Peternak Semut Jepang yang Membagi Gratis untuk Obat

Nama semut Jepang, memang belum tenar. Tapi siapa menyangka, seranga ini mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Apalagi, perawatannya sangat gampang. Bahkan Lusiana Fransisca Suharsih, membudidayakan dan membagikan secara gratis, untuk warga yang butuh pengobatan.

Ribuan ekor semua itu, terlihat berlihat bergerombol di bawah kapas putih, dalam toples transparan. Diantaranya, juga diletakkan di wadah plastik. Juga transparan.
Terlihat seperti mati. Tenang, nyaris tidak bergerak. Tetapi ketika ragi tape ditaburkan atau diletakkan di toples, yang berisi ratusan semut itu, kontan serangan yang mirip anak kecoak itu, beraksi. Mereka dengan buas, menghabiskan ragi tape tersebut.
Meski begitu, ketika tangan Lusiana Fransisca Suharsih, masuk dan memegang semut Jepang itu, binatang kecil yang memiliki dua bulu di bagian kepala, seperti menurut. Semut-semut itu tampak jinak.
Siapa menyangka, jika semut-semut itu, adalah obat herbal, yang bisa langsung dikonsumsi. Bahkan penyakit yang bisa disembuhkan, cukup beragam. Mulai diabetes, menurunkan demam, menormalkan asam urat, menormalkan kolesterol, menstabilkan tekanan darah bagi penderita hypertensi, mengobati penyakit jantung dan menambah vitalitas bagi pria.
‘’Dua tahun lalu, saya dikasih teman. Sekitar 50 ekor. Katanya, Semut Jepang ini bisa mengobati penyakit diabetes. Kebetulan saya juga mengidap diabetes,’’ kata ibu enam anak ini.
Benar juga, setelah mengkonsumsi 25 ekor semut Jepang, atau yang dinegara asalnya disebut Ari atau bahasa lainnya Semut Kesetiaannya, gula darah nenek 10 cucu itu langsung turun.
Kepercayaannya terhadap serangga itu, kian besar. Bahkan dari 25 semut yang tersisa, tidak dikonsumsi. Tapi dirawat di rumahnya yang berada di Jalan Mawar, Lowokwaru Kota Malang.
‘’Perawatannya sangat mudah. Hanya dimasukkan toples dan diberi kapas. Untuk makannya cukup dengan ragi tape,’’ kata wanita yang menjabat sebagai bendahara PKK RW 14 Kelurahan Samaan, Lowokwaru ini.
Kemudahan dalam merawat itu, membuat jumlah semut Jepang, berkembang pesat. Tapi saat itu, hanya dia dan keluarganya saja yang mengkonsumsi semut, yang memiliki sekitar 10 spesies ini.
Batu satu tahun berselang, setelah jumlah Semut Jepangnya berkembang pesat, Franciska mulai mensosialisasikan kepada warga sekitar. Diberbagai pertemuan PKK, Fransisca banyak menjelaskan khasiat semut bertubuh keras dengan warna cokelat tua kehitaman ini.
Warga pun mulai tergoda. Satu persatu yang memiliki penyakit, meminta semut itu, untuk dijadikan obat. Fransisca, memberikan secara gratis. ‘’Ya dibagikan saja. Kalau ada warga yang ingin membudidayakan, atau ingin mengkonsumsi saya beri gratis. Saya tidak ingin menjualnya. Dari dulu sampai sekarang,’’ katanya.
Padahal jika dia mau, banyak yang datang yang ingin membeli. Satu ekor, bisa dihargai Rp 5.000 – 10.000. Namun secara halus, alumni Sekolah Rakyat (SR) Kebonsari Sukun ini menolak.
‘’Kalau jualan, wah sudah dari lama saya ini kaya. Tapi saya tidak mau. Lebih baik memberikan secara gratis. Hati saya lebih nyaman,’’ ungkapnya dengan mimik serius.
Fransisca sendiri mengaku, hingga saat ini masih tetap mengkonsumsi Semut Jepang. Bahkan, saat cucunya sakit, demam tinggi, dia memilih untuk mengobatinya dengan semut itu.
Caranya, Fransisca mengambil tiga ekor semut, kemudian dimasukkan buah pisang dan diberikan kepada sang cucu. 30 menit kemudian, suhu tubuh cucunya menurun drastis.
Umumnya, Fransisca mengatakan, untuk penyembuhan diabetes, dia mengkonsumsi 3 kali sehari 3 ekor. Namun untuk pencegahan, dia mengkonsumsi 3 ekor semut setiap satu minggu sekali.
Sementara saat ini, Fransisca mengatakan sedikitnya sudah ada 15 warga RW14 Kelurahaan Samaan ini membudidayakan Semut Jepang. Bahkan karena dinilai sangat positif, budidaya serangga ini juga diikutkan dalam lomba Kampung Bersinar.
Selain Semut Jepang, Fransisca juga mengelolah kebun toga. Dia memanfaatkan halaman sempit dibagian belakang rumahnya untuk menanam berbagai jenis tumbuhan toga.
Bukan tanpa alasan, menurut wanita yang lahir 13 Maret 1949 ini, tanaman toga lebih bermanfaat, dibandingkan dengan pengobatan medis. Tidak ada efek samping yang ditimbulkan dari obat-obatan herbal.
‘’Bukan saya tidak percaya medis. Ayah saya dulu dokter dinas di RS Lavalette. Tapi saya lebih mengutamakan pengobatan herbal. Lebih berkhasiat, dan tanpa efek samping,’’ tandas wanita yang saat ditemui Malang Post, menggunakan kaos warna hijau dan rok bahan batik. (ira ravika)