Iroel, Pelukis Pensil Warna dengan Karya Senilai Ratusan Juta

Malang punya pelukis pensil warna kaliber nasional. Namanya, Chairul Sabarudin. Akrab disapa Iroel. Pria kelahiran Malang domisili Bantaran, mampu menghasilkan karya senilai hingga ratusan juta. Belum ada seniman asli Malang, yang mampu bersinar dan konsisten di tangga kesuksesan dunia seni lukis pensil warna, seperti yang dilakukan Iroel.
 
Tatapan lukisan harimau ini, tajam. Bola mata bulat hitam si macan, menembus lembaran kanvas lukisan. Sorot pandangnya tenang namun awas. Lidah merahnya menjulur ke bawah, mencari pelepas gerah.
Si macan sedang haus. Tapi, dahaganya tak mengurangi kewaspadaan.
Sambil terus memandang keluar kanvas, si macan meneruskan minumnya. Kumis putihnya hampir menyentuh air, melengkung seperti kumis anak kucing yang menikmati kesenangan. Tapi, telinganya terangkat. Layaknya parabola. Si macan seperti menyebar sinyal lewat kupingnya yang dikerumuni bulu-bulu putih.
Kuping tajamnya seperti bicara. Satu saja bunyi aneh tertangkap telinganya, si macan akan menghentikan minum dan mencakar oknum penganggu dengan kuku runcing. Bulu-bulunya begitu rapi. Garis-garis cokelat yang berjajar, seperti padang rumput savana yang menguning.
Loreng hitam menyembul di sana-sini, bergelombang seperti awan hitam. Bulu loreng si macan, membungkus kekuatan otot-ototnya. Punggungnya terlihat keras. Siku kaki si macan pun tegas dan kuat. Si macan seperti bicara, siapa mendekat, langsung disikat. Seperti itulah pengambaran Malang Post saat melihat karya seni lukisan pensil warna dari Chairul Sabarudin.
Sekilas, hasil karya Iroel, sapaan akrabnya ini, seperti foto. Namun, begitu didekati, gambar macan ini adalah lukisan. Dengan media pensil warna, Iroel yang asli Malang, begitu detail dalam melukis hewan predator ini. Iroel menggambarkan si macan dengan begitu halus.
Garis bulunya lembut namun tegas. Lalu, kekuatan warna untuk menggambarkan macan secara nyata, juga jadi keistimewaan gambar ini. Tiap goresan pensil warna di atas kanvas, makin menghidupkan sosok macan yang digambar oleh Iroel. Karya ini hanyalah satu dari puluhan lukisan Iroel yang menggunakan pensil warna.
Ya, pelukis yang tinggal di daerah Bantaran, Blimbing itu, merupakan pelukis pensil warna paling top yang dimiliki oleh Indonesia saat ini. Belum ada karya lukis dengan media pensil warna di Indonesia, yang bisa menyamai level karya Iroel. Dengan mengandalkan detail, pelukis kelahiran 1968 itu, memberi soul atau nyawa bagi lukisan pensil warnanya.
Iroel menjelaskan, lukisan macan yang dibuatnya awal tahun 2014, adalah lukisan latihan. ‘’Ini adalah lukisan latihan. Saya belajar teknik baru dalam melukis pakai alat pensil warna yang saya modifikasi. Makanya lukisan macan minum air ini, gak ada judulnya, alias untitled,’’ terangnya kepada Malang Post.
Hasil gambar yang begitu detail dan berkelas ini, ternyata cuma gambar latihan yang mempergunakan pensil warna pendek yang sudah tidak terpakai.
Alumnus Seni Rupa Universitas Negeri Malang ini menjelaskan, 95 persen hasil lukisan macan minum air ini, tidak menggunakan pensil baru. Iroel memanfaatkan pensil-pensil bekas. Ia mengelupas batang kayu pensil, menyisakan bagian batang warna. Setelah dikelupas, batang warna yang pendek-pendek itu dimasukkan dalam alat khusus.
Alat tersebut adalah penghapus elektronik, yang dimodifikasi agar bisa jadi pensil elektrik. Batang berwarna itu dibebat kertas tipis, dan diselipkan di pucuk penghapus elektrik. Setelah itu, alat elektrik tersebut dipakai menggambar macan minum air yang tanpa judul tersebut.
