Dari Sales di Singapura, Kini Kelola 15 Restoran di Jawa-Bali

Lauw Andrianto Saputra (tengah) berbincang dengan dua karyawannya. Mahasiswa Ma Chung ini sukses mengelola puluhan cabang restoran miliknya di Malang dan Bali

Pengusaha Muda dari Universitas Ma Chung
MESKI masih berstatus mahasiswa, Lauw Andrianto Saputra, Mahasiswa Universitas Ma Chung sudah sukses mengelola puluhan restoran di Malang. Ia bahkan rela melepas status mahasiswa di Singapore Institute of Management (SIM) untuk mengembangkan bisnis kuliner yang dirintis orang tuanya. Kini ia menjadi pengusaha muda yang mengelola 15 cabang restoran di Malang hingga Pulau Bali.
Restoran Japanese Bento yang ada di kawasan Sukarno Hatta Kota Malang siang itu nampak mulai ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati makan siang. Di lantai bawah beberapa rombongan anak muda terlihat asyik bercengkrama sambil memegang buku menu di tangan mereka. Di lantai dua restoran yang banyak dipenuhi lukisan motor-motor gede itu juga terlihat dipenuhi pengunjung. Di sudut lain nampak seorang pria muda sedang asyik berdiskusi dengan dua rekannya. Lauw Andrianto Saputra, yang siang itu ditemui Malang Post di salah satu restoran miliknya rupanya sedang menunggu beberapa tamu yang ingin menggandeng restorannya sebagai sponsor sebuah acara.
”Silahkan mencoba menu makanan Jepang disini, rasanya dijamin beda karena sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia,” ungkapnya ramah sambil menyodorkan pilihan menu.
Andre, begitu biasa ia disapa, penuh antusias mengenalkan menu-menu inovatif yang ada di restorannya. Senyum ramahnya pun makin lebar ketika memperlihatkan logo baru restoran tersebut yang ia buat sendiri. Selain memberikan inovasi pada menu, ia juga punya segudang ide untuk terus menggaet pelanggan datang ke restorannya. Pengalaman pernah sekolah dan juga bekerja di luar negeri memberinya inspirasi untuk terus berinovasi. Selain restoran Jepang, ia sebenarnya juga mengelola beberapa rumah makan dan juga perusahaan travel. Dan semuanya dikelolanya sendiri sembari menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir di bangku kuliahnya.
Sebelum memutuskan kuliah di Ma Chung, Andre tercatat sebagai mahasiswa di SIM. Sebelumnya ia juga pernah mendapatkan tawaran studi di Nanyang Technological University (NTU) Singapura tapi tidak dimanfaatkan karena jurusannya tidak disukainya. Di SIM, ia adalah penerima beasiswa di salah satu perguruan tinggi besar di Singapura itu. Tinggal di Singapura memberinya banyak pengalaman hidup yang kemudian menjadi bekalnya menekuni bisnis bidang kuliner.
”Di sekolah dulu sering ada kegiatan penggalangan dana yang tentu saja banyak memberi pengalaman bagaimana bisa jualan dan laris,” kata dia.
Hidup di Singapura membuat Andre tak bisa bersantai-santai. Biaya hidup yang mahal menuntutnya untuk bekerja keras dengan mencari kesempatan part time di beberapa perusahaan. Ia pernah bergabung dengan perusahaan Multi Level Marketing (MLM) dan juga menjadi sales untuk jasa menyebar brosur. Karena izin visanya hanya untuk studi, ia harus mencari daerah pinggiran untuk bisa melaksanakan kerja part time nya itu.
”Karena kerja saya dipinggir kota dan sampai malam hari, seringkali saya harus lari-lari mengejar bus terakhir yang beroperasi,” kenangnya.
Pendidikan di luar negeri terpaksa ditinggalkan karena dorongan kuat dalam benaknya untuk membesarkan restoran yang selama ini dikelola orang tuanya. Selain itu passionnya di bidang bisnis memang sudah semakin kuat setelah ditempa dengan pengalaman bekerja di Singapura.
”Orang tua saya tidak memaksa saya pulang, karena keputusan tetap di tangan saya,” kata dia.
Pada tahun 2009 ia pulang ke Malang dan kemudian mendaftar di Jurusan Akuntansi Ma Chung. Saat itu restoran baru dibuka satu di Plaza Araya. Kemudian Andre mengembangkannya di Dieng, Plaza Batu, di Sukarno Hatta, dan Bali. Dalam waktu dekat cabang baru di MOG juga akan segera dibuka. Selain restoran cepat saji, ia juga mengelola beberapa rumah makan yang konsepnya berbeda.
”Saat ini jumlahnya sekitar 15 cabang restoran dan rumah makan yang sudah saya kelola,” ujarnya.
Pria 25 tahun ini mengakui kesibukan bekerja dan tugas kuliah membuatnya belum bisa menyelesaikan skripsi hingga saat ini. Kalau sudah disibukkan dengan urusan restoran, ia pun sampai tidak tidur untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
”Biasanya yang membuat sibuk itu kalau sedang masuk dapur dan mengajari cara memasak menu,” urainya.
Meski demikian, Andre patut diberi acungan jempol karena indeks prestasi kumulatif (IPK) nya masih diatas 3 yaitu 3,6. Walaupun ia tak pernah sempat belajar di rumah namun tak kesulitan ketika di kampus. Sebab yang ia terapkan adalah selalu serius menyimak keterangan dosen di kelas, sekali mendengar ia bisa mengingatnya walau tidak harus belajar lagi.
”Apalagi jurusan saya akuntansi jadi memang tidak butuh hafalan, cukup dimengerti saja,” kata dia.
Disela aktivitas super padatnya di restoran dan di kampus, Andre masih sempat menyalurkan hobinya modifikasi mobil. Ia pun bergabung dengan komunitas Mercedes Benz Indonesia dan cukup aktif mengikuti kegiatan club tersebut. Selain itu biasanya di waktu senggang ia senang memutar DVD film-film kesayangannya.
”Saya paling suka film action, yang gak pakai mikir kalau nontonnya,” ujarnya sambil tertawa.
Diakhir perbincangan, pebisnis muda yang mulai merambah bisnis travel ini mengaku ingin cepat menyelesaikan studinya. Setidaknya tahun ini ia berharap sudah bisa menyandang gelar sarjana dan lebih konsentrasi dengan bisnis yang dikelolanya itu. (Lailatul Rosida)