan buku, memiliki sekitar 250 karyawan, termasuk beberapa rumah singgah, yang dipakai petani-petani maupun mahasiswa, untuk belajar integrated farming. Mereka tidak saja dari lingkungan sekitar. Tapi juga dari bermacam-macam daerah. Tergantung keahlian yang dimiliki.
Menariknya lagi, untuk memberikan makan setiap hari kepada karyawannya, Mbah Sengut membuat bahan makan sendiri. Termasuk minuman ‘rahasia’ yang dihasilkan dari air sisa perasan kedelai, untuk bahan dasar tahu dan tempe.
‘’Setiap hari, saya masak 45 kg kedelai, untuk jadi tahu dan tempe. Tahu, tempe, telor itu juga untuk lauk makan karyawan, sayurnya ambil di kebun dan air saripatinya, saya manfaatkan untuk minuman sehat. Jadi, tidak ada yang tersisa,’’ katanya sembari mempersilahkan minuman ‘rahasia’ itu. Dan rasanya, sangat segar dan enak. Sama sekali tidak terasa, kalau minuman itu dari bahan yang selama ini terbuang. (ra Indrata)