Kaget Naik Kursi VVIP,Tidak Pikirkan Gaji

KECINTAAN luar biasa besar kepada bahasa Arab    berhasil mengantarkan  Drs Ahmad Fuad Effendy MA menjadi tokoh tingkat internasional.  Dosen Universitas Negeri Malang (UM) ini   dipilih  sebagai  dewan pembina dalam King Abdullah bin Abdul Aziz International Center dibawah naungan kerajaan Saudi Arabia.
Malang Post akhir pekan kemarin  mendatangi rumah yang beralamatkan di Perum Landungsari Asri, Kabupaten Malang. Tidak lama, berdiri setelah menekan bel seorang laki-laki paruh baya menggenakan pakaian batik membuka pintu. “Silahkan masuk,’’ ajaknya.
Dialah Ahmad Fuad Effendy. Sosoknya memang  sangat sederhana. Alumni Pondok Pesantren Gontor Ponorogo  pada  tahun 1965 ini kemudian mengungkapkan  kiprah dirinya dalam organisasi internasional tersebut. “Dari kecil kami  memang diajarkan kedua orang tua untuk cinta Al Quran.  Karena itu, isi dari Al Quran kami pelajari dengan tekun. Mulai dari rangkaian hurufnya, bahasa, bahkan  sejarah dan kehidupan bangsa Saudi Arab selalu  kami dalami tiada henti,’’ paparnya.
 Lantaran itulah, kakak kandung dari Emha Ainun Najib ini sengaja  memilih sekolah madrasah untuk pendidikan SD dan SMP nya. Sedangkan untuk SMA nya, ayah  lima anak ini memutuskan untuk  belajar  di Ponpes Gontor Ponorogo. Setelah itu, kecintaannya dengan bahasa Arab pun berlanjut  dengan  mengambil jurusan Sastra Arab di IAIN Yogyakarta.
Sebagai mahasiswa Sastra Arab dirinya tidak hanya puas dengan duduk dan mendengarkan dosen mengajar. Sebaliknya,  pria ramah ini juga ikut melakukan pengkajian bahasa Arab. Dari aktifitas pengkajian-pengkajian tersebut namanya mulai dikenal.
“Sejak mahasiswa kami sering melakukan kegiatan di luar kampus, untuk melakukan berbagai pengkajian bahasa Arab,’’ katanya sembari mengatakan saat kuliah dia dan beberapa rekannya juga sempat menerbitkan beberapa majalah berbahasa Arab.
Pada tahun 1976, atau 3 tahun setelah lulus, dari IAIN Yogyakarta, suami dari Uthiyatul Udhiyah ini mulai mengabdikan diri menjadi pengajar di UM, dengan mata kuliah Sastra Arab. Seperti pada saat kuliah, selain mengajar pria ini juga sibuk melakukan kegiatan aktif di masyarakat. Tentu saja, kegiatan aktif tersebut tetap berkaitan dengan pengkajian Al Quran. Mulai dari menggelar pengkajian rutin di masjid-masid hingga menjadi pengasuh Pengajian Padang Bulan.
 “Untuk pengkajian diadakan secara rutin. Kami membahas tentang Sasta Arab, Tafsir, Kebudayaan Arab dan Islam selalu dibahas dalam berbagai pertemuan,’’ katanya.
Hingga kemudian tahun 1999 lalu, anak pertama dari 15 bersaudara ini bersama dengan teman-teman pengajar Bahasa Arab se Indonesia mendirikan ikatan pengajar Bahasa Arab. Kumpulan pengajar Bahasa Arab ini dinamakan Ittihadu Mudarrisil Lughah Arabiyah (IMLA). Di organisasi tersebut, Fuad menjabat sebagai ketua umum. “Organisasi ini cukup memiliki banyak kegiatan. Kami selalu mengadakan seminar baik dalam negeri maupun internasional yang dihadiri lebih dari 20 negara,’’ urainya.
Berbagai kiprah dan keaktifan seperti    inilah  kemudian mendapat penilaian positif dari pihak King Abdullah Bin Abdul Aziz International Center, Saudi Arabia.Bahkan, dia dipercaya untuk menjadi salah satu dewan pembina organisasi berskala internasional ini untuk periode 2014-2017.
 “ Pada bulan Juni 2013 saya dapat telepon dari pihak Kerajaan Arab Saudi. Di pembicaraan telepon itu saja diminta mengirimkan Curiculum Vitae (CV),’’ katanya. Saat itu Fuad sama sekali tidak menyangka, jika dirinya dipilih sebagai Dewan Pembina. Sebaliknya dia menyangka akan mendapat undangan haji. “Lha kok musim hajinya selesai saya kok tidak dipanggil-panggil. Jadi perkiraan undangan haji pun pupus,’’ katanya sembari tersenyum.
Dia baru menyadari, setelah Januari 2014 lalu. Setelah pihak kerajaan kembali menelpon, dan mengatakan dirinya sebagai anggota dewan pembina King Abdullah Bin Abdul Aziz International Center, Saudi Arabia.
 “Jelas kaget. Apalagi saat itu saya diminta langsung terbang ke Saudi Arab,’’ kenangnya. Meskipun masih dalam nuansa tidak percaya, namun Fuad tetap berangkat. Apalagi semua akomodasi penerbangan hingga penginapan ditanggung oleh pihak kerajaan. “Saya naik pesawat  Garuda Airlines dengan kursi VVIP. Terus terang saya sempat kaget  sebab itulah  kali pertama saya naik kursi VVIP,’’ katanya dengan tersenyum.
Selama di  Saudi Arab, pihak kerajaan juga menempatkan dirinya  menginap di hotel super megah. “Saat itu tidak hanya saya saja yang diundang. Tapi ada 8 orang lagi. Yaitu 5 orang dari Arab, 2 dari Afrika, dan 1 Eropa. Kami diinapkan di hotel yang sama,’’ katanya.
Lalu apa saja tugasnya setelah dirinya dilantik? Fuad pun mengaku tugasnya antara lain  melakukan evaluasi kinerja dan mengesahkan perbagai program kerja King Abdullah Bin Abdulaziz International Center. Selain itu, mereka  juga melakukan rapat 5 kali dalam setahun. Rapat pertama di Riyadh sudah dilaksanakan bulan Maret lalu, dan pada bulan Juli akan datang rapat kerja di Jakarta.
Meskipun berkumpul dengan  pengurus dari berbagai negara, Fuad mengaku tidak ada masalah. Karena dalam setiapkali pertemuan kerja, bahasa yang digunakan para Dewan Pembina lainnya adalah bahasa Arab.  “Tanggal 1-5 April lalu saya dari Arab menghadiri undangan dari King Faishal Center For Research and Studies.Yang jelas hamper setiap bulan sekali saya sekarang harus terbang ke Arab Saudi,’’ katanya.
Apakah juga menerima gaji?  Pria yang menempuh S2 jurusan Sastra Arab, IAIN Jakarta ini hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala. Dia menyatakan menjadi dewan pembina di King Abdulah Bin Abdulaziz International Center,  sudah menjadi capaian tertinggi dirinya. Lantaran itulah, diapun sama sekali tidak mengharapkan gaji. “Saya sama sekali tidak mengharapkan. Saya terpilih di organisasi itu saja sudah sangat bangga,’’ katanya sembari mengatakan meskipun tak digaji dirinya tetap berusaha dengan baik dan ikhlas.(Ira Ravika)