Kiprah Sunday School Photography untuk Seabad Kota Malang

Kawasan Kota Malang yang penuh dengan sejarah, keindahan dan budaya, menggugah ratusan fotografer untuk berkreasi serta menuangkannya dalam seni fotografi. Termasuk mereka yang tergabung dalam komunitas Sunday School Photography. Bahkan mereka sudah menyiapkan karya khusus, yang dipersembahkan untuk satu abad Kota Malang.  

Sunday School Photography, memang tidak sekadar kumpulan orang-orang yang suka memotret. Komunitas ini, juga menjadi sebuah program sekolah gratis dan belajar memotret, yang digagas para jurnalis foto se Malang Raya.
Jadi tidak sekadar ada proses belajar dan mengajar memotret, tapi mereka juga peduli dengan kotanya. Gambaran kepedulian yang ditunjukkan, adalah dengan mempersembahkan hasil karya mereka, yang disebut sebagai tugas akhir, setelah ‘sekolah’ tiga bulan, untuk ulang tahun ke 100 Kota Malang.
Tidak tanggun-tanggung, ada 39 karya foto dari 23 fotografer, yang semuanya siswa Sunday School Photography, ditampilkan. Hasil jepretan mereka, dipamerkan dalam pameran foto, bertajuk Malang Heritage Sunday School Photography Book 4. Berlangsung di Aula Perpustakaan Kota Malang, pada 27-30 April.
Dalam pameran yang didukung Malang Post ini, mereka coba mengupas sisi kehidupan budaya, warisan arsitektur dan kriik sosial, yang disajikan secara jujur.
‘’Karya yang ditampilkan di Malang Heritage itu, sebagai bentuk kecintaan terhadap Kota Malang, yang telah melahirkan dan membesarkan sebagian besar si pemilik karya. Mereka memang Arek-arek Ngalam,’’ sebut Aribowo Sucipto, Ketua Panitia pameran.
Wajar memang. Jika mengacu pada tema yang diusung. Seperti ikonik dan kritik sosial. Seperti misalnya karya foto berjudul, ‘‘sawahku wis ilang bro’’. Karya ini, jujur dalam perpektif fotografi dan membebaskan konsep warna.
‘’Namun disini, peserta pameran lebih suka konsep hitam putih. Pameran ini merupakan tugas akhir para siswa Sunday School Photography, setelah melalui proses pembelajaran dasar-dasar fotografi selama tiga bulan. Karya yang disajikan belum mampu merangkum semua gambaran dari Kota Malang,” terangnya. .
Selain pameran foto hasil para siswa, Sunday School Photography juga menampilkan kurang lebih 20 karya foto dengan konsep Kamera Lubang Jarum (KLJ).
Fotografer yang ikut ambil bagian dalam konsep ini, memotret obyek dengan menggunakan kamera lubang jarum. Antara lain, mengabadikan situs sejarah seperti candi peninggalan Kerajaan Singosari dan bangunan kuno peninggalan Belanda. Hasil visualnya menjadi lebih bermakna dan unik.
‘’Kami juga menggelar beberapa kegiatan pada Malang Heritage ini. Seperti workshop, hunting gratis di jalanan, stand komunitas, bedah buku gratis dan presentase. Kami ingin menjadikan kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi para fotografer secara pribadi dan komunitas se Malang Raya,’’ aku Muhammad Firman, Humas Malang Heritage ini didampingi Rizal Fanany, yang juga tercatat ujung tombak fotografer Malang Post.
Kemarin, atau tiga hari pelaksanaan Malang Heritage, komunitas ini menggelar hunting gratis di jalanan. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 fotografer profesional dari berbagai komunitas fotografer yang ada di Malang Raya.
Panitia menyiapkan delapan model cantik sebagai obyek. Mereka adalah Regina Audrey, Elbella Jeane, Kartika Poerwando, Cindy Ariesta, Ramadhani Ayu, Meliza, Regina Octav dan Belleza. Dengan spot di sekitar jalan Ijen, seperti di sekitaran depan Museum Brawijaya.
‘’Hunting bareng gratis ini, sekaligus sebagai ajang silahturahmi. Namun, dari tujuan awal pameran ini, setidaknya mampu mewakili keingintahuan para penikmat foto, tentang sebuah konsep visual dari kota Malang. Kami berharap, apa yang disajikan dalam kegiatan, terutama pameran ini bisa menjadi lecutan bagi kami dan para penggemar fotografi untuk lebih berani berkarya,‘‘ ucap Ketua Pelaksana Hunting Alfiansyah Latief didampingi koordinator model, Taufik Sholeh. (poy heri pristianto)