PNS Pemkab Malang Jadi Satu-Satunya Penguji Ahli K3

From zero to hero. Begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk mengilustrasikan kiprah Satgas Permukiman DPU PPB Kota Malang. Mereka yang awalnya bukan siapa-siapa, kini tak ubahnya sekumpulan 'local hero' yang selalu sigap menangani bencana, mulai banjir hingga longsor di kawasan padat penduduk. Bicara soal prestasi tersebut, peran Danar Rahadian tak bisa dinafikan.

JEMARI Danar begitu gemulai memainkan deretan tuts electone keyboard di hadapannya. Nada-nada yang tadinya mengalun dengan tempo rendah beranjak semakin nge-beat, seiring gerakan tubuhnya yang begitu menjiwai. Sesekali matanya terpejam, meresapi dalamnya irama yang ia mainkan. Sejurus kemudian, aksinya dibarengi lengkingan suara merdu biduanita remaja yang tak kalah mempesona.
Bayangan itu masih belum beranjak dari memori Malang Post, dalam kesempatan Jazz moment di salah satu cafe kenamaan pusat kota, belum lama ini. Menjadi salah satu band pembuka musisi kondang Mus Mudjiono, Danar memimpin kelompoknya menampilkan aksi panggung terbaik lewat harmonisasi nada memikat.
Namun, gemulai lentik jemari bapak tiga anak itu tak nampak lagi ketika sedang melakoni tugasnya sebagai pengawas ketenagakerjaan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang. Bukannya berdekatan dengan alat musik, pria berpenampilan funky ini justru berkutat dengan aksi yang lebih banyak memacu adrenalin.
Sebagai seorang pengawas ketenagakerjaan, tugas pria yang tumbuh besar di Jalan Malaka, Sukun ini tak jarang mengundang ketegangan. "Ya beginilah sehari-hari. Kadang menghadapi pekerjaan di ketinggian, kadang di dalam pabrik. Sewaktu-waktu ada kecelakaan kerja seperti kebocoran gas atau teknisi tersengat listrik tegangan tinggi mewajibkan saya meluncur secepat mungkin ke lokasi kejadian," tutur Danar sambil mengencangkan tali sepatu booth pelengkap komponen safety miliknya.
Pekerjaan alumni SMAN 8 Malang ini memang tak main. Dia dipercaya Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) sebagai satu diantara lima ahli yang berhak mensertifikasi pekerja Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3) dan ahli K3 di Indonesia. Di Malang Raya, hanya Danar yang mengantongi lisensi tersebut. Legalitas ini membuatnya berhak mensertifikasi spesialis pekerjaan di ketinggian, ruang terbatas, uji deteksi gas dan emergency response team (ERT).
Terakhir, lulusan SMPN 9 Malang ini memperoleh lisensi chemical safety langsung dari International Labour Organization (ILO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) alias United Nations pada 2011 lalu. "Alhamdulilah tahun 2010 lalu saya sudah mengantongi empat lisensi tersebut. Sampai sekarang sudah ada ratusan pekerja K3 dan ahli K3 yang saya latih," bebernya tanpa bermaksud sombong.
Padahal, pria yang identik dengan anting di daun telinganya itu tergolong baru mengenal hal-hal berbau safety. Danar mulai menggeluti dunia safety saat menempuh pendidikan pengawas ketenagakerjaan di Bogor pada tahun 2007. Dua tahun berselang, dia meningkatkan kemampuannya lewat sekolah spesialis K3 lingkungan kerja alias Health Safety Environment selama tiga bulan di kota yang sama. "Dari sana saya kemudian memperbanyak sekolah-sekolah spesialis lain. Termasuk spesialis ketinggian hingga ERT," sambungnya.
Sederhana dan apa adanya. Begitulah kesan yang muncul dari sosok penasehat Community ERT Indonesia ini. Berbekal segudang keahlian yang tak banyak dimiliki orang di Indonesia, pria yang menempuh bangku sekolah dasar di SDN Kasin 1 itu rela tetap tinggal di Malang untuk mengabdikan dirinya sebagai PNS Pemkab. Dia berani menampik banyak tawaran menggiurkan dari luar daerah, termasuk tawaran menggiurkan dari sejumlah perusahaan raksasa yang ingin menggunakan jasanya.
Tiap kali mendapat tawaran, Danar selalu teringat pesan sang kakek, KH Hudan Dardiri, yang dikenal publik sebagai mantan Bupati Jombang. "Mbahkung saya berpesan agar saya tetap di Malang dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Beliau berkata saya akan bertemu banyak orang yang nantinya saling terhubung, termasuk guru saya saat ini, Abi Abdul Haris," ujarnya merujuk pengasuh Pondok Beras 99 di kawasan Hamid Rusdi.
