Melihat Istana Santri ‘Khusus’ Rehabilitasi Mental Tumpang

Tidak hanya RSJ Sumberporong-Lawang, yang siap menampung caleg depresi, pasca mengalami tekanan, akibat kalah dalam pertarungan Pileg, 9 April lalu. Pondok Pesantren (Ponpes) Rehabilitasi Mental Az-Zainy Desa Pandanajeng-Tumpang pun, siap menerima caleg yang butuh penyembuhan. Bagaimana lokasi itu? Berikut tulisannya.

Mengunjungi Ponpes Az-Zainy, sangatlah mudah. Menggunakan jalur alternatif lintas Selatan ke arah Malang Timur, akan langsung dijumpai arah menuju ke Desa Pandanajeng.
Sekitar 10 menit melintasi lokasi jalan yang sudah hotmik tersebut, pandangan mata akan langsung tertuju pada bangunan megah di kiri jalan dengan pintu gerbang dengan arsitektur timur tengah. Lokasi seluas 1,5 hektare itulah, yang merupakan istana santri ‘khusus’ rehabilitasi mental Ponpes.
Sebutan istana bagi warga sekitar, selain bangunan yang sangat berbeda dengan kondisi sekitar, juga karena luas lahan yang digunakan. Dari total lokasi itu, melingkar bangunan seolah saling menyambung.
Sementara di bagian tengah, dibuat layaknya halaman dengan ditumbuhi pohon palem. Tidak ubahnya bangunan timur tengah. Tempat salat berjamaah pun, seolah menjadi satu bagian dari bangunan yang melingkar.
Areal itulah, yang saat jam-jam tertentu atau di luar menjalankan ibadah atau rehabilitasi, akan didapati sejumlah santri ‘khusus’. Sebutan itu muncul, seiring rawat inap dan menghilangkan kesan kurang bersahaja kepada mereka yang membutuhkan rehabilitasi.
‘’Mereka yang melakukan rehabilitasi di sini, dari bermacam-macam gangguan mental. Mulai karena narkoba, stress hingga gila bawaan,’’ kata pendiri sekaligus pemilik Ponpes Rehabilitasi Mental Az-Zainy, Gus Zain Baik.
Menyinggung caleg yang mengalami depresi, Abi, panggilan akrab Gus Zain Baik, yang dikarunia dua anak itu menerangkan, pada dasarnya mereka (Caleg) itu butuh penenangan hati. Termasuk didalamnya, juga penenangan jiwa. Tatkala kedua unsur itu mampu diatasi, besar kemungkinan tidak akan mengalami gangguan mental.
‘’Di sini, ada dua metode yang digunakan dalam mengatasi caleg seperti itu. Pertama, konsultasi tidak langsung. Bisa dengan telepon atau datang layaknya silaturahmi dan kembali pulang. Khusus yang konsultasi tidak langsung, nantinya akan diberi air asma’. Air ini didapat setelah melakukan zikir dan wirit. Selain metode ini, yang bersangkutan atau caleg juga diminta saat tengah malam melakukan zikir. Cukup setengah jam dan dilakukan dengan rutin, pastinya hati akan terasa tenang,’’ ungkap Gus Zen.
Khusus konsultasi tidak langsung, terang Gus Zen, saat ini dia  sudah menangani sekitar 10 caleg. Namun untuk nama-namanya, dia menolak menyebut. ‘’Tidak etis. Mereka telepon dan mengatakan tentang kegagalannya mencalon. Dari situ, minta doa. Santri ‘khusus’ tersebut, tidak hanya dari Malang Raya,’’ paparnya.
Bila dalam konsultasi tidak langsung, masih belum menemui ketenangan jiwa, caleg diarahkan untuk melakukan konsultasi langsung. Saat rehabilitasi inap ini harus dilakukan, biasanya keluarga calon santri ‘khusus’ akan melihat fasilitas.
Khusus yang satu itu, pengurus Ponpes sudah mensiapkan segala sesuatunya. Mulai ruang VVIP yang kerahasiaan santri ‘khusus’ terjaga dengan baik, hingga pada fasilitas di dalamnya.
Seperti televisi atau tempat tidur, semua sudah disediakan untuk santri ‘khusus’. Yang jelas, tanpa mengurangi rehabilitasi dengan banyak zikir, santri ‘khusus’ akan dilayani dengan baik.  
‘’Karena butuh ketenangan jiwa yang khusus, untuk ruang VVIP pengurus menyediakan empat ruang. Sementara untuk ruang VIP, disediakan sekitar enam ruang. Dari dua ruang itu, semua identitas dirahasiakan. Bahkan, santri ‘khusus’ akan menempati ruang masing-masing dengan penyembuhan yang nyaris sama. Selain dua ruang itu, juga ada ruang standart,’’ katanya seraya menjelaskan, untuk dua ruang pertama tersebut memiliki sedikit berbedaan dan layanan.
Disinggung mengenai metode rehabilitasi yang dilakukan, Gus Zen mengurai, santri ‘khusus’ akan dilakukan pengobatan yang dikemas secara Islami. Seperti, minum air yang sudah diberi asma’.
Untuk pasien baru, biasanya di totok peredaran darahnya agar lancar. Kemudian, bersama-sama salat berjamaah. Lalu, melaksanakan doa dan zikir setiap bulan. Bahkan, untuk santri ‘khusus’ yang parah, diajarkan kembali menulis, membaca dan berhitung hingga sampai konseling bersama dengan santri ‘khusus’.
‘’Selama rehabilitasi, santri ‘khusus’ akan diajak untuk melaksanakan kegiatan Islami. Mulai majelis taklim yang dikerjakan setiap sore dan isya’ atau usai salat berjamaah, majelis zikir yang dilakukan habis subuh. Lalu, istighotsah tiap bulan yakni pada Jumat Paling bersama 5 ribu jamaah, hingga wisata religi di halaman ponpes,’’ ungkap seraya mengatakan, selama menangani rehabilitasi mental, biasanya santri ‘khusus’ hanya butuh waktu dua sampai enam bulan, akan kembali normal. (sigit rokhmad)