Gagal Jadi Petinju Banting Setir Jadi Pengusaha dan Promotor

Gagal meneruskan karier sebagai petinju profesional, tak menghalangi niatan Faisol, untuk terus berkecimpung di jagad olahraga adu bogem. Sukses menjadi seorang pengusaha mapan di ibukota, kini pria 46 tahun itu terobsesi membangkitkan kembali kejayaan tinju Bhumi Arema, dengan mengusung bendera FITMA.

SUASANA riuh mewarnai kawasan Bundaran Tugu, Sabtu (26/4) malam. Gegap gempita hiburan perkusi, diiringi penampilan sexy dancer, membuat penonton berjingkat kian bersemangat.
Di atas ring yang berdiri megah, sedikitnya lima partai bergengsi disuguhkan untuk menuntaskan dahaga insan tinju Malang, yang merindukan laga berkelas sepanjang tahun ini.
Tak tanggung-tanggung, empat petinju kaliber internasional. sengaja dijadikan magnet even bertajuk Malang FITMA Big Fight  (MFBF) 2014 tersebut.
Mulai dari mantan juara PABA, Daudi Bahari, pemegang sabuk juara dunia WBO Asia Pasific, Roy Muklis, jawara Thailand Yod Mongkol. Serta tak ketinggalan Hero Tito, sang ‘local hero’ berstatus juara nasional kelas ringan junior versi KTPI dan FTI.
Bicara soal kesuksesan acara semalam, tentu tak lepas dari peran Ketua Umum Forum Insan Tinju Malang (FITMA), Faisol, yang menjadi promotor gelaran MFBF 2014. Berkat campur tangan pria kelahiran 12 Oktober 1967 itulah, bisa terselenggara even bernuansa sportainment penyemarak Pesta Rakyat Seabad Kota Malang, yang sama sekali tidak mengandalkan dana APBD.
Kepada Malang Post, pria asal Dinoyo ini mengaku termotivasi memberi sumbangsih untuk tanah kelahirannya. ‘’Ini merupakan bentuk dedikasi dan loyalitas saya terhadap tanah kelahiran saya, Kota Malang. Setelah lama tinggal di perantauan, inilah saatnya saya menunjukkan bakti sebagai putra daerah. Saya sama sekali tidak cari jabatan apapun di sini. Kursi saya di rumah sudah banyak,’’ ujarnya lantas tersenyum.
Banyak yang mempertanyakan, alasan bapak tiga anak itu kembali bergulat dengan dunia tinju, yang sempat digelutinya lebih dari dua dekade silam. Apalagi Faisol, sudah hidup enak di Jakarta sebagai bos PT Turbo Arema, yang bergerak di bidang kontraktor perkapalan.
Buah ketekunannya sejak merantau ke ibukota medio tahun 1987, mengantarkan pria bertubuh gempal ini menjadi pengusaha sukses dan tokoh Arema Batavia.
‘’Memang banyak yang bertanya-tanya, kenapa saya mau kembali ke dunia tinju padahal sudah mapan di Jakarta. Semua ini murni untuk mencurahkan kecintaan saya kepada olahraga tinju yang menggebu,’’ bebernya.
Di era 80’an, Faisol dikenal sebagai salah satu petinju muda berbakat. Dia pernah bergabung dengan Sasana Arema, menimba ilmu bersama Monod dan Little Pono, yang kemudian dikenal sebagai petinju nasional. Faisol muda juga pernah berlatih di bawah gemblengan Masduqi, salah seorang pelatih kenamaan di zamannya, berbendera Sasana Kanjuruhan. Sasana Sawunggaling juga sempat menjadi pelabuhan karier Faisol sebelum akhirnya dia terpaksa gantung sarung tinju gara-gara kecelakaan.
Miris memang. Tapi Faisol enggan terlalu banyak membahas masa lalunya sendiri. Bayangan kejayaan petinju Kota Malang di era 80-an terus terlintas di benak Faisol. Kala itu, para jagoan Bumi Arema berhasil mengukir prestasi tak hanya di pentas nasional, namun hingga level internasional. Sebut saja nama petinju legendaris macam Nurhuda yang sempat merajai level Asia.
Sayang, bayangan tersebut hanya sebatas angan masa lalu yang belum sempat terulang di era milenium. Sebagai insan tinju asli Malang, batin pria berzodiak Libra itu pun tergugah untuk kembali ‘menghidupkan’ geliat tinju di tanah kelahirannya. Dia berhasrat membuat petinju Malang kembali disegani karena prestasi menterengnya.
