Dibalik Pantai Parangtritis

TRAINING Center yang digelar Arema Cronus di pantai Parangtritis resmi berakhir. Namun demikian, TC Singo Edan di pantai selatan Yogyakarta itu menyisakan cerita. Saat masih siang, pantai Parangtritis adalah pantai populer yang menjadi jujugan wisatawan. Tapi, Parangtritis dan sekitarnya ternyata juga laris walaupun sudah malam hari. Meskipun, larisnya pantai selatan Jawa Tengah ini disebabkan oleh adanya bisnis “esek-esek” yang menjamur.
 
Pagi itu, terik matari pinggiran Samudra Hindia masih panas. Tak banyak ruang penyejuk gerah di pantai selatan Parangtritis, Daerah Istimewa Yogyakarta. Paling banter, kesejukan hanya diberikan angin semilir yang menerpa pasir pantai di Kabupaten Bantul itu. Angin laut menyebarkan bau khas pantai yang menusuk hidung.
Angin dicampuri butir-butir pasir pantai yang asin. Namun angin asin pantai masih kalah dari terik. Panas matahari Parangtritis membuat kulit terasa seperti dicubit-cubit semut kecil. Kalau sudah begini, segala macam benda disulap jadi penutup kepala. Pohon-pohon yang bisa melindungi diri dari terik siang pun dijadikan tempat berteduh sementara.
Pun, tebing karang yang mengurung Parangtritis, juga dijadikan tempat istirahat dari sorotan panas matahari. Selain itu, banyak warga setempat yang membangun gubuk-gubuk reot di pinggiran pantai Parangtritis agar jadi penyejuk sementara. Penyangga gubuknya dari bambu yang utuh. Tempat duduknya sebagian sudah rusak.
Penutup di bagian samping gubuk, terbuat dari karung goni atau kain yang sudah lapuk. Apapun jadi. Asal, tidak sampai ada debu yang masuk dari arah samping. Walau tak mewah, atap gubuk yang terbuat dari anyaman bambu tipis bisa mengurangi panasnya matahari di pinggir laut selatan.
Tapi, gubuk-gubuk seadanya itu ternyata tidak gratis. Agar bisa berteduh di gubuk seadanya pengunjung harus bayar Rp 20 ribu kepada warga lokal yang berkeliaran di sekitar pantai. Usut punya usut, gubuk reot seharga Rp 20 ribu itu sudah biasa disewakan kepada pengunjung. Heran, mengapa pengunjung harus bayar hanya untuk berteduh di dalam gubuk reot yang seperti tak berharga?
Rasa penasaran pun menambah keinginan untuk menguak fakta dibalik gubuk reot seharga Rp 20 ribu. Ternyata, gubuk-gubuk yang bertebaran di sepanjang pantai Parangtritis itu tak hanya laris saat siang hari, kala birunya pantai masih bisa memanjakan mata. Saat malam hari pun, gubuk sederhana ini jadi tempat jujugan pengunjung.
Bedanya, pengunjung malam di pantai Parangtritis kebanyakan bukanlah wisatawan normal. Jika wisatawan siang hari menikmati pasir pantai yang hitam ataupun buih air laut saat menabrak karang, maka wisatawan malam hari berburu “kenikmatan” lain. Ya, malam hari di Parangtritis adalah malam kenikmatan wisata “lendir”.
Pantai Parangtritis dan sekitarnya, dikenal sebagai pusat “jajanan kenikmatan” saat matahari sudah masuk peraduan. Gubuk-gubuk reot seharga Rp 20 ribuan itu, berubah jadi tempat kencan saat langit berubah gelap. Para pemburu wisata lendir pun tak segan menjelajah pesisir pantai Parangtritis dan sekitarnya untuk mencari para penjaja kenikmatan yang tersebar di warung remang pinggir pantai.
Malam hari, banyak wanita penjaja nikmat yang duduk-duduk di warung remang dan siap menyambut tamu yang datang dengan senyum nakalnya. Warga asli Parangtritis, sebut saja Sumardi, membeberkan soal kehidupan malam Parangtritis yang sudah jadi jujugan pecinta wisata nafsu tersebut.
Menurutnya, gubuk tersebut memang jadi tempat eksekusi para pemburu nikmat dan teman kencan. “Ya biasanya memang di gubuk-gubuk begitu. Kalau yang uangnya pas-pasan, biasanya pilih kencan di gubuk yang cuma Rp 20 ribu. Untuk yang agak mewah, bisa sewa kamar di warung-warung,” terangnya.
Jika gubuk reot dihargai Rp 20 ribu untuk sekali kencan, maka kamar di warung agak mahal sedikit, yakni Rp 25 ribu satu kali pakai. Tapi, tentu saja kamar seharga Rp 25 ribu jauh dari kata mewah. Yang penting bagi para pemburu nafsu, adalah teman kencan yang siap menghangatkan malam di pantai Parangtritis.
Tapi, Sumardi menjelaskan, pantai Parangtritis masih kalah ramai dengan pantai di sebelah barat, yakni Parangkusumo. Menurutnya, Parangtritis terhitung sepi. Ramainya pun mungkin hanya malam minggu. Sedangkan, Parangkusumo hampri selalu ada pengunjung setiap malam. Pilihan teman kencan pun disebut-sebut lebih banyak di Parangkusumo.
Lalu, berapa harga yang dipatok para wanita penjaja nafsu agar bisa dijadikan teman kencan? Menurut pria paruh baya ini, harganya bermacam-macam. Standar, harga satu kali kencan adalah Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu. “Macam-macam harganya. Tapi, standar ya Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu. Untuk yang lebih bagus barangnya, harus rogoh duit agak banyak,” tandasnya.
Meski bisnis abu-abu begitu menjalar, tidak ada larangan maupun penegakan aturan bagi wisata lendir. Sebab, pantai selatan yang jadi tempat berburu nikmat, menyimpan mitos yang dipercaya masyarakat sekitar. Aremania Yogyakarta, Ahmad Firdaus menerangkan, masyarakat sekitar pantai masih percaya denga klenik soal Ratu Pantai Selatan, atau yang lebih dikenal dengan Nyi Roro Kidul.
“Dari mitos yang berkembang di masyarakat, pantai selatan, termasuk Parangtritis dan Parangkusumo adalah petilasan mistis,” tutur Firdaus. Konon, pantai Parangtritis dan sekitarnya adalah daerah kekuasaan sang ratu. Pantai Parangtritis pun dipercaya sebagai tempat yang bisa memberi berkah.
Khususnya, berkah dalam hal seksualitas. Kendati demikian, dalam perjalanan, mitos tersebut berubah menjadi sekadar cerita untuk menggelar bisnis esek-esek di pantai selatan. Prinsip ekonomi. Semakin tinggi permintaan, semakin banyak pula orang yang berebut untuk memenuhi permintaan itu. Dalam hal ini, wisatawan mencari kenikmatan, warga lokal menyediakan kenikmatan.(fino yudistira)