Tanaman Air Budidaya Warga Kecamatan Karangploso

SEMUA  usaha kalau digeluti dengan serius pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan. Tak terkecuali bisnis tanaman air. Meski kelihatannya sepele, tetapi bisnis ini cukup menguntungkan. Apalagi sudah merambah ke beberapa negara. Bahkan akhir bulan Mei ini, tanaman air milik warga Kabupaten Malang ini  akan  mengikuti pameran di Jerman mewakili Indonesia.

“Tanggal 25 Mei nanti saya akan terbang ke Jerman, untuk mengikuti pameran internasional tanaman air di Jerman. Saya berangkat atas nama Indonesia,  diundang mewakili Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pameran berlangsung mulai 29 Mei sampai 1 Juni,” ungkap Matali, pemilik budidaya tanaman air mengawali pembicaraan dengan Malang Post.
Tidak mudah untuk bertemu dengan pria kelahiran 1942 ini. Karena terlebih dahulu harus mengadakan janjian. Setelah hari dan waktu ditentukan, barulah bisa menemuinya. Jumat (9/5) lalu pukul 09.00 adalah waktu ditentukan untuk bertemu dengan Matali. Malang Post janjian bertemu di pinggir jalan raya.
Setelah beberapa menit menunggu, datang mobil warna silver berplat L dikemudikan seorang pria muda berkulit putih. Dia adalah Joyo Susilo, anak kedua Matali. Setelah berkenalan, Malang Post lalu diajak ke rumahnya untuk bertemu dengan ayahnya. Rumahnya berada di tengah perkampungan di Dusun Babaan Desa Ngenep Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang.
Di halaman depan rumah terlihat banyak berbagai jenis tanaman air berada di beberapa pot. “Itu tanaman air yang dikembangbiakkan dan masih belum dipilah,” tutur Joyo Susilo.
Tak lama kemudian keluar laki-laki tua dengan memakai kemeja merah kotak-kotak kecil menyapa, sembari mempersilahkan masuk. Dia adalah Matali. Di dalam rumah terdapat beberapa akuarium besar yang isinya penuh dengan tanaman air. Seorang pemuda sesekali mengamati akuarium dan memberikan beberapa tetes cairan dalam botol. Pemuda itu adalah Hadi Susilo kakak kandung Joyo.“Yang merawat dan mengelolah tanaman air ini, saya dibantu ketiga anak saya. Hadi Susilo, Joyo Susilo dan Yeni Lestari,” ujar Matali.
Sebelum bisnis budidadya tanaman air miliknya terkenal hingga luar negeri, semula adalah hanya sekedar hobi. Matali mengaku suka tanaman sejak setengah abad lalu, atau saat masih SMP. Tanaman air miliknya semula hanya ada 10 macam. Itu didapat dari membeli dan pemberian koleganya.
Namun karena hobi, tanaman air itu berkembang biak. Kemudian dari hobi  karena banyak yang minat, dikembangkan menjadi mata pencaharian sejak tahun 1980-an. Sekarang sudah ada 500 macam tanam hasil kawin silang antara tanaman satu dengan lainnya.
Diantaranya adalah jenis Echinodorus yang berasal dari Amerika Latin daerah Amazone. Anubias asal Afrika. Dan dari Indonesia adalah jenis talas-talasan (Araceae), Cryptocorine, Bucephalandra, Pakis dan Moss. “Nama-nama tanamannya juga beragam. Ada yang bernama Gareng, Semar, Petruk dan Arjuna. Bahkan ada nama Singhasari, yang merupakan pemberian nama dari Bupati Malang Rendra Kresna,” tuturnya.
Sebelum terkenal, pemasarannya hanya warga lokal dan di beberapa kota saja. Budidayanya juga di rumah dan dilakukan sendiri. Namun begitu sudah mulai berkembang bagus sejak dua tahun lalu, budidaya tanaman air sudah menggunakan lahan sekitar 7 hektar. Pekerja yang membantunya juga ada sekitar 20 orang dengan memanfaatkan warga sekitar.
“Dulu pemasarannya hanya lokal. Tetapi sejak dua tahun lalu, saya  sudah berhasil ekspor ke manca  negara. Diantaranya seperti Jepang, Belanda, Denmark, Austria, Korea Selatan, Thailand serta Singapura,” katanya.
Untuk mempromosikan hingga diminati warga luar negeri, bukan suatu pekerjaan mudah. Lima tahun lalu (2009), Matali ikut dengan rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan ke Aquarama Singapura untuk ikut pameran international. “Waktu itu saya hanya membawa tiga batang, tidak ikut pameran hanya melihat saja. Tetapi tanaman air yang saya bawa itu, diminati banyak orang luar. Salah satunya dari Thailand, yang kemudian datang ke rumah saya untuk melihat dan membeli,” jelasnya.
Dari situlah akhirnya tanaman air Matali, mulai sedikit terkenal. Kemudian supaya bisa dikenal lebih banyak negara lain, pada 2012 Matali mengikuti pameran sendiri di Jerman. Karena saat itu Pemerintah Indonesia tidak ikut membuka stand. Ternyata tanaman air semakin diminati dan dipesan oleh banyak negara. Tahun 2014, Matali kembali dipercaya Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk ikut pameran lagi di Jerman mewakili Indonesia.
Perawatan tanaman air, menurut Matali tidak susah. Karena kalau sudah tahu sifat tanaman, tidak akan sulit. Sebab setiap tanaman membutuhkan perlakukan yang tidak sama. Ada yang butuh sinar matahari lebih, ada juga yang perlu teduh. “Pasalnya tanaman air ini, ketika musim kemarau muncul dipermukaan air, tetapi ketika hujan berada di dalam air,” paparnya.
Harga penjualan tanaman beragam. Setiap batangnya dijual mulai harga Rp 50  sampai Rp 700 ribu per-batang. Omset penjualan yang didapat setiap bulannya sekitar Rp 30 juta. “Tetapi kalau saat waktunya ekspor, sebulan bisa mencapai Rp 80 juta,” sambungnya.(agung priyo)