Home Industri Plastik Sawojajar Beromzet Ratusan Juta

Dentuman suara mesin yang dioperasikan secara manual, mulai terdengar, begitu memasuki lokasi home industry Rangros Plastik yang berada di kawasan Simpang Ranugrati, Sawojajar. Di sana, terdapat sebuah produksi rumahan yang menghasilkan beraneka perabotan plastik dengan omzet ratusan juta rupiah.

Rangros Plastik ini, berdiri sejak 14 tahun lalu. Seorang mantan Kepala Produksi perusahaan asing, yang berkembang di Jakarta, merupakan pemiliknya.
Pria tersebut bernama Eddy Siswanto. ‘’Saya sudah memulai usaha ini sejak tahun 2000. Setelah saya mundur dari perusahaan asal Korea di Jakarta,’’ ujarnya, mengawali cerita.
Menurut dia, sebuah keputusan besar waktu itu, ketika dia harus kembali ke Kota Malang dan memulai sebuah usaha. Awalnya, Eddy yang dibantu oleh beberapa keluarga, memproduksi alat-alat listrik seperti saklar.
‘’Kurang lebih dua tahun, memproduksi alat-alat listrik plastik itu. Produksi ini, belajar dari orang tua yang memang telah memiliki home industri sejak saya kecil,’’ beber dia kepada Malang Post.
Memperhatikan perkembangan dan permintaan pasar. Itulah salah satu kunci dari usahanya bisa bertahan cukup lama, dan bersaing dengan perusahaan besar dari luar kota, seperti Surabaya, yang telah menggunakan mesin.
‘’Bisa dilihat, semua mesinnya masih manual. Pekerja Rangros ini harus mengeluarkan keringat, agar terbentuk cetakan,’’ papar bapak dua anak ini.
Ya, terlihat memang. Sekitar 25 karyawan harus mengeluarkan tenaga dan ototnya ketika mengoperasikan jungkit dari mesin manual tersebut. Bahkan, pekerja di bagian produksi ini, harus menumpangi jungkit, untuk menambah kekuatan ketika membentuk barang yang diproduksi.
Kini bukan lagi alat listrik yang dihasilkan, melainkan perabotan plastik rumah tangga. Misalnya gagang pel, cetakan kue, hingga mainan anak-anak. ‘’Mainan anak-anak ini yang paling dominan. Cetakannya juga bermacam-macam. Ada ratusan,’’ tegas Eddy.

Dia mencontohkan, seperti mainan berbentuk pedang, kuda, vespa, pesawat, kereta api hingga orang-orangan mini. Biasanya, untuk produksi ini, merupakan permintaan industri yang memproduksi permen. Mainan tersebut dijual bersama permen atau kue untuk anak-anak.
‘’Bisa ditemukan di SD yang berada di Malang Raya ini. Sebagian produksi dari saya,’’ tambahnya.
Pria ramah ini menyebutkan, jika awal dari usahanya, hanya memiliki enam karyawan. Namun kini, jumlahnya sudah naik 10 kali lipat, bahkan lebih.
Ternyata, pekerja di Rangros ini telah mencapai 75 orang. Terbagi dalam dua pekerjaan utama. Yakni produksi dan pekerjanya merupakan kaum Adam, sementara untuk penyuntingan pasca produksi untuk kaum Hawa.
‘’Yang perempuan merapikan hasil adonan atau cetakan tadi. Terkadang kan perlu dipotong, ada kelebihan plastiknya, lalu perempuan juga yang mempacking barangnya,’’ ujarnya.
Dia menuturkan, memang berat untuk membesarkan usaha ini. Banyak tantangan, seperti isu menggunakan bahan daur ulang hingga pewarna yang berbahaya.
Tetapi Eddy berani memastikan, bahannya aman, dan bukan dari plastik daur ulang. Bila dihitung, keuntungan usahanya kini menembus dua digit dalam hitungan jutaan rupiah.
Keuntungan itu berubah-ubah. Dari omzetnya sebulan sekitar Rp 400 juta hingga Rp 500 juta rupiah. Keuntungan yang diraih, sekitar 10 persen dari omzet. Ini di tahun 2014 yang semakin banyak permintaan.
‘’Pokoknya cukup untuk mencicil mobil dan keperluan pendidikan anak. Selain itu, istri pasti sudah menyimpan dana untuk hari esok,’’ urai pria yang mengakui memberi nama usahanya dari kedua anaknya, Rangga dan Rosi ini.
Menurut pengakuannya, usahanya semakin dikenal sekitar lima tahun terakhir. Tidak hanya di Malang Raya atau Jawa Timur. Tetapi sampai keluar pulau seperti Sumatra. Bahkan, permintaan terbesar berasal dari ujung Pulau Sumatra.
‘’Medan merupakan wilayah terbesar yang meminta produksi Rangros. Untuk wilayah lain seperti Lampung dan Palembang,’’ ujar pria berusia 52 tahun ini.

Sementara, Jakarta juga berkontribusi menjadi kota yang terhitung besar permintaan produksi tersebut. ‘’Jakarta ini untuk mainan anak-anak, bahkan tiap hari pasti harus mengirim kesana. Sore, kalau kesini dipastikan ketemu ekspedisi yang mengambil barang di sini,’’ tandas Eddy.
Untuk wilayah Medan dan Lampung, diakuinya pengiriman berlangsung seminggu sekali tetapi jumlahnya langsung besar. Sekitar lima ton. Untuk kategori barang plastik yang ringan, jumlah itu sangat besar.
Kemudian, Eddy menunjukkan proses produksi dari bahan bakunya yang terdiri dari tiga grade. Yakni pipih, HD dan PS. Bahan baku yang masih berupa butiran dipanaskan dalam mesin bersuhu tinggi. Setelah mencair, bahan baku tadi bermuara pada cetakan. ‘’Jadilah sesuai dengan cetakan, setelah proses pressing,’’ ujarnya, sembari menunjukkan hasil cetakan.
Masih menurut Eddy, usaha yang diakui besar karena gethok tular dari pelanggannya ini, tahun depan memiliki target mesin otomatis yang jauh lebih baik dari saat ini. Sehingga, kapasitas produksinya lebih besar. Selain itu, ada tempat usaha baru yang sudah disiapkan.
‘’Agar semakin banyak karyawan dan mengurangi angka pengangguran. Banyak karyawan dari sekitar Sawojajar ini. Ada kesenangan dan kebanggaan tersendiri, ketika membuat lapangan kerja bagi mereka,’’ paparnya, dan tampak wajahnya berkaca-kaca.
Sebelum mengakhiri ceritanya, suami dari Eni Sukarmi ini juga menyampaikan, satu kunci sukses yang dia pegang. Selain inovatif dan tidak mudah putus asa, Eddy mengakui tidak meninggalkan doa. ‘’Dari doa, kita mendapatkan kekuatan, dan usaha itu semakin diridhoi Allah,’’ pungkas pria yang merupakan penggemar berat Arema ini. (Stenley Rehardson)