Ketika Wapres Budiono Kunjungi Mantan Guru SMP

Jarang sekali ada orang yang ingat dengan jasa gurunya. Apalagi ketika sudah sukses dan menjadi orang penting. Kebanyakan justru akan menghindar. Tak demikian dengan Wakil Presiden RI Boediono. Kemarin didampingi istrinya, Herawati Boediono, orang nomor dua di Indonesia ini mengunjungi rumah mantan guru SMP-nya, Suropati Priyanto di Desa Jatikerto Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang.

Sepanjang Jalan Raya Desa Jatikerto Kecamatan Kromengan, kemarin, dijaga ketat puluhan personil. Mulai polisi, TNI AD, Brimob, Polisi Militer (PM) hingga Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Penjaga ketat itu dilakukan sejak Sabtu (26/4) siang, setelah ada rencana kunjungan Wapres RI Boediono, ke rumah Suropati Priyanto, usai kunjungan di Blitar.
Pak Pri, sapaan akrab Suropati Priyanto, adalah mantan guru Bahasa Indonesia Boediono dan istrinya, di SMP Negeri 1 Blitar. Pak Pri, orang yang sangat berjasa dan dikagumi Wapres. Karena saat masih sekolah, Priyantolah yang selalu memberi semangat Boediono dan istrinya, supaya menjadi orang sukses.
‘’Saya menjadi guru di SMP Negeri 1 Blitar mulai tahun 1957. Saat itu Boediono sudah kelas II SMP. Meski tidak pernah mengajar di kelasnya, tetapi saya sangat dekat dengannya. Sedangkan istrinya (Herawati, red) yang merupakan adik kelas Boediono. Sampai lulus sekolah, Herawati saya yang mengajar,’’ terang Suropati Priyanto, kepada Malang Post seraya mengingat masa lalu saat mengajar.
Priyanto, pria kelahiran 20 Juni 1931 ini, mengajar cukup lama di SMP tersebut. Dia pensiun pada tahun 1986. Setelah pensiun dari guru, Priyanto dan keluarga, yang sebelumnya tinggal di Jalan Sumba Desa Karangtengah Kecamatan Sanan Wetan Blitar, pindah ke daerah Kepanjen pada 1987. Kemudian pada 1995, beli rumah di Jalan Raya Desa Jatikerto Kecamatan Kromengan, yang kemarin dikunjungi Wapres RI Boediono.
Kedatangan Boediono bersama dengan rombongan ini, sudah ditunggu-tunggu warga sekitar. Mereka rela berdiri di pinggir jalan untuk melihat secara langsung wajah Boediono dan istrinya. Meskipun orang yang ditunggu-tunggu, dijadwalkan baru tiba sekitar satu jam kemudian.
‘’Saya sangat salut dengan Pak Boediono. Beliau orang penting dan besar di Indonesia ini, tetapi masih ingat dengan guru SMP-nya. Jarang sekali ada orang seperti itu,’’ tutur seorang pria berkumis kepada warga lain dalam sebuah obrolan kecil.
‘’Betul saya juga heran dan kagum,’’ sahut pria lain yang diajak ngobrol, sembari menenteng sebuah kamera merek Canon, yang ingin mengabadikan gambar kedatangan Boediono.
Tepat pukul 15.20 dari jarak kejauhan, terlihat lampu kerlap-kerlip warna biru melaju kencang dengan iringan suara sirine. Mobil yang ditumpangi Pangdam V Brawijaya ini, berhenti sebentar di depan rumah Suropati Priyanto, untuk menyapa Dandim 0818 wilayah Kabupaten Malang dan Batu Letkol Inf A Solihin dan Kapolres Malang AKBP Adi Deriyan Jayamarta, yang berdiri pinggir jalan menyambut kedatangan Boediono. Tetapi tidak sampai lama mobil warna hijau itu melaju lagi.
Lima menit kemudian (pukul 15.25) iring-iringan rombongan Boediono dengan kawalan motor Patwal, terlihat dan berhenti persis di depan rumah Priyanto. Boediono dan istrinya berada satu mobil sedan warna hitam dengan nopol RI 2. Bersamaan dengan kedatangannya, hujan pun turun meskipun tidak lebat.
