Canggihnya Hong Kong Menata Kota dan Masalah Sosialnya (1)

Hong Kong Highland, nama akrab Hong Kong, merupakan salah satu dari lima negara besar yang ada di wilayah Cina Daratan. Negara ini memiliki keindahan alam yang menarik dinikmati, dipadu gedung pencakar langit yang terbangun saling berhimpitan. Bagaimana Hong Kong mengatur kotanya, berikut laporan wartawan Malang Post  Poy Heri Pristianto.


Suasana kota yang selalu ramai dan hidup, menjadikan Hong Kong surga bagi para pengunjung atau wisatawan. Malang Post yang bertugas mendampingi tim Arema Cronus away lawan Kitchee Sports Club pada Babak 16 Besar AFC Cup tiba di Hong Kong, sekitar pukul 17.00 PM waktu Hongkong, Senin (11/5) petang. Pesawat Cathay Pasific nomor penerbangan CX80 yang membawa saya dan rombongan dari Bandara Internasional Juanda Surabaya mendarat mulus di bandara Hong Kong International Air Port (HKIA).
Karena baru kali pertama menginjakan kaki di negara ini, saya kagum saat melihat kemegahan dan keindahan HKIA yang berkonsep modern. Bandara berlantai tujuh ini begitu mudah dijelajahi secara simpel dan praktis. Sarana dan fasilitas begitu mendukung para penumpang diantaranya eskalator dan lift yang berfungsi penghubung antar lantai, serta kereta listrik yang menghubungkan antar gate.  
Seluruh penumpang menuju ke pintu imigrasi untuk kontrol paspor dan mendapat stempel dari petugas imigrasi. Kesan berikutnya adalah begitu tertib dan rapinya antrian panjang mengikuti pita lorong. Di batin saya, pemandangan itu jauh dari apa yang kerap terjumpai saat menemui antrian di Kota Malang. Tidak sampai 30 menit, saya mendapat stempel dari petugas imigrasi, yang sempat mengamati saya demi mencocokkan foto di paspor dengan wajah asli saya.
Petang itu, hujan deras mengguyur area bandara dan sejumlah wilayah Hong Kong. Namun, ketika saya mulai keluar dari pesawat, masuk ke ruang kedatangan, hingga hendak meninggalkan dari area parkir, sama sekali tak merasakan kehujanan. Bahkan, parkiran kendaraan besar seperti bus yang menjemput saya dan rombongan bebas dari hujan. Sehingga, badan saya tetap kering, meski berkeringat, karena berjalan kaki sambil membopong tas dengan berat kurang lebih 12 kg yang berisi peralatan atau perangkat tugas jurnalistik.
Sebelum tinggalkan bandara, pengunjung atau wisatawan bisa mampir ke counter informasi di HKIA yang terletak di gerai lorong menuju pintu keluar guna mendapat informasi secara detail tentang Hong Kong. Misal Counter Hong Kong Tourism Board yang menyediakan peta dan obyek menarik di Hong Kong. Selain itu, juga tersedia counter transportasi "Airport Express " dan MTR (Mass Transit Railway) sekaligus bisa beli tiket kereta, atau ke Counter Arrival Hall dan di stasiun. Tak ketinggalan, counter taxi.
Beruntung bagi saya, dengan tiba di Hong Kong pada malam hari. Saya bisa membuktikan kebenaran sebutan Hong Kong sebagai salah satu dari 10 kota yang berpredikat ‘The City Of Light’. Sejak keluar HKIA, saya menikmati barisan gedung pencakar langit, jembatan penghubung pulau bak Suramadu (Surabaya-Madura), jalan bypass yang menembus gunung hingga wilayah pelabuhan peti kemas, seluruhnya sangat indah terhiasi kelap-kelip dan gemerlap lampu. Keindahan itu tidak luntur meski tertutup kabut dan hujan deras.
Baru beberapa jam di Hong Kong, dan menikmati apa yang sudah saya lihat dan rasakan, saya teringat impian Pemda Malang Raya. Mampukah Malang punya jalan bebas hambatan yang menghubungkan antar wilayah seperti di Hong Kong. Sehingga tidak dijumpai kemacetan, seperti yang kini menjadi problem Malang Raya. Tak hanya itu, beberapa wilayah kota di Hong Kong terutama di pegunungan mirip wilayah Kota Batu serta Pujon dan Ngantang di Kabupaten Malang. Jalanan tidak berkelak-kelok seperti jalan provinsi Malang-Kediri. Arus lalu lintas menembus pegunungan dan antar pulau di Hong Kong ini pun lancar.
Selain itu, banyak gedung pencakar langit yang difungsikan antara lain sebagai rumah susun. Bangunan kokoh yang terbangun berhimpitan ini dibangun di kawasan pegunungan. Saking dekatnya dengan gunung, tinggi bangunan ini bisa dibandingkan dengan gunung, bahkan tingginya bisa melebihi tinggi gunung. Drainase jalan raya, di sepanjang jalan yang saya lalui dengan naik bus juga begitu hebat. Tidak ada genangan air seperti yang kerap terjadi di ruas jalan utama kota Malang, meskipun malam itu hujan deras.
Perjalanan lancar dan bebas dari macet membuat prediksi lama tempuh perjalanan naik bus dari HKIA ke hotel, tidak lebih satu jam. Saya dan rombongan pun sampai di Regal Riverside Hotel, kawasan Sha Tin, tempat kami menginap selama di Hong Kong, sekitar pukul 20.00 waktu Hong Kong. Diluar dugaan saya, saya mendapat kamar di lantai 12 dari hotel yang memiliki 15 lantai ini, dan tinggal di salah satu bangunan atau gedung pencakar langit yang dari kejauhan terlihat begitu indah terhiasi gemerlap lampu.(Poy Heri Pristianto-bersambung)