Vbi Djenggotten, Komikus Sawojajar yang Mendunia

Di awal 1990-an, komik sempat booming di dunia remaja. Meski dikuasai komik Jepang seperti Doraemon, Sailormoon, Sinchan dan komik manga, namun komik lokal masih punya celah untuk mengambil hati pembaca, khususnya remaja. Saat ini, ketika komik sudah tergantikan dengan gadget, Vebi Surya Wibawa alias Vbi Djenggotten nekat meninggalkan profesinya yang sudah mapan di dunia industri TV, untuk menyeriusi dunia komik.

Jika Anda pecinta acara komedi di TV, pasti tidak asing dengan acara Pesbukers. Acara yang tayang setiap petang dengan pemain Olga Syahputra, Raffi Ahmad, dan Denny Cagur ini, meraih rating tinggi sejak episode awal. Melihat larisnya acara ini, wajar jika Vebi Surya Wibawa, yang saat ini dikenal dengan nama Vbi Djenggotten, sempat gamang meninggalkan acara ini.
Vbi memang bukan salah satu pemain Pesbukers. Tapi perannya sebagai Set Designer, menjadikannya sebagai ujung tombak kesuksesan acara tersebut. Karirnya di dunia TV yang mapan dan sudah menanjak, otomatis membuat Vbi kesulitan untuk menekuni komik yang sudah ia cintai, sejak membaca komik Lagak Jakarta oleh Benny-Mice ketika masih SMA.
‘’Rencana saya untuk resign sudah lama. Tapi, melihat rating Pesbukers sedang meroket, atasan saya mengiming-imingi gaji yang lebih tinggi dan diperbolehkan ngomik. Ini membuat saya gamang,’’ kisah pria yang berdomisili di Sawojajar II bersama keluarga kecilnya tersebut.
Namun, tekad Vbi bulat, saat salah satu dai kondang, Yusuf Mansyur, mendukungnya untuk fokus menekuni komik. Apalagi, komik yang ia garap adalah komik religi yang masih terbilang langka. Akhirnya, Maret 2012, pria yang berulang tahun setiap 25 Februari ini resmi banting setir. Dari seorang set designer menjadi komikus.
Menurut suami dari Mira Rahman ini, dengan berkomik, ia bisa menyampaikan uneg-uneg, ketidak setujuan, serta buah pikiran terhadap anomali yang terjadi di sekitarnya.
Dengan bahasa universal, yaitu gambar, tema yang kadang berat akan mudah ditangkap oleh pembaca. Misalnya komik ’33 Pesan Nabi’ yang sudah menjadi semacam branding bagi karya-karyanya.
‘’Komik ini menjadi jembatan bagi orang yang tidak terbiasa membaca kitab-kitab hadist yang tebal. Inspirasinya, saat masih pulang-pergi Malang-Jakarta dulu, banyak ketimpangan yang saya lihat. Dari sana saya menilai bahwa Indonesia masih sakit, dan hadist nabi menjadi obatnya,’’ jelas ayah Imandaru Shafa dan Dzikru Hanggalih ini.
Komik lain berisi kritik sosial, di antaranya ialah ‘Married with Brondong’ yang terinspirasi dari pandangan masyarakat yang kadang miring, tentang pernikahan dengan kondisi suami jauh lebih muda.
Komik ini, menurutnya, ialah karya paling berkesan. Pasalnya, ia membuatnya bersama sang istri, Mira Rahman. Ia sendiri menggambar karakter suami, sedangkan sang istri menggambar karakter istri.
‘’Uniknya, saat kami sedang ribut kecil, dampaknya juga terlihat di komik. Begitu juga saat kami sedang romantis, juga tampak di komik. Inspirasinya memang pernikahan kami yang kebetulan berbeda umur lumayan jauh,’’ tarang pria berjenggot ini.
Hingga saat ini, 14 komik karya Vbi sudah diterbitkan. Tujuh di antaranya ialah komik solo, satu komik duo dan sisanya kompilasi komik yang ia buat bersama teman-temannya. Komik pertamanya, Aku Berfacebook Maka Aku Ada, juga laris manis dan cetak ulang di dua penerbit yang berbeda.
Dari 14 komik tersebut, 33 Pesan Nabi jilid 2 meraih Komik terbaik Anugerah Pembaca Indonesia 2012 oleh Goodreads. Ia juga dinobatkan sebagai satu di antara lima komikus Indonesia untuk program Comiconnexion, dan pertukaran budaya antara komikus Indonesia-Jerman oleh Goethe Institute, 2012.
‘’Komik Islam Sehari-hari, 5 Pesan Damai, dan 33 Pesan Nabi jilid 1,2 dan 3 juga sudah dibeli dan diterjemahkan oleh penerbit Malaysia,’’ ujar pria 32 tahun ini seraya tersenyum kecil.
Meski sejauh ini berbagai prestasi dan apresiasi sudah diraih olehnya, tapi perjalanan ‘ngomik’ Vbi bukannya tanpa rintangan. Selain harus membiasakan diri untuk tidak menerima gaji rutin bulanan seperti saat bekerja di TV, ia juga harus berperang dengan pembajak.
Apalagi, pada 2013 lalu, saat penerbitnya mengalami masalah. Ketika itu, masih saja ia menemukan pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menerbitkan bukunya secara ilegal.
‘’Tapi semua berbayar lunas saat pembaca puas dan mendapatkan ‘sesuatu’ dari komik saya. Dari semua penghargaan, yang paling berkesan ialah saat seorang pembaca menulis surat apresiasi panjang lebar kepada saya melalui pos,’’ kenangnya. (laily salimah)