Iroel hanya menggunakan pensil warna untuk melakukan finishing lukisan si macan. Seniman yang juga anggota galeri seni nasional Zola Zolu di Bandung tersebut mengungkapkan, ia menghemat banyak biaya dengan menggunakan pensil bekas yang tak terpakai. Biasanya, ia menghabiskan sekitar 100 pensil warna baru, untuk lukisan dengan lebar 1 x 2 meter seperti si macan.
Jika ditotal, maka biaya yang dihabiskan untuk 100 pensil warna adalah Rp 3 juta. Satu lukisan seperti si macan, juga harusnya menghabiskan minimal 100 pensil warna baru. Tapi, karena hanya memakai pensil bekas, Iroel mampu meminimalkan biaya, dengan hasil yang sangat berkelas.
‘’Saya menghabiskan banyak sekali pensil bekas. Mungkin pensil bekas bisa mencapai 400 buah, atau setara 100 pensil warna baru. Kalau diuangkan, harusnya habis Rp 3 juta untuk satu karya. Tapi karena bekas jadi pensil barunya hanya untuk finishing saja,’’ tegas adik kandung Indra Aswan, pencari keadilan yang biasa berjalan kaki ke Jakarta, tersebut.
Untuk menggarap lukisan si macan tanpa nama, Iroel menghabiskan waktu sekitar 3 minggu. Meskipun Iroel sudah belasan tahun jadi seniman, tepatnya sejak tahun 1990, ia selalu menghadapi kesulitan yang sama dalam setiap karya pensil warna.
Menurut maniak film ini, melukis pensil warna beda dengan cat air atau cat minyak. ‘’Kesulitan utamanya adalah, menutup bidang lebar dengan ujung runcing. Lukisan saya selalu memakai kanvas besar, sedangkan ujung pensil tak lebih lebar dari setengah millimeter. Tentu saja itu punya tingkat kesulitan sendiri. Harus ekstra sabar,’’ tutur Iroel.
‘’Tangan saya juga jadi dempal sebelah. Tangan kanan saya lebih besar dari tangan kiri saya. Belasan tahun saya mengarsir dengan pensil, jelas saja otot tangan kanan saya mrengkel sebelah, hahaha,’’ kata Iroel sambil tertawa.
Namun, perjuangan serta tingkat kesulitan pensil warna yang mendetail seperti karya Iroel, juga tidak murahan. Dengan gaya realis beraliran simbolis, Iroel sudah membangun reputasi sebagai pelukis pensil warna tersohor di Indonesia. Satu karyanya, dihargai dengan nilai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Lukisan si macan yang tanpa nama dan hanya jadi lukisan latihan, harganya diatas Rp 50 juta. ‘’Ya kurang etis menyebut harga. Tapi memang lukisan saya untuk saat ini tak pernah dijual di bawah harga Rp 50 juta. Meskipun lukisan macan adalah lukisan latihan, tetap saja saya buat karya yang laku dijual. Hehe. Beberapa karya juga ada yang di atas Rp 100 juta,’’ tegas Iroel.
Saat ini, Iroel sedang mengerjakan proyek untuk pameran di Art Bazaar Jakarta, bulan Juli 2014. Art Bazaar adalah ajang pameran seniman top nasional dan internasional. Dalam Art Bazaar, tidak ada karya seni yang nilainya murah. Semua karya yang dijual di Art Bazaar mahal. Iroel sendiri sudah dua kali ikut Art Bazaar dan laris manis.
Tahun ini adalah tahun ketiganya di Art Bazaar. Pelukis yang sudah 7 tahun bergabung dengan galeri seni Zola Zolu Bandung itu bakal memamerkan lima karya terbaiknya untuk dipertontonkan kepada para borjuis dan kolektor yang tak pikir harga dalam berburu karya seni. Hasil lukisan Iroel di Art Bazaar dihargai mulai Rp 50 juta hingga di atas Rp 100 juta.
‘’Insya Allah karya saya bakal ikut di Art Bazaar bulan Juli. Salah satu karya saya berjudul Splash, digambar di atas kanvas ukuran 1,9 x 2,5 meter. Sudah 85 persen,’’ tutup pelukis yang sudah jadi langganan majalah seni internasional itu. (fino yudistira)