Koleksi Tertua Koran Tahun 1884, Dirawat Seperti Bayi

JUAL BELI buku, majalah dan  koran tempo dulu takkan pernah mati. Bahkan belakangan jadi gaya hidup baru di Kota Malang. Pemburunya berjibaku dengan berbagai cara untuk mengoleksi buku-buku terbitan masa kolonial Belanda. Pembelinya datang dari berbagai kalangan tak peduli berapa harga jualnya.

Syarif Umar bergumul dengan tumpukan buku, majalah dan koran bertuliskan ejaan lama di ruang tamu rumahnya di Jalan Pajajaran, kemarin malam. 5.000 buku, majalah dan koran dari jaman Belanda dirawatnya seperti merawat bayi. Ya semuanya itu adalah aset besar bagi Syarif yang mencintai buku jaman lawas.
Ia tak sekadar mengoleksi dengan cara membeli. Tapi Syarif pun ikut hunting sekaligus jual beli. Alhasil, aktifitas mengoleksi buku lawas  sejak tahun 2004 itu membuat Syarif telah mengoleksi buku, majalah dan koran terbitan dari berbagai era. Paling tua terbitan tahun 1884 dan termuda sekitar tahun  1970-an.
Punya koleksi yang lengkap, Syarif jadi langganan pencari buku tua. Apalagi ia juga jual beli buku tua dengan cara online sehingga mudah diakses. Tak hanya dari Malang dan sekitarnya, dari berbagai daerah datang kepadanya. Mereka berlatarbelakang yang beragam.
Astuti Ananta Toer, putri sastrawan terkemuka, Pramoedya Ananta Toer merupakan salah seorang yang membeli buku koleksi Syarif. Saat itu, ia melepas buku yang dicari Astuti karena tak masuk kategori yang sangat dipertahankan. ”Buku yang dibeli karangan Pramoedya,” ucapnya.  
Pria 39 tahun ini mendapatkan  semua koleksinya dengan cara yang tak mudah. Selain pernah berburu ke Madiun, Jakarta dan berbagai kota lainnya, ia rela datang ke rumah warga hanya untuk check apakah menyimpan buku lawas atau tidak. Demi buku tua, ia pernah diteror bahkan nyaris berkelahi.
“Ceritanya saya dapat info ada buku tua di Jagalan. Saya datang ke pemiliknya, tapi diberitahu kalau sudah dijual. Saya lalu menitipkan kartu nama,” kenang Syarif. Keesokan harinya, lanjut dia, langsung dapat telepon. “Saya diancam melalui telepon. Katanya itu sudah masuk wilayahnya si penelepon,” sambungnya sembari tertawa.
Setia dengan hobinya, Syarif kini mengoleksi sejumlah buku, majalah dan koran langka.
Kini ia memiliki koleksi koran Tjahaja India yang merupakan salah satu koran tertua di Indonesia. Koran tersebut terbit di Semarang dalam bahasa Indonesia. Koleksinya diantaranya edisi Kemis, 10 April 1884.
Bahkan koran Malang Post  yang terbit di Malang pada tahun 1950-an juga dimiliki olehnya. Semuanya masih tersimpan rapi dan bisa dibaca dengan jelas.
Mengoleksi buku lawas yang kini jadi barang mahal tentu tak mudah. Semua buku dikemas ulang dalam bungkusan plastik. Saat membukanya pun harus ekstra pelan-pelan karena rawan terkelupas dari jilidannya.
Sudah begitu, disimpan di rak yang terbuat dari kayu jati yang tak akrab dengan rayap. Sebab rayap atau pun kutu kertas merupakan musuh paling berbahaya. “Kalau kena kutu, pasti lubangnya tembus sampai belakang buku,” kata dia. Selain itu harus rutin diperiksa penuh esktra hati-hati.
Punya banyak koleksi, namun Syarif tak menjual semuanya. Apalagi koran dan majalah serta buku yang memang tahun terbitnya sekitar tahun 1800-an atau ceritanya pernah terkenang di ingatan masyarakat.
Salah satu contohnnya buku berjudul, ’98 hari dalam kungkungan kempetai’ atau buku ‘Bara dan Api’. Buku ini karya cambuk berduri, nama samaran  seorang penulis Tionghoa di Malang. Buku tersebut berisi  tentang warga Tionghoa di Malang yang ditangkap penjajah.  
Semua buku yang dikoleksi itu dicetak dengan kertas lito. Kertas yang populer di tahun 1800-an dan   berserat.
Lantas berapa harga buku lawas milik Syarif yang dijual? Harganya mulai berkisar antnara Rp 5 juta sampai Rp 25 ribu per buku. Buku yang paling mahal tentang Indonesia di era 1800-an hingga tahun 1900-an.  
M Abdurahman, penjual dan kolektor lainnya juga punya koleksi yang tak kalah lawas. Diantaranya kepustakaan radja purwa. Buku ini terbit tahun 1907  menggunakan tulisan Jawa.
Pemilik toko buku di Velodrome ini punya koleksi mahal. Salah satunya majalah Liberty terbit bulan April 1939, ‘Malang Nummer’ atau edisi khusus tentang Malang. Majalah tersebut berisi liputan tentang Malang mulai dari jaman Batu.
Saking ekslusifnya koleksi tersebut, Cak Mad tak menjualnya. Bahkan ia sudah berkali-kali didatangi kolektor  yang berminat. “Ada yang akhirnya minta fotokopi dan scan. Tapi saya tidak mau. Khawatir rusak, juga khawatir dijiplak soalnya majalah ini terbatas,” kata dia.
Syarif dan Cak Mad mengungkapkan, warga Malang belakang ini memang mulai gandrung koleksi buku lawas. Saban hari mereka dihubungi calon pembeli. Tapi mereka tak serta merta menjualnya.
“Umumnya ingin nostalgia dengan masa lalu. Buku, majalah dan koran merupakan salah satu cara untuk bernostalgia,” kata Syarif dan Cak Mad.(Vandri Battu)