Untuk mencapai sukses tersebut, Faisol menilai hal utama yang perlu dibenahi adalah soal pembinaan. Pengusaha yang kini hidup mapan di kawasan Priuk, Jakarta Utara itu optimis dengan pembinaan yang baik sejak level junior, para petinju Malang, akan sangat matang di usia dimana seharusnya mereka sudah berkiprah di level profesional. ‘’Untuk mencapai target tinggi, kita harus memulainya dengan start yang baik pula. Yaitu mulai dari pembinaan,’’ ujarnya tegas.
Namun lagi-lagi untuk pembinaan saja, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Bahkan jumlah anggaran yang diperlukan untuk menggelar even bergengsi saja, dinilai tidak ada apa-apanya dibanding dana yang harus dikeluarkan untuk melakukan pembinaan secara berjangka.
‘’Selama ini, sulit sekali untuk mendapat dana pembinaan dari anggaran pemerintah. Masa iya sepakbola yang dananya sangat besar bisa dikasih, sedangkan untuk tinju tidak ada,’’ seloroh pria yang dikenal sebagai Aremania sejati tersebut.
Menurutnya, impian untuk membangkitkan kembali kejayaan tinju Malang bisa terwujud jika ada sinergi yang baik antara insan tinju lokal dengan pemerintah daerah. Faisol bahkan menyebut, sosok Walikota Malang sebagai figur yang paling tepat untuk menjadi ‘Bapaknya’ FITMA.
‘’Untuk bisa tetap bertahan, kami jelas butuh kepedulian Pemkot Malang. Sinergi ini sangat penting untuk membangkitkan kembali tinju di Bhumi Arema yang pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah. Sudah waktunya Abah Anton melakukan apa yang dulu digiatkan Ebes Sugiyono,’’ tambah pria yang juga Ketua Umum FITMA ini.
Selain mengaku siap turun tangan untuk lobi-lobi di daerah tanpa mempedulikan jarak Jakarta-Malang yang tentunya tidak dekat, Faisol juga menyanggupi bantuan bila nanti ada petinju Malang yang ingin bertanding di ibukota.
Selama ini, tiap pertarungan petinju Bumi Arema  di Jakarta memang tak lepas dari campur tangan pria berusia 44 tahun tersebut. Misalkan saja petinju Jaguar BC, Victor Mausul yang sempat dimanajerinya beberapa waktu lalu.
Kini, Faisol pun bertekad segera mungkin melakukan lobi-lobi dengan tokoh masyarakat, politisi dan pejabat yang memungkinkan kerjasama untuk pencairan anggaran dana pembinaan tinju.
‘’Semuanya kembali lagi demi pembinaan. Pembinaan tersebut butuh dana. Dengan pembinaan dan dana yang terjamin, kita optimis bisa meningkatkan prestasi tinju Malang Raya. Dari sanalah nanti kita bisa kembali meraih kejayaan seperti sedia kala,’’ serunya bersemangat.
Untuk menjembatani gagasan besarnya tersebut, bersama sejumlah tokoh tinju lokal, Faisol membentuk wadah bernama FITMA pada tanggal 29 April 2012. Lahirnya FITMA sendiri berawal dari rasa keprihatian para insan tinju Malang akan terus meredupnya prestasi tinju lokal selama hampir dua dasawarsa terakhir.
Sejak kali terakhir Nurhuda dkk merajai pentas nasional bahkan hingga level Asia pada tahun 1986 silam, hingga kini belum juga muncul nama-nama yang sekiranya berpotensi mengulang kejayaan ‘angkatan emas’ tersebut.
Rasa tergugah itulah yang mengilhami Faisol dkk untuk menyelaraskan visi dan misi hingga akhirnya lahirlah FITMA. Berawal dari pertemuan para dedengkot tinju Malang Raya mulai dari mantan petinju, pelatih hingga pengurus organisasi dan pengelola sasana di Guest House Jalan Kawi, lalu tercetuslah gagasan untuk mewadahi tujuan yang dicita-citakan bersama.
Fokus FITMA adalah segala hal yang berkaitan dengan tujuan memajukan prestasi tinju di Malang. Mulai dari memperhatikan pola pembinaan atlet hingga pengadaan even rutin sebagai media penyaluran prestasi.
‘’Kami akan terus mengagendakan even tinju, tidak asal-asalan tapi berkualitas dan menghibur. Ini semua demi membangkitkan antuasiasme publik sehingga nantinya tinju Malang kembali ke era keemasan,’’ pungkasnya optimis. (tommy yuda pamungkas/red)