Aisyah Dikenal Pintar Matematika, Ilma Sering Berkata Don’t Forget Me

Afinah Fika dan Nada Nailun (diapit pengurus), berduka dengan kepergian rekan-rekannya, kemarin.

Siswi MTs 01 Al Maarif Singosari, Korban Parangtritis di Mata Orang Terdekatnya
Musibah yang menimpa MTs 01 Al Maarif Jalan Masjid 33 Singosari tak hanya menjadi kabut duka bagi keluarga korban. Bagi para siswa dan guru, kehilangan tiga siswa, membawa duka mendalam. Para korban yakni, Aisyah, Lailatul Maghfiroh dan Ilma Nur Afrida masih terkenang dalam ingatan teman-temannya.

Beberapa warga tampak berlalu-lalang di Jl. Tumapel, Gg 6, Singosari. Tidak jarang dari mereka berjalan sambil menahan tangis. Sebagian lain melangkah dengan pasang wajah linglung. Kepergian Aisyah, siswi MTs Al-Maarif yang meninggal terseret ombak Pantai Parangtritis, Jogjakarta, menjadi kabar duka bagi warga RW 06 tersebut. Mereka menunggu kepastian dari pihak sekolah tentang kepulangan jenazah Ica, sapaan akrabnya, dari rekreasi mautnya Selasa (13/5) lalu.
Dia dan 52 kawan sekolahnya berniat menghilangkan beban yang ditanggungnya setelah melalui Ujian Nasional (UN) minggu lalu. Tapi tak disangka, bukannya mendapat kabar baik kelulusan, keluarga Ica justru mendapat kabar tak mengenakkan.
Delapan orang murid MTs itu hanyut terbawa ombak saat sedang bermain di pantai kemarin (14/5) siang. Lima anak selamat, satu hilang dan dua meninggal dunia.
Bocah 15 tahun ini jelas membuat segenap keluarganya panik. Sanak saudara mereka yang juga tinggal di daerah itu langsung berdatangan. Mereka berkumpul di rumah Ica. Saat dimintai keterangan, Owi, Ayah Ica menutup diri dan memilih tidak memberi tahu kabar anaknya kepada Malang Post. Keluarga yang lain pun demikian, tak kunjung bersedia memberi keterangan.
Warga sekitar mengaku tidak tahu kabar pasti tentang kematian Ica. Mereka hanya mengetahui bila ada musibah yang menimpa keluarga Owi. Selebihnya, warga mengaku tahu-menahu. Salah satu tetangganya, Ali, memberikan keterangan kepada Malang Post tentang ketertutupan keluarga Owi. Dia mengatakan keluarga Owi memang seolah menutup diri dari warga sekitarnya. Ica pun demikian, bocah berjilbab ini Ali lihat hanya bergaul dengan saudara dan teman akrabnya.
Jenasah Ica akan tiba di kediaman Kamis (15/5) pukul 01.00 WIB dini hari. Hingga berita ini diturunkan, kesibukan sudah tampak di rumah duka. Kabar berhembus cepat, seorang sanak saudara meminta tolong kepada Yazid, wakil ketua RW 06 untuk mengabarkannya ke warga sekitar. “Saya di mintai tolong memberi tahu ketua RT dan warga setempat. Selain itu, beliau tak memberitahu apa-apa lagi kepada saya,” ujarnya kepada Malang Post kemarin malam.
Yazid pun masih dalam ketidaktahuannya. Kabar yang dia ketahui diakui bersumber dari warga lain yang berbincang dengannya. Memang saat itu situasi di Jalan Tumapel, khususnya wilayah RW 06, terlihat banyak orang berkumpul di beberapa tempat sambil berbincang-bincang. Diduga, mereka sedang membicarakan kabar duka keluarga Owi.
Situasi berbeda tampak di gedung sekolah Ica sekitar pukul 19.30 WIB. Beberapa guru sedang sibuk berlalu-lalang memasang wajah cemas khawatir. Pasalnya. Kepala sekolah MTs Al-Maarif sedang tidak berada di tempat. Salah satu guru perempuan yang tidak menyebutkan namanya berkata kepada Malang Post, “Kepala Sekolah sedang tidak disini. Dia lagi menyelesaikan masalah ini,”akunya.