Berangkat dari keyakinan itu pulalah, insinyur lulusan teknik sipil ITN Malang itu kemudian ikut mengilhami terbentuknya Satgas Perkim DPU PPB Kota Malang. Bersama H Ade Herawanto, M Thoriq dan Yoseph Ananda 'El Kepet', mereka menjadi founding father satgas yang bermarkas di komplek perkantoran Jalan Bingkil tersebut.
Dari sinilah tantang dimulai. Yakni membentuk satgas yang harus siaga 24 jam, sigap dan punya skill serta dituntut mobilitas tinggi dengan personil sekumpulan orang yang saat itu dipandang remeh masyarakat. "Kami semua berusaha menjadikan mereka sebagai orang yang bermanfaat buat masyarakat. Sekarang alhamdulillah mereka bisa memberi bukti," kenang Danar.
Berbekal peralatan seadanya, pria yang usianya sudah kepala empat ini dengan telaten memberi pelatihan mulai dasar kepada 16 personil satgas.  Mulai dari mengajarkan teknik tali temali sampai baris berbaris. Sekarang, para personil satgas sudah piawai melakukan evakuasi sampai membuat dapur umum. Mereka bahkan mengedepankan kaidah safety tiap kali terjun ke lapangan. Tentu saja ini menjadi progress luar biasa, mengingat awalnya satgas di bawah naungan bidang perumahan dan tata ruang ini pernah membetulkan rumah warga yang terkena longsor hanya berbekal selendang sebagai pengganti tali.
Danar mengakui, semua itu butuh proses yang tak instan. "Membuat orang disiplin itu susah. Membentuk orang bondo nekat menjadi orang bijak itu tidak mudah. Dulu mereka bisa bangun dan tidur seenaknya, sekarang mendengar ada bencana langsung berangkat. Mereka rela on duty 24 jam dan selalu mementingkan faktor safety," paparnya lirih.
Meski sudah berperan besar terhadap perjalanan Satgas Perkim yang sudah hampir berumur dua tahun, Danar tak pernah mau jasanya diagung-agungkan. Bahkan sedari awal, dia menolak digaji khusus demi melatih para personil satgas yang kini dikepalai Tedy Soemarna itu. "Saya lebih nyaman memposisikan diri sebagai saudara dan teman seperjuangan, walaupun didapuk sebagai pembina dan founding father satgas. Bisa melatih mereka di sela kesibukan jam dinas itu sudah terasa nikmat," timpalnya.
Karena tak pernah berharap feedback padahal keahlian yang diajarkannya terbilang 'mahal', Danar pun mewanti-wanti para personil satgas untuk tidak mengharapkan imbalan apapun saat menolong warga, bahkan sebatang rokok pun. "Kalau sampai saya tahu ada yang narget, walaupun minta rokok, biar saya hajar langsung," serunya lantang lantas terkekeh.
Jiwa besar dan rendah hati inilah yang kemudian menggiring pecinta musik rock dan jazz ini semakin dekat dengan Sang Pencipta. Kini, Danar semakin aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial bersama Pondok Beras 99. Tiga putra putrinya juga diajak serta. Pengajian hingga bagi-bagi beras kepada kaum dhuafa menjadi kegiatan yang nyaris tak pernah dilewatkannya. Menurutnya, beragam wujud kepedulian kepada sesama membuat hatinya lebih tentram.
Sebagai pria normal dan sarat kesibukan, musik menjadi media relaksasi terbaik bagi Danar. Tiap malam, dia menyalurkan hobbynya itu dengan menerima job keliling di sejumlah cafe Kota Malang. Bagi Danar safety dan musik sama-sama berbuah manfaat. "Musisi menghibur orang, bukan sekadar menunjukkan skillnya. Begitu juga dengan safety sebagai wujud ikhtiar untuk mencegah kecelakaan," terangnya lugas.
Darah musik di tubuhnya mengalir dari garis keturunan sang papa, Sunardi. Meski berasal dari kalangan militer, ayahnya adalah seorang pecinta musik yang piawai memainkan gitar. Danar mengaku agak terlambat belajar musik, karena baru belajar bermain piano dan keyboard saat sudah duduk di bangku SD. Namun justru dari musik lah Danar muda sering menerima pemasukan untuk uang jajan. "Sekarang pun pekerjaan utama saya tetap main musik. PNS itu kan singkatan dari pegawai ngeband sejati," kelakarnya dengan tawa lepas. 
Seperti motto hidupnya, yakni menjadi bermanfaat bagi masyarakat, profesional trainer yang sering memberi materi di perusahaan-perusahaan asing ini juga tak pelit membagi ilmu bermusiknya kepada generasi muda. Di waktu luang, dia mengajari anak-anak muda di Pondok Beras 99 bermain musik. (tommy yuda pamungkas)