Menelusuri Prostitusi Elit di Kota Malang (1)

PROSTITUSI elite di Kota Malang tak pernah mati.  Bahkan ‘bisnis lendir’ kelas atas itu tumbuh subur dengan layanan yang lebih  berani dan  menggiurkan. Untuk menjamah para perempuan cantik itu  haruslah merogoh saku dalam-dalam. Keberadaan dan praktik mereka pun sangat rapi. Bagaimana potret terkini prostitusi elit di kota pendidikan ini? Berikut hasil  penelusuran tim Malang Post yang dilakukan sejak bulan Maret lalu.


Sebuah hunian eksklusif di kawasan Soekarno Hatta tampak tenang seperti hari-hari  biasanya. Sebuah mobil Hyundai Getz dan Honda Jazz bernopol cantik melaju pelan layaknya warga di hunian berakses terbatas tersebut.  
Rina (bukan nama sebenarnya), 21 tahun  adalah pemilik  Getz. Sedangkan mobil Jazz milik Marcella,juga bukan nama sebenarnya, berusia  21 tahun. Dua perempuan  cantik berkulit mulus itu bukan warga di hunian eksklusif itu. Namun sebagian waktu mereka dihabiskan di tempat tersebut.
Di tempat itulah tim Malang Post berkenalan dengan mereka setelah sebelumnya dihubungkan seorang  sahabat  Rina dan Marcela, sebut saja Mia namanya. Di tempat itu pula jadi ‘markas’ mereka. Dan dari tiga sahabat karib itulah, wajah  prostitusi berkelas di Malang diungkap.
“Mau acara mas?” tanya Marcella sembari bercanda saat dikenalkan Mia. “Nih ada tiga. Tinggal  pilih saja. Kalau mau acara sama semuanya bisa kok,” sambung Mia sembari bercanda mencairkan suasana.
Acara adalah istilah umum yang biasa digunakan untuk transaksi seks diantara wanita panggilan di kota ini. Istilah itu  sebenarnya istilah umum yang digunakan semua kelas wanita panggilan. Namun  yang membedakan yakni   service, latar belakang mereka dan tarif sekali acara.
Soal latar belakang, Mia, Rina dan Marcella bukan datang dari kalangan ‘’ecek-ecek’’.  Mereka juga pandai  menyamarkan diri. Tiga sahabat karib alumni sebuah SMK negeri di Malang  itu merupakan anak model. Mia dan Rina yang masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka misalnya pernah aktif di agency model yang sama. Marcella yang pernah jadi salah satu model foto oleh sejumlah fotografer di Malang dalam sebuah acara hunting foto tercatat sebagai  mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri.
Tak hanya tiga orang itu saja, anggotanya sekitar 8 orang. Karena itulah mereka sering menyebut diri sebagai sebuah geng. Lima lainnya di luar kota, yakni di Surabaya dan Jakarta. Di dua kota besar itu, bekerja sebagai wanita panggilan kelas atas.
“Yang di Jakarta dan di Surabaya itu ikut germo. Kalau disini (Malang) gak ikut germo. Ngapain ikutan kayak gitu, rugi. Banyak potongannya,” kata Mia sembari tertawa. Namun Mia bisa mendatangkan mereka ke Malang jika sedang banyak acara. “Tapi aku bukan gituan lho (mami),” sambungnya membela diri.
Karena kalangan berkelas, tarifnya pun mahal.  Tarif sekali acara dipatok Rp 1,5 juta. Itu jika sudah kenal dan rutin menggelar acara bareng.  Tapi jika bagi orang baru dan pemakainya adalah pejabat,  tarif sekali acara berbeda. Yakni bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta.
“Tarifnya emang beda, ya itu sekali main. Kita kan bukan anak SPG. Kalau SPG-an gitu bisa murah,” terang wanita tinggi semampai ini. Selain itu, mereka juga membatasi tempat ‘acara’. “Pokoknya  jangan di situ ( menyebut dua hotel short time di Malang),” katanya lalu menyebut sejumlah hotel di kawasan tertib lalu lintas di Kota Malang sebagai tempat nyaman chek in.
Hunian eksklusif yang sedang ditempati Mia juga kerap dijadikan sebagai tempat chek in. Tak hanya Mia saja, teman-temannya bisa menggelar acara di tempat tersebut.  Bahkan tempat yang sedang ditempatinya biasanya yang direkomendasikan untuk lokasi acara. Jika ada yang mengadakan acara di unit yang ditempatinya, maka ia akan mengalah.
Tempat tinggal Mia jadi saksi liarnya kehidupan seks kelas elite di Kota Malang. Ia pernah menggelar pesta seks bersama seorang  pengusaha asal Jakarta.  “Waktu itu aku ngundang ke sini. Dia   minta temanku. Ya udah ku panggil dua teman ku. Kita acara disini. Ya pesta seks dong,” katanya lalu tertawa.
Ia lalu mendeskripsikan apa yang dilakukan mereka. Si pria tanggung asal Jakarta itu diservice tiga wanita sekaligus. “Enggak gilir. Ya langsung tiga orang sekalian. Tahulah,,, masing-masing diposisi enak. Orangnya kelainan,  ha ha ha…” ucap Mia sembari tertawa ngakak.
Lantas berapa tarifnya?  “15 juta dibagi anak tiga. Orangnya masih sering ke Malang. Tapi biasanya minta diacarakan sama teman-teman ku,” katanya.
Berbiaya tinggi sekali acara, praktis mereka berkantong tebal. Rina dan Marcella misalnya, bisa beli mobil dari hasil bisnis jual diri. Untuk menyamarkan kekayaannya di depan orang tua, mereka menjalankan bisnis jual pakaian dan sepatu secara online. “Tapi ini sungguhan kok mas. Aku juga jualan sepatu,” kata Marcella sembari menunjukan bisnis online di ponselnya.
Kendati terlibat di dunia prostitusi elite, Rina, Mia dan Marcella pandai menjaga diri. Mereka tak suka clubbing. Hari-harinya lebih banyak untuk perawatan tubuh di pusat kecantikan dan kebugaran. Jangankan minuman berlakohol, rokok saja tak mereka sentuh. “Apalagi narkoba, waaah gak mau,” kata Mia.  
Menjaga tubuh menjadi prioritas. Karena itu, tak akan menemukan satu pun tato di tubuh mereka. Tempat dan waktu nongkrong pun sangat terbatas.
Pergaulan pun tak sembarangan. Mereka tak pernah mau kumpul dengan geng lain. “Kalau sama anak-anak di candi xxxxx (beberapa kos di jalan candi-candi) itu beda kelas. Males sama mereka, sendiri-sendirilah,”  tambah Rina.
Lantas bagaimana dengan beberapa geng di kawasan jalan candi-candi, Blimbing? Di kawasan tersebut juga terdapat beberapa rumah kos yang terkenal sebagai tempat tinggal cewek bispak. Bagaimana caranya agar bisa menggunakan jasa mereka? Siapa saja pengguna jasa syahwat para cewek bispak elite itu?  Ikuti hasil penelusuran Malang Post berikutnya….  (Tim/bersambung)