Yang jelas, para korban menyisakan kenangan mendalam rekan-rekan korban sesama siswa kelas 9 MTs 01 Al Maarif-Singosari, yang tidak ikut rekreasi bersama ke Jogjakarta.
Afinah Fika siswa kelas 9a dan Nada Nailun, siswa kelas 9d, merupakan dua dari total 269 siswa-siswi kelas 9 yang ada di MTs 01 Al Maarif. Kedua siswi putri yang tinggal di Pondok Pesantren Aisyah-Singosari di Jalan Keramat itu, mengaku kalau sejak Jumat (9/5) lalu, siswa kelas 9 mulai libur sekolah dan akan kembali masuk pada 14 Juni.  
Selama masa liburan itu, di sekolahnya memang ada rekreasi ke Jogjakarta selama sehari dengan tujuan awal Candi Borobudur-Pantai Parangtritis-Malioboro lalu pulang ke Singosari. Ide itu muncul, dari siswa dengan biaya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu.
“Kami berdua tidak bisa ikut, karena pengurus pondok tidak memberikan izin. Sementara yang berangkat, memang harus mendapatkan izin orang tua atau pengasuh pondok. Makanya, kami bersyukur ternyata ada baiknya juga tidak ikut rekreasi bersama teman-teman. Apalagi, dengar musibah itu (dua siswa meninggal dan satu belum ditemukan,” kata Afinah saat ditemani Nada dan dua pengurus pondok.
Tentang musibah yang menimpa teman mereka, Afinah siswa asli Singosari dan Nada asli Bumianyu-Kota Malang itu mengatakan, baru diterimanya sekitar pukul 17.00. Itu pun, masih simpang siur apakah ada yang meninggal atau hanya terbawa ombak Pantai Parangtritis.
“Kami juga tahu kabar itu, tapi belum jelas siapa-siapa namanya. Karena saat berangkat, kebetulan pada malam hari,” imbuh kedua santri yang Nampak sedih itu.
Malang Post yang selanjutnya menerangkan mengenai nama-nama korban meninggal, terbawa arus dan masih dirawat di rumah sakit, Afinah pun lantas kaget. Dengan wajah seolah tidak percaya, siswi berkaca-mata itu menjelaskan, kalau Aisyah adalah teman satu kelasnya. Bahkan, korban yang domisili di Jalan Tumapel Gang 6 itu, merupakan teman karibnya sejak masih duduk di bangku TK.
“Masak Aisyah. Dia itu teman karib saya sejak TK,” ujarnya dengan nada tidak percaya.
Afinah pun kembali bercerita, sosok Aisyah adalah teman yang sangat baik bagi dirinya. Selain sifatnya yang suka baik terhadap orang, rekan satu kelasnya itu juga merupakan murid yang cekatan, giat dan pandai. Bahkan, kalau siswa biasanya alergi dengan pelajaran Matematika, justu Aisyah sangat suka.
“Anaknya memang pintar. Termasuk, pelajaran matematika-nya dia jago. Makanya, saya kalau pulang sekolah sering belajar ke dia,” tambahnya.
Lantas, bagaimana dengan teman-temannya yang lain ? Dua siswi MTs itu mengatakan, karena ruang kelas antar kelas 9 tidak terlampau jauh, rata-rata bisa mengenal satu persatu siswa. Seperti Lailatul (Lailatul Maghfiroh), anaknya juga baik di sekolah. Sementara Ilma (Ilma Nur Afrida), juga sama. Namun, khusus Ilma selama usai ujian dan siswa-siswi tetap masuk sekolah sering mengatakan kata-kata perpisahan.
“Dia itu sering bilang, don’t forget me. Ayo terakhir-terakhir. Kata-kata itu, biasa disampaikannya kepada teman-teman. Maksudnya, mungkin karena sebentar lagi lulus. Makanya, mengatakan don’t forget my dan terakhir-terakhir,” imbuh kedua siswa yang berjilbab ini seraya mengatakan kalau rekreasi itu juga terbuka untuk siswa. Namun, karena siswa banyak yang tidak mau, akhirnya hanya didominasi siswi.(Muhamad Erza Wamsyah/Sigit Rokhmad)