Ketika Kantor Polisi Menjadi Lokasi Ujian Nasional

Ujian Nasional (UN) untuk SMA-SMK-MA dan Paket C, kemarin serentak dilaksanakan. Di Kabupaten Malang, total peserta ujian 20.153 siswa. Semuanya mengikuti ujian di sekolah masing-masing. Namun ada satu siswa yang terpaksa mengerjakan UN, di Mapolres Malang. Dia adalah SG, pelajar salah satu SMK PGRI di Kecamatan Kromengan.

Jarum jam tangan, pagi kemarin, tepat pukul 07.00. Di balik pintu ruang tahanan Polres Malang, berdiri seorang pemuda. Memakai seragam sekolah, atasan biru dengan kombinasi putih dan bawahan celana hitam. Dia tidak memakai sepatu atau alas kaki apapun. Raut wajahnya terlihat tegang. Namanya berinisial SG, 19 tahun.
Saat itu, dia sedang bersiap diri untuk mengikuti ujian nasional. Pelaksanaan ujian, tidak dilakukan di sekolah tempatnya menimba ilmu, tetapi di Polres Malang. SG terpaksa mengikuti UN di Polres Malang, karena sedang menjalani masa tahanan. Dia ditahan sejak 5 April lalu karena perbuatan asusila.
Sekitar lima menit persiapan, dengan didampingi dua orang guru, satu pengawas serta petugas dari kepolisian, SG lalu dibawa ke ruang Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA). Dia mengerjakan soal ujian Bahasa Indonesia di ruang Kanit UPPA Iptu Sutiyo SH Mhum. Nomor peserta ujiannya 27-159-027-6.
Di dalam ruangan, hanya ada SG dan seorang pengawas saja, Mahendra Bayu. Guru atau yang lainnya, tidak diperkenankan masuk karena ditakutkan mengganggu konsentrasi. Di luar pintu, dijaga seorang Polwan yang merupakan penyidik pembantu di UPPA.
‘’Semua alat untuk mengerjakan soal (pensil dan penghapus) termasuk kartu peserta, dibawakan guru,’’ tutur SG sebelum memulai mengerjakan soal.
Tepat pukul 07.30 setelah diberi penjelasan tentang pengisian soal, SG memulai mengerjakan soal UN. Pemuda yang tinggal di Jalan Plasemen Kromengan ini, hanya menundukkan kepala memandangi naskah soal.
Dia berusaha untuk konsentrasi, meskipun dalam hatinya, ada perasaan menyesal karena tidak bisa mengikuti UN di sekolah dan kumpul dengan teman-temannya.
Selama dua jam, SG mengerjakan UN yang berjumlah 50 soal. Tepat pukul 09.30 sesuai jadwal, ujian berakhir. Setelah selesai, dia lalu keluar ruangan Kanit UPPA dan duduk di kursi depan penyidik. Kepada Malang Post, SG mengaku grogi dan takut saat mengerjakan UN.
‘’Saya grogi dan takut tidak lulus. Mengerjakan ujian sendirian tidak enak. Lebih enak bareng dengan teman-teman di sekolah,’’ katanya dengan perasaan menyesal dan kedua mata berkaca-kaca.
Dari 50 soal yang dikerjakannya, SG mengaku hanya sekitar 50 persen saja yang bisa dikerjakan. Lebihnya, dia mengatakan kesulitan untuk mengerjakan. Salah satunya soal tentang penulisan sebuah alamat. ‘’Sebetulnya senang karena masih bisa ikut UN. Tapi takut tidak lulus,’’ ujarnya.
SG menuturkan, dalam menghadapi ujian nasional, tidak banyak waktu yang dipersiapkan. Hanya dalam waktu dua hari saja, dia belajar di balik terali besi. Buku yang digunakan untuk belajar, dibawakan oleh keluarganya. Termasuk seragam sekolah untuk mengikuti ujian. ‘’Saya hanya dibawakan empat buku untuk belajar. Mudah-mudahan saya bisa lulus,’’ harapnya sambil menitikkan air mata.
Kapolres Malang AKBP Adi Deriyan Jayamarta, menuturkan, hak untuk tersangka SG ini tetap diberikan. Meskipun menjalani masa hukuman, tetapi dia diberi kesempatan untuk belajar.
‘’Kami siapkan ruang khusus kepadanya untuk ujian. Buku pelajaran untuk belajar juga sudah dibawakan keluarganya,’’ jelas Adi Deriyan.
Sugianto, guru Teknik di SMK PGRI, tempat SG sekolah menuturkan, sekolah terus memberian motivasi belajar supaya mentalnya tidak jatuh. ‘’Kami terus berikan motivasi kepadanya untuk terus berusaha supaya lulus. Sebetulnya SG ini di sekolah anaknya baik,’’ kata Sugianto. (agung priyo)