Komunitas Perkawinan Campuran yang Ingin Tetap Eksis

Lama hidup di negara orang, sekaligus mendapatkan pasangan hidup, bukan lantas mengurangi kecintaannya terhadap tanah air. Nani Arwati Panginda dan Gerrit Bontes, salah satu pasangan suami istri (pasutri), namun beda negara. Merasa sebagai kaum minoritas, mereka mendirikan Komunitas Perkawinan Campur (KPC) Flamboyan. Bagaimana lika-liku komunitas tersebut dan sumbangsih terhadap daerah?

Tidak terlalu sulit mencari rumah pasutri, Nani Arwati Panginda (48) dan Gerrit Bontes (72). Hampir semua orang di Jalan Flamboyan Kelurahan Songgokerto Kota Batu, kenal dengan keluarga Bule, demikian sapaan warga setempat, tersebut.
Apalagi rumah itu, cukup besar, untuk ukuran di kawasan sekitar. Bercat putih dan bersebelahan dengan masjid Taubah. Jadi, sangat mudah mencarinya.
Nani, tampak sumringah ketika ditemui hari ini. Terlihat keluarga kecil ini, baru selesai menghadiri pernikahan kerabatnya. Bahkan Nani masih lengkap dengan pakaian resmi. Termasuk suami dan anaknya yang belum sempat mengganti baju pestanya dengan baju santai.
Tanpa canggung, dia langsung bercerita awal mulanya KPC Flamboyan ini. KPC sendiri lahir tahun 2001 silam. Saat ini sudah ada 36 anggota pasangan suami istri atau perkawinan campur.
‘’Ada yang suaminya dari Australia, Belanda, Jerman, Italia, Skotlandia, Amerika, dan Swiss. Sementara istri-istrinya adalah asli Indonesia,’’ kata Nani didampingi sang suami, Gerrit Bontes di ruang depan rumahnya.
Awalnya, komunitas ini hanya sebatas ngumpul bareng dan arisan setiap sebulan sekali. Ketika bertemu itu, mereka yang rata-rata pernah tinggal di negara sang suami, selalu bertukar cerita, seputar kehidupan di negara orang.
Tak heran ketika berkumpul, masakan yang disajikan, biasanya masakan negara asal sang suami. Sehingga, komunitas ini menjadikan momen itu, sebagai ajang mengenang saat-saat menjalani hidup disana.
Tidak dipungkiri, sebagian masyarakat menilai, komunitas ini hanyalah dipakai ajang hura-hura. Akan tetapi, seiring berputarnya waktu,  mulai tumbuh kepedulian sosial dari anggota. Seperti memberikan bantuan bagi korban Gempa Aceh, Gunung Merapi dan terakhir Gunung Sinabung serta Gunung Kelud.
Tidak hanya itu, KPC justru pernah membangun klub belajar gratis
bahasa asing. Serta menjadi guide dan memperkenalkan kekayaan alam di Indonesia, seperti halnya di Kota Batu dan Malang.
Tapi, hal tersebut tidak berjalan lama. Anggota KPC silih berganti atau ada yang kembali ke negara asal sang suami. Angotanya selalu baru dan berubah.
Perempuan dengan dua anak ini mengakui, tidak mudah memang hidup dan kembali ke Indonesia dengan status suami beda negara. Karena, harus mengurus segala persyaratan. Seperti mengurus surat Kepemilikan Izin Tetap. Oleh karenanya, KPC Flamboyan memilih membangun komunikasi dengan KPC Melati Jakarta.
Tujuannya, untuk berjuang bersama mendapatkan hak dan kewajiban hukum. Terutama bagi pasangan suami istri yang campuran. Apalagi mereka sempat mendapatkan perlakuan diskriminatif. Terutama sebelum tahun 2006. Pasangan berbeda negara, dipersulit untuk berkarya, dibatasi bekerja dan hal-hal lainnya.
‘’Baru setelah tahun 2006, ada aturan yang membuat kami lebih bebas berkarya. Termasuk mendukung program-program pemerintah,’’ tandasnya.
Nani pun sudah membuktikan hal itu. Dia selalu membangun silaturrahmi dengan orang kampung, dan membuktikan jika dirinya tidak seperti anggapan masyarakat, yang hanya sekadar foya-foya dan hidup hura-hura, karena bersuamikan orang asing.
Anak-anaknya pun, sengaja tidak disekolahkan di sekolah Internasional. Harapannya, untuk mengajarkan kepada mereka agar supaya bisa cepat sosialisasi dan berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Ditambah agar supaya anak-anaknya bisa belajar bahasa Indonesia dan Bahasa daerah.
‘’Mereka hanya membutuhkan waktu dua bulan di sekolah, untuk bisa berinteraksi dan fasih belajar bahasa Indonesia. Tidak ada diskriminasi bagi keluarga kami dari masyarakat, justru mereka welcome,’’ paparnya. Kalau pun ada yang dikhawatirkan, adalah status anaknya yang masih dwi warga. Sehingga, rasa cemas dan bingung selalu menyelimuti setiap hari. ‘’Bagaimana masa depan mereka nanti, itu yang kami sedang obrolkan sesama keluarga campuran. Supaya, ada keringanan terhadap kami,’’ lanjutnya.
Sembari menunggu status tersebut, KPC ingin mendukung program pemerintah Kota Batu. Apalagi, status Batu sebagai Kota WIsata. Seperti sewaktu alm Imam Kabul, masih menjadi wali kota.
‘’Jaman Wali Kota Batu, alm Imam Kabul, kami selalu dilibatkan dalam menyambut tamu wisatawan asing. M ulai dari mengenalkan budaya, adat sampai tempat-tempat wisata,’’ urainya.
Karenanya dalam waktu dekat, mereka akan bertemu dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispartabud) Kota Batu, Mistin. Mereka ingin mendukung gerakan mengeksplore kekayaan wisata alam di Kota Batu. Seperti konsep desa wisata dan keanekaragaman alam yang alami.
‘’Alangkah baiknya, jika pengelola desa wisata (masyarakat) fasih bahasa asing. Misal bahasa Belanda dan Inggris. Supaya komunikasi dengan wisatawan lebih nyaman, dan kami ingin sekali terlibat dalam mewujudkan hal tersebut,’’ ungkap perempuan sarjana Akuntansi di Belanda ini.
Nani yang lahir di Surabaya menuturkan, selama 12 tahun hidup di Belanda, termasuk salah satu WNI yang tampil dalam Indonesian Tradisional Dance (ITD), yang dikemas dengan penampilan kesenian dan budaya.  Wajar kalau dia sering dimintai bantuan travel untuk mengenalkan dan memaparkan lebih jauh tentang Indonesia.
Sementara itu, Gerrit Bontes mengaku senang dan nyaman berada di Indonesia. Sebab, suasana di Kota Batu mengingatkan dengan kampong halaman.
Bedanya, jika di Belanda, peraturan kehidupan lebih ketat, di Indonesia lebih enjoy dan tidak terlalu ketat. ‘’Iklimnya enak dan daerahnya bagus. Ditambah lagi masyarakatnya yang sangat menjunjung gotong royong dan menghargai sesama. Sekalipun saya bukan warga Indonesia, ‘’ katanya menambahkan  sang istri. (miski al madurain)