Judo Dwi Priyono, Dosen yang Rocker Underground

Tidak banyak seorang dosen, yang juga seorang rocker. Judo Dwi Priyono, salah satunya. Pria berambut gondrong ini, musisi asli Kota Malang, yang mengusung musik bising alias underground dan beraliran musik grindcore, Predator. Padahal, dia juga mengajar di dua kampus di Kota Malang.

Langit kota Malang, dari atas Boulevard Ijen, begitu cerah pada Minggu (30/3) pagi. Banyak orang berlalu lalang sekaligus menikmati kesejukkan Bhumi Arema.
Diantaranya, terlihat seorang pria dengan rambut panjang diikat, yang juga tak kalah sibuknya. Namanya Judo Dwi Priyono. Teman-temannya, memanggil dia, Nonot. Terutama bagi sesama musisi dan pecinta musik.
Kala itu, Nonot bertindak sebagai MC pada acara cuci seribu piringan hitam, yang digelar Galeri Malang Bernyanyi (GMB) di halaman Perpustakaan Kota Malang.
Disela-sela bertugas, dia dengan ramah menyempatkan untuk menyapa Malang Post yang kala itu hadir memenuhi undangan. Pertemuan itu pun diteruskan dengan saling bertanya kabar karena memang sudah hampir dua tahun terakhir tidak bertemu. ‘’’Apa kabar kawan? Lama tidak bertemu?’’ sapa dia menyapa sembari berjabat tangan.
Dari lama tak bertemu itu, Nonot ternyata menyimpan catatan perjalanan yang cukup menarik. Dia yang selama ini dikenal sebagai gitaris, dengan distorsi tebal, ternyata punya kesibukkan sebagai seorang dosen jurusan Bahasa Inggris.
Tidak tanggung-tanggung, tugas menjadi pengajar itu dijalaninya setiap hari. Mulai Senin hingga Jumat. Khusus Sabtu dan Minggu, tersisa untuk bermain musik dan ngajar musik secara privat di rumahnya.
’’Sampai saat ini, main musik masih jalan terus. Aku latihan tiap Kamis malam, di Virtuoso Studio, Jalan Pacar Air no 3. Selain itu, aku membagi waktu dengan ngajar Bahasa Inggris di dua kampus di Kota Malang,’’ aku Nonot dengan penuh bangga.  
Dia lantas berbagi cerita. Perjalanan untuk menjadi seorang pendidik, bukan kesengajaan dan langsung diterima rektorat dua kampus dia bekerja.
Nonot mengawalinya dengan harus berjuang menjadi seorang guru di luar kota Malang, yakni SMP Indra Prasta Bondowoso. Waktu itu, sekitar 1998 dan dia baru lulus dari bangku kuliah kependidikan bahasa Inggris di IKIP PGRI Malang, yang kini berganti nama Universitas Kanjuruhan.
Dua tahun merantau, alumnus SMP Dempo Kota Malang balik ke Malang. Kemudian memilih sebagai guru SMP Yos Sudarso Kepanjen dan memberi kuliah di SOB Kota Malang.
Nonot tampaknya tak puas dengan karirnya dan ingin berusaha meningkatkannya. Hingga kemudian diterima untuk ngajar di dua kampus dengan mata kuliah Bahasa Inggris dan Seni Budaya.
’’Pada tahun 2004-2007, saya ambil kuliah S2 jurusan Kependidikan Bahasa Inggris di University of Canberra, Bruce Canberra. Bersyukur lancar dan kembali bisa menularkan ilmu ke adik-adik mahasiswa,’’ ujar pria kelahiran Malang, yang sengaja menyembunyikan tahun kelahirannya dengan harapan awet muda ini.
Tidak cukup bermodal jenjang pendidikan bagi Nonot, untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pendidik. Kedua lengannya yang terhias tato, bergaya seni religi, sempat membuatnya harus ditendang dari sekolah tempatnya mengajar.
Itu karena, sang rocker ini memiliki tato. Meski tato itu, selalu ditutupi dengan kemeja lengan panjang, saat berhadapan dengan siswa. Tapi sekolah menganggap, dia tidak mematuhi peraturan sekolah.
‘’Tato yang ada di lengan dan yang ada di beberapa bagian tubuh saya ini, adalah simbol atau identitas saya. Saya juga pilih tema tato ke religi, bukan tanpa makna. Sejak kecil, saya sudah dicekoki musik rock oleh almarhum ayah saya, JS Hadi Susanto. Darah pendidik, mungkin turunan dari ibu saya yang juga seorang pendidik, guru SD Lowokwaru,’’ kisahnya.
Selama ini, saat berada di dalam sekolah dan kampus, Nonot berusaha tampil resmi dan sopan. Ia membuktikan dengan memakai kemeja lengan panjang dan tak lupa berdasi. Sedangkan, rambut gondrongnya diikat rapi. Namun, penampilan itu sangat berbeda saat dirinya kembali memegang gitar dan berada di atas panggung. Nonot kembali ke Nonot yang metal dengan petikan gitar beraliran musik cadasnya. Bahkan dalam karyanya, sudah delapan album diciptakan bersama Predator.
’’Band-band-nan sejak tahun 1987, mulai SMP dan SMA. Dulu band sekolahku, DRM (Dempo Rock Metal), FDR (Fun Drum) rata-rata happy metal, darknes speed metal. Bersama Predator sudah 21 tahun, barengan Antix di Drum, Nomba Gitar dan Farid Vokal. Basic kami adalah underground yang punya persaudaraan dan pertemanan kuat banget,’’ pemilik album Mentalidisturbe yang berisikan kritik sosial dan politik.
Dan sampai sekarang, Nonot tetap menjadi seorang musisi, dengan idealismenya. Sementara di waktu yang lain, dia juga seorang dosen, untuk mahasiswanya. (poy heri pristianto)