Ciptakan Alat Pengering Gabah Tanpa BBM

Sidiq Darmawan, bersama alat pengering gabah yang dia ciptakan.

Mahasiswa FT UB Sukses Jawab Tantangan Dahlan Iskan
MAHASISWA Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) Universitas Brawijaya (UB), Sidiq Darmawan, mendapatkan kepercayaan dari Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan untuk membuat mesin pengering gabah. Dengan dana Rp 10 juta, sebuah teknologi yang inovatif dan efisien pun berhasil dibuat. Mesin ini cukup istimewa karena tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM), namun memanfaatkan panas Matahari atau solar cell.
Pertemuan antara mahasiswa dan mantan Dirut PLN itu, berawal saat mengikuti kompetisi di Unair Surabaya, November 2013 lalu. Saat itu Dahlan Iskan menantang peserta untuk bisa membuat mesin pengering padi yang efisien. Dengan penuh keberanian mahasiswa UB, Sidiq Darmawan menyanggupi tantangan tersebut.
‘’Awalnya saya tidak punya bayangan membuat alat bagaimana, apalagi itu kan masalah bidang pertanian. Sementara kami adalah mahasiswa Teknik Mesin,’’ ungkap Sidiq.
Meski bagi Sidiq, dunia pertanian, bukan hal yang asing. Kakeknya adalah seorang petani di Jawa Tengah. Sayangnya lahan pertanian mereka harus dijual ketika ia diterima di kampus UB. Hasil penjualannya dipergunakan untuk membayar biaya masuknya menjadi mahasiswa FT UB yang waktu itu dikenakan Rp 10 juta.
Di desanya, mayoritas penduduknya petani. Tak jarang para petani tersebut mengalami kerugian, karena gabah yang tak cepat mengering. Apalagi musim di Indonesia tak menentu. Kadang hujan setiap hari dan kadang panas terus menerus.
Sementara mesin pengering yang ada di pasaran, cenderung mahal. Terutama pada biaya produksi karena menggunakan BBM. Mesin yang ia rancang bersama dua temannya, Riyan Fajar Kurnia Aji, dan Sandy Pradita Hadi Utomo ini, didesain murah dan terjangkau bagi petani kecil. Petani tak merlu mengeluarkan biaya lagi untuk membeli solar yang harganya juga terus naik.
Mesin pengering gabah yang dibuat mahasiswa FT UB ini, terinspirasi dengan prinsip water heater. Dimana alat pemanas berfungsi untuk menangkap sinar matahari, lalu mengalirkan kepada penjemur gabah. Karena fungsinya sebagai kolektor surya, sehingga panas yang ditampung tidak akan hilang meski matahari sedang tidak bersinar. Jika dibandingkan menjemur gabah di tanah, saat tidak ada panas matahari dan menaruh gabah di dalam alat, maka akan lebih cepat kering jika tetap membiarkannya dalam alat.
‘’Sekecil apa pun sinar matahari memancar karena cuaca mendung tetap bisa tertangkap oleh kolektor ini, sehingga udara di dalam alat tetap hangat dan bagus untuk menjemur gabah,’’ ungkapnya.
Alat ini juga didesain praktis karena bisa dibuka dan ditutup dengan mudah. Sehingga saat hujan turun tidak perlu repot mengangkat gabah namun cukup menutup pintu mesinnya.
Mesin ini juga membuat proses penjemuran lebih higienis karena tidak banyak kontak dengan manusia. Menurut Sidiq, salah satu kelemahan padi di Indonesia adalah kualitas yang kurang bagus. Karena pasca panen yaitu pada proses penjemuran, seringkali tercampur batuan atau kotoran lainnya.
Dari segi harga, biaya untuk membeli alat ini pun lebih murah jika dibandingkan yang sudah ada. Di pasaran mesin pengering dengan bahan bakar minyak ini harganya sekitar Rp 8-9 juta, sementara alat mahasiswa ini hanya Rp 3 juta. Selain itu, mesin pengering ini juga mudah dibawa karena tidak berat. Bentuknya seperti lemari susun dengan beberapa rak-rak .
‘’Dengan alat ini, gabah bisa cepat kering. Kalau biasanya butuh waktu sampai 2 minggu dalam kondisi mendung, maka dengan alat ini hanya butuh waktu 3-4 hari untuk proses menjemur padi,’’ kata dia.
Para peneliti muda itu belum merasa puas dengan alat yang kini sudah hampir 90 persen jadi itu. Anak-anak muda kreatif itu sedang merencanakan untuk melakukan sejumlah perbaikan. Terutama penyempurnaan sistem isolasi atau peredam panasnya.
Saat ini masih ada beberapa rongga pada alat mereka yang ditengarai bisa membuat panas bocor ke luar, karena itu akan dilakukan penyempurnaan pada beberapa bagian.
‘’Karena kami masih aktif kuliah, jadi harus membagi waktu untuk bisa menyelesaikan alat ini. Kadang satu orang saja yang sempat melakukan pembenahan karena yang lain sibuk praktikum,’’ kata dia.
Karena kesibukan kuliah pula, lanjutnya, penyempurnaan alat pun tidak bisa ditargetkan dengan cepat. Namun mereka punya harapan besar agar kedepan penyempurnaan bisa terus dilakukan.
Tidak hanya oleh tim mereka saja, tapi juga bisa dilanjutkan adik-adik tingkat mereka. dengan harapapan alat ini bisa  mendukung peningkatan produksi pertanian di Indonesia. (lailatul rosida)