Bareng Seniman 28 Negara, Ajarkan Kalap Sebagai Power Tari

KESENIAN bantengan bersinar di Kota Batu akhir-akhir ini. Salah satu tokoh bantengan di Kota Batu adalah Agus Riyanto, warga Jalan Brantas Kota Batu. Agus bukanlah tokoh bantengan di Kota Batu saja, tetapi sudah banyak pengalaman bermain di luar negeri sekaligus melakukan atraksi bersama orang-orang warga negara asing.
Sosoknya kalem, badan agak gemuk sedangkan rambutnya sedikit gondrong. Dari sosoknya yang kalem itu bisa berubah menjadi garangan jika dia sudah memegang pecut atau cemeti di tangan kananya. Dalam satu kali sabetan cemeti ribuan bantengan bisa langsung datang dan melakukan atraksi bersama-sama.
Itulah sosok Agus Riyanto, salah satu tokoh bantengan yang sudah malang melintang di berbagai negara untuk atraksi. Sabetan cemeti dengan suara sedikit mennggelepar adalah sebuah bentuk komando kepada ribuan bantengan segera beratraksi. Dengan komando cemeti itu juga bantengan Kota Batu berhasil memecahkan rekor MURI untuk kategori terbanyak dalam pertunjukan di Stadion Brantas Kota Batu, beberapa waktu. Jumlah peserta bantengan massal itu hampir 2000 orang untuk pemecahan rekor MURI.
"Saya juga sangat berterima kasih Pemkot Batu menjunjung kesenian bantengan ini dari seni kampung menjadi kesenian khas Kota Batu," tegas Agus Riyanto singkat.
Berbagai negara pernah disinggahi dalam sebuah atraksi bantengan. Negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand sudah biasa disinggahi. Sedangkan negara lain, misalnya Jepang, Australia dan New Zealand. Dalam setiap atraksi, dia pasti gandeng bersama pelaku kesenian-kesenian lokal di negara setempat.
"Saya tampil di Thailand dan Malaysia, akhir 2013 lalu. Itu pengalaman paling gress dan sebelum sudah ke Jepang, Australia dan New Zealand. Asyiknya, atraksi di Malaysia itu diikuti pelaku seni dari 28 negara. Saya datang ke sana karena mendapat undangan," tegas bapak tiga anak ini.
Satu hal yang bisa dipetik dari pertunjukan keluar negeri, mereka sangat menghargai kesenian bantengan itu. Dia juga menjelaskan, mereka yang bersama-sama melakukan atraksi di luar negeri juga kreator tari di negaranya masing-masing.
Mereka memiliki keinginan besar mempelajari seni bantengan karena ada saat-saat kalap. Bukan sisi negatif yang diambil, tetapi dari sisi positif.
Saat mereka kalap, ada power besar dalam berkreasi setiap gerakan. Dengan power yang kuat itu, mereka bisa melakukan gerakan lebih menjiwai.
"Power saat kalap ikut dipelajari pelaku seni luar negeri. Power itu yang dimanfaatkan mereka saat melakukan atraksi bantengan ataupun tari. Itu karena mayoritas pelaku seni yang ikut dalam pertunjukan bersama, juga pencipta tari di negaranya masing-masing," kata Agus.
Karena pengalaman seperti itu, dia juga memiliki keinginan bantengan yang sudah dijadikan kesenian khas Kota Batu semakin mendunia. Bisa saja pelaku-pelaku bantengan asal luar negeri diundang ke Batu untuk atraksi bersama. Langkah seperti ini sangat manjur untuk menjadikan Batu sebagai kota wisata internasional," tambahnya.
Pihaknya juga ingin menepis isu-isu miring tentang bantengan. Bantengan menyebabkan orang kalap dan menjadi kesenian yang menakutkan. Kesenian jika dikemas secara apik akan memberikan penampilan yang luar biasa.
Dia menjelaskan, bantengan memiliki filosofi gotong royong. Bantengan adalah simbul kekuatan dalam sebuah gotong royong yang mampu mengalahkan pelaku macanan hingga monyet. Dalam kesenian bantengan, macanan dan monyet adalah simbol keangkaramurkaan yang semua itu bisa dikalahkan banteng.
Agus sendiri mengenal bantengan sejak kecil. Dia dapat ilmu itu dari kakeknya yang juga pendekar bantengan. "Kakek yang mengajari saya sejak kecil. Baru tahun 2006, kami mengadakan kegiatan Bantengan Nuswantoro. Bantengan Nuswantoro merupakan pagelaran seni bantengan yang diikuti oleh berbagai komuntas bantengan di Kota Batu," kata Agus. (febri setyawan)