Boediono melambaikan tangan pada masyarakat yang melihat, setelah itu masuk rumah dan menemui Priyanto serta keluarga besarnya (empat anak Priyanto : Menis, Ndandik, Cicik dan Yanik) yang sudah menunggu lama. Tidak tahu apa yang dibicarakan Boediono dengan keluarga Priyanto di dalam rumah. Karena saat Malang Post mencoba masuk pada ring satu, terhalang Paspampres.
Sekitar 20 menit ngobrol (pukul 15.45) Boediono dan rombongan berpamitan pulang. Namun sebelumnya, dia sempat foto bersama dengan keluarga besar Priyanto di depan rumah.
Usai foto bareng, Boediono sempat menyapa dan menyalami warga termasuk Malang Post, yang berada di luar pagar samping rumah Priyanto. Tidak banyak kata yang diucapkan, selain menyapa : ‘’Selamat sore semuanya,’’ kata Boediono dengan tersenyum dan melambaikan tangan.
‘’Kalau Pak Boediono, baru sekali ini berkunjung ke rumah sini. Tetapi kalau ibu Herawati, sudah dua kali ini. Pertama sekitar tahun 2011 lalu. Namun kalau pertemuan dengan Pak Boediono dan istrinya, sudah tiga kali. Karena pada 2012, kami diundang beliaunya datang ke Blitar saat reuni di SMP Negeri 1 Blitar,’’ jelas Yanik, anak bungsu dari empat bersaudara, Priyanto.
Kunjungan Boediono dan istrinya Herawati ke kediaman Priyanto sebetulnya karena satu alasan. Keduanya ingin mengucapkan selamat kepada Yanik, yang baru menikah pada 13 April lalu. Boediono dan istrinya yang diundang hadir dalam resepsi pernikahan, saat itu tidak bisa datang.
Kebetulan Sabtu (26/4) lalu, keduanya ada agenda kunjungan di Blitar. Saat berada di Bandara Juanda, Herawati menghubungi Yanik mengatakan untuk mampir. ‘’Saya ditelpon oleh Ibu Herawati sekitar pukul 13.00. Tetapi saat itu kami sekeluarga sedang berada di Surabaya ada acara kumpul keluarga, pembubaran panitia acara manten,’’ papar Yanik.
Mendengar keluarga Priyanto tidak ada di rumah, Herawati dan Boediono sempat kecewa karena tidak bisa bertemu. Namun, setelah Priyanto kembali menelpon supaya ditunda hari Minggu, akhirnya langsung diagendakan kunjungan mendadak itu. ‘’Saya katakan kalau bisa ditunda hari Minggu, maka kami sekeluarga akan langsung pulang,’’ tutur Priyanto, kakek dua cucu ini.
Begitu ada kepastian kunjungan, Sabtu siang, rumah Priyanto langsung disterilkan dan dijaga ketat puluhan personil pengamanan sampai kedatangan Boediono.
‘’Saat datang, dia (Boediono, Red.) saya ajak canda dan ngobrol ringan. Saya bilang kepadanya sebelum Pak Boediono datang, sebetulnya Pak Boediono sudah ada di sini. Dianya langsung bingung, dan saya menunjuk fotonya saat bersalaman dengan saya. Saya juga katakan, kalau kangen dengan Pak Boediono, melihat foto dan TV,’’ terangnya.
Boediono juga terkagum dengan beberapa lukisan buatan Priyanto. Salah satu karya yang diapresiasi dan dikagumi adalah karya lukisan ukuran besar yang terpasang pada dinding. Lukisan itu tidak menggunakan cat air, melainkan dari kain perca yang ditempelkan pada kain kanvas.
‘’Karya lukisan itu saya selesaikan selama tiga bulan,’’ katanya sembari mengatakan bahwa bebarapa lukisan karyanya sudah ada yang dibawa Herawati.
Kakek dua cucu ini menuturkan, dirinya merasa sangat senang dengan kunjungan Wapres RI Boediono. Karena dia merasa telah menjadi seorang guru yang berhasil mendidik anak-anaknya.
‘’Mereka ingat dengan saya, karena saya sering ngomel kepada mereka. Saya katakan kalau nanti jadi orang besar, pasti akan lupa dengan saya. Naik motor saja, mungkin tidak akan menyapa. Tetapi mereka tidak, justru omelan saya dijadikan cambuk semangatnya,’’ paparnya. (agung